
"Ehemm… kalau begitu langsung saja, Opah memanggil kalian kesini karena ingin menyampaikan jika pernikahan antara Raphael dan Felicya tinggal 2 tahun lagi." jelas Tuan Besar Alaric.
"Jadi Opah berharap kamu bisa lebih mempersiapkan diri sebelum acara pernikahan nanti." sambungnya.
Setelah Tuan Besar Alaric menyampaikan maksud dari pertemuan mereka, seluruh keluarga besar Alaric menganggukkan kepalanya setuju tanpa ada yang membantah.
Begitu juga dengan Kevin yang sependapat dengan Opah nya, walaupun sebenarnya dia sedikit merasa kasihan kepada kakak Es nya karena tidak bisa menikah bersama orang yang dicintainya, siapa lagi jika bukan kakak cantik disampingnya ini.
"Aku menolak." suara dingin itu tiba-tiba mengagetkan mereka semua, kecuali seorang wanita cantik yang tak lain adalah Queen yang memang tidak mau terlibat urusan orang lain.
"Kamu ingin membangkang perintah Opah!?" tekan Tuan Besar Alaric menatap cucunya tajam.
"Aku tidak ingin menikah dengan wanita itu!" tegas Raphael menekan suaranya bahkan pria itu berani menatap mata Opah nya tajam.
"Kurang ajar! Katakan sekali lagi jika kamu berani!" tantang Tuan Besar Alaric marah.
"Aku tidak akan menikahi wanita ular itu!" ucap Raphael tak takut dengan kemarahan Opah nya.
"RAPHAEL!! Jangan jadi tidak tahu diri kamu! Mana janji mu dulu!?" geram Tuan Besar Alaric menunjuk wajah cucunya dengan posisi berdiri.
"Lupakan janji palsu itu." santai Raphael melipat kedua tangannya kepada.
"Heh! Harusnya Opah tau sejak awal aku tidak pernah menerima pertunangan ini, tapi kenapa Opah malah mau menikahkan kami!? Sungguh ide yang gila!" datar Raphael melirik Queen sekilas.
"Aku hanya ingin menikahi wanita yang aku cintai." sumbunya dalan hati.
"Janji palsu? Bagaimana bisa keluarga terhormat seperti kita mengucapkan janji palsu!? Opah bahkan tidak pernah mengajarkan kalian seperti itu!" pusing Tuan Besar Alaric saat mendengar pernyataan yang dikeluarkan cucunya.
Sebenarnya tanpa anak itu bilang pun dia sendri juga sudah tau, jika dari awal cucunya ini memang tidak suka dengan tunangannya, Felicya.
Tapi mau bagaimana lagi pertunangan ini sudah terlanjur terjadi, dia bahkan tidak mengerti bagaimana bisa dia mau menjodohkan cucunya dengan wanita tidak sopan sepertinya.
Yang jelas saat pertama kali dia bertemu dengan Felicya hawa yang dikeluarkan wanita itu juga terasa tidak biasa, sama halnya dengan wanita yang dibawa cucunya ini.
Namun saat diperkirakan lagi hawa yang dikeluarkan wanita ini bahkan lebih tidak biasa daripada hawa yang dikeluarkan wanita itu.
"Aku sama sekali tidak bisa melihat dari Ras mana wanita ini berasal…" batin Tuan Besar Alaric lupa jika wanita yang dia bicarakan bisa mendengar batinnya.
"Kamu akan tau suatu saat nanti, makanya jangan mati dulu~" canda Queen menjawab batin pria itu melalui telepatinya.
"………" seketika Tuan Besar Alaric langsung berhenti membatin.
……………………………………………………
"Hahhh… baiklah seterah, tapi ingat kamu sendiri yang membatalkan maka kamu jugalah yang harus bertanggung jawab!" tegas Tuan Besar Alaric akhirnya pasrah dengan keinginan cucu kesayangannya ini.
Jika boleh jujur dia sendiri juga sangat setuju dengan adanya pembatalan pertunangan antara cucunya dengan wanita itu, dia sekarang benar-benar tidak habis pikir bagaimana bisa dulu dia sangat mudah mengiyakan pertunangan antara cucunya dengan wanita tidak sopan seperti Felicya, seolah-olah dia sedang dihipnotis.
"……" Mendengar persetujuan dari Tuan Besar Alaric seluruh orang yang ada disana menjadi syok berat.
Apakah semudah ini? Bagaimana bisa seorang yang sangat keras kepala dan pantang dilanggar perintahnya dapat dengan gampangnya menyetujui penolakan tersebut?!
"Pah- Ini..." unjar Tuan Alaric memastikan jika Papah nya tidak sakit.
"Tidak masalah, selanjutnya seterah bocah itu saja." ucap Tuan Besar Alaric langsung, "Namun jika nanti terjadi masalah jangan ada yang membantunya!"
"Huft... baiklah." jawab Tuan Alaric tersirat nada cemas, karena bagaimana pun juga Raphael adalah anaknya sendiri, "Semoga pilihan mu tidak salah nak." batinnya menatap anak sulungnya lekat.
Dia bahkan bisa melihat jika anaknya ini sedang dalam suasana hati yang baik, walaupun anak ini dapat dengan rapat menutupinya, tapi sebagai ayahnya dia tau pasti jika anak ini sedang merasa senang.
"Apa yang membuatnya begitu senang?" binggung Tuan Alaric dalam hati, "Tidak seperti biasanya."
"Kak…!" lagi-lagi Kevin memecahkan kebisuan mereka.
"Ah iya kenapa?" jawab Queen cepat karena kaget sudah ditepuk pahanya oleh anak ini, "Ihsss c*bul!" kesal Queen dalam hati.
"Ummm..... Apa kakak juga memiliki seorang tunangan seperti kakak bodoh ku?" tanya Kevin.
"Hey apa yang kamu bilang bodoh?!" unjar Raphael tidak terima.
"Adik kurang ajar seperti dia ternyata berguna juga." batin Raphael kembali mood.
"Hah… Kok belum sih? Kakak kan cantik, mana mungkin belum punya tunangan, pasti banyak yang mau jadi pasangan kakak, aku juga mau loh…" canda Kevin kembali membuat Raphael kesal.
Sepertinya anak ini sengaja ingin membuat kakaknya kesal, lalu tidak lagi, kemudian kesal lagi, benar-benar adik yang kurang ajar.
"Kamu mau jadi pasangan ku??" ucap Queen menyentuh dagu Kevin sengaja menggodanya.
"Blusshh…" saat tatapan mereka bertemu, seketika Kevin merasa jika pipinya memerah malu.
Queen yang melihat pipi anak ini memerah langsung tertawa lucu, "Hahaha… makanya jangan menggoda ku."
"Huhuhu... sial sial sial, padahal aku yang ingin menggoda kakak ini, tapi kenapa malah aku yang kena!?" batinnya kacau karena malu.
Kevin yang tidak tahan ditertawakan oleh keluarganya berlari keluar ruangan entah kemana, dia baru kali ini ditertawakan habis-habisan oleh seseorang.
Disisi lain sepertinya mereka tidak menyadari jika ada seorang pria tampan yang saat ini sedang mengeluarkan hawa hitam dari tubuhnya saking cemburunya dengan sang adik yang sudah berani menggoda wanitanya, padahal dia masih bau susu.
………………………………………………………
Queen yang melihat bocah itu sudah lari terbirit-birit keluar ruangan, langsung menghentikan tawanya dan kembali memasang wajah datar.
"Felicya…? Aku baru menyadari jika hawanya sangat mirip dengan penghianat itu, tapi apa mungkin mereka berdua orang yang sama?" lagi-lagi Queen teringat kembali kenangan masa lalunya yang sangat kelam.
Setiap dia mengingat kenangan masa lalunya pasti emosinya akan langsung tidak terkendali, dan semuanya akibat dari sosok gelap pembawa sialnya tersebut!
"Permisi, saya ingin keluar." tanpa basa-basi Queen langsung beranjak dari tempat duduknya berjalan keluar ruangan.
Raphael yang melihat wanitanya pergi tentu saja akan menyusulnya, pria itu ikut keluar tanpa mengucapkan sepatah katapun kepada keluarganya, masa bodo dengan etika, dia lebih peduli dengan wanita pujaannya.
Saat kedua orang itu sudah pergi dan pintu tertutup kembali, Tuan Besar Alaric langsung menyenderkan tubuhnya yang terasa lemas ditempat duduknya, dia sekarang bisa dengan leluasa bernafas.
Rasa lega muncul ketika wanita yang tak lain adalah Queen pergi dari sini, karena ketika teman cucunya masih ada disini dia sama sekali tidak berani bernafas terlalu kencang, karena takut akan menganggu wanita itu.
"Mi-minum…" pinta Tuan Besar Alaric masih dengan nafas tersengal-sengal.
Mendengar perintah itu mereka tidak langsung mengambilkannya minum, melainkan mereka yang ada di sana merasa bingung kenapa Tuan Besar Alaric terlihat seperti orang yang tidak sehat, jelas-jelas tadi dia terlihat sangat sehat dan segar.
Walau begitu entah itu apa, mereka tidak mau memikirkannya dulu dan tetap mengambilkannya segelas minuman, dan memberikannya kepada Tuan Besar Alaric.
Saat pria tua itu sudah mendapatkan minumannya, dia langsung meminum air tersebut seperti orang yang kehausan, setelah meminum air tersebut nafasnya pun sudah kembali normal.
"Pah... Papah kenapa?" tanya Nyonya Alaric cemas, "Apa Papah sakit?"
"Tidak, tidak apa…" ucap Tuan Besar Alaric pelan.
"Tidak apa apanya?! Jelas-jelas Papah terlihat tidak sehat! Apa perlu aku menghubungi dokter pribadi?" unjar Nyonya Alaric kesal bercampur sedih.
"Sudah sudah, Papah tidak apa-apa… hanya saja…" jeda Tuan Besar Alaric langsung terdiam karena mengingat ancaman yang wanita ucapakan kepadanya.
"Hanya apa Pah?" tanya Tuan Alaric tidak sabar sekaligus penasaran, dia sebenarnya tau jika Papah-nya ini tidak benar-benar sakit, jikapun memang sakit pasti itu luka berat, luka dari luar tubuh bukan dari dalam tubuh pastinya.
Jika menurut tebakannya, Papah-nya seperti dalam kondisi ketakutan sekaligus cemas, dan menurut penglihatannya Papah-nya sedikit terlihat aneh saat wanita yang merupakan teman dari anaknya masih ada disini.
……………………………………………………
Jangan lupa Vote and Like ya guys '-'
.
.
.
.
#Next