The Queen's Destiny Journey

The Queen's Destiny Journey
EPISODE 65



Setelah itu Queen langsung memasuki Mansion-nya ditemani oleh anak lelaki tersebut berserta semua Robot yang ada disana, dan hanya menyisahkan Alvarez, Anak-anak Queen, serta Raphael didepan Mansion.


Anak-anak Queen tidak masuk kedalam Mansion, karena ingin terus memantau mangsa-nya yang ditugaskan oleh Alvarez, dan ternyata Pria inilah yang telah berani mengusik ketuanya dan berani berurusan dengan orang seperti mereka.


Tapi apa manusia ini tidak merasakan bahaya dari mereka? Apa insting-nya begitu payah? Walaupun begitu yang pasti mereka tidak akan segan-segan dengan orang lemah sekalipun.


Alvarez yang melihat Mama-nya sudah masuk kedalam Mansion langsung terseyum, seyum itu menandakan makna bahaya didalamnya, dia juga langsung melirik rekan-rekannya yang ada disana, sambil memberikan isyarat tangan diam-diam.


Anak-anak Queen yang mendapatkan isyarat itu terseyum dalam, mereka tau arti dari isyarat itu, dan isyarat itu hanya bisa dilakukan serta dipahami oleh rakyat Queen, karena isyarat tangan mereka dengan isyarat tangan orang yang ada dibumi berbeda, seperti artinya dan gerakannya.


Jadi jikapun Raphael melihat isyarat yang mereka lakukan, dia tetap tidak akan mengerti.


……………………………


Sekarang ini orang yang akan menjadi mangsa dari anak-anak Queen terlihat tidak terlalu peduli dengan mereka, karena dia masih terfokus menatap tempat terakhir Queen menghilang, dia masih tidak percaya dengan kata-kata yang dikeluarkan oleh wanita pujaannya.


Bukan karena kata pertama melainkan kata kedua, karena jika wanitanya tidak mencintainya dia akan tetap mengejarnya sampai wanita itu mencintainya, tapi apa maksud dari kata kedua?


Tidak ingin menjadi pengganggu? Sebenarnya apa arti dari kata itu? Apa yang dimaksud wanitanya? Dia tidak mengerti apa yang dibilang wanitanya!


Namun lamunannya buyar karena pria sialan itu tiba-tiba membuka mulutnya untuk berbicara kepadanya, tapi terkesan seperti mengejek bukan berbicara.


"Hehehe bayi besar~ Sedang lihat apa kau? Wanita itu sudah tidak ada." ucap Alvarez dengan hawa yang berbeda dari sebelumnya.


"Lebih baik kau pulang dan tunggu hadiah dari kami~ dan jangan terus bermimpi ingin menjadi pendamping wanita itu, apa kamu tidak tau jika angan-angan mu sangatlah melanggar dan terlarang! Huh, hanya seorang manusia apakah pantas bersanding dengan wanita itu?" ucap Alvarez pelan tapi ntah kenapa suara itu berdengung dikepalanya.


Raphael tidak membalas ucapan Alvarez, tapi entah kenapa ada perasaan aneh yang dia terima dari mereka, apalagi hawa mereka menjadi sangat berubah jika dibandingkan saat wanitanya masih ada disini, apa ini sikap asli mereka? Jika iya kenapa dari awal dia tidak tau?


"Aku sepertinya mendapatkan rival yang sulit ditangani." batin Raphael terseyum tipis.


DOOR!!


Bunyi tembakan itu sedikit mengalihkan perhatiannya, ketempat dimana tembakan itu dituju.


Saat dia sudah melihat apa yang ditembak oleh mereka, ternyata sosok itu sangat familiar karena yang ditembak adalah mahkluk aneh yang sering mendatanginya.


Tapi untuk apa mahkluk itu ada disini? Dan kenapa dia muncul didepan banyak orang?


Tapi yang menjadi titik utama perhatiannya yaitu kenapa orang-orang ini dapat melihat mahkluk itu? Padahal anak buahnya saja tidak bisa melihat mahkluk itu, sebenarnya siapa mereka?


"Oh? Kenapa kamu menembak udara?" ucap Alvarez melirik rekannya yang menembak mahkluk itu.


"Maaf, sepertinya ada yang rusak dengan senjata ini." jawabnya.


Mereka berpura-pura tidak menembak mahkluk itu, dan mengalihkannya seolah-olah mereka hanya menembak udara kosong, karena mereka berfikir jika Raphael tidak bisa melihat mahkluk itu dan memang dasarnya manusia tidak bisa melihat makhluk-makhluk kuno tersebut.


Tapi ternyata mereka salah besar karena Raphael dengan jelas bisa melihat wujud mahkluk itu, tapi karena dia melihat jika orang-orang ini berbicara seolah-olah mereka tidak menembak sesuatu, makanya dia hanya diam lalu melihat apa yang dilakukan oleh orang-orang ini selanjutnya.


"Ternyata benar kecurigaan ku, mereka bukan orang biasa." batin Raphael terseyum smirk, dia cukup senang karena bisa mendapatkan rival yang terlihat lebih hebat dari yang dia kira, "Sepertinya ini akan menantang." lanjutnya.


Namun saat Alvarez melihat jika sekarang sudah hampir sore, akhirnya dia sudah tidak ingin melanjutkan perdebatannya lagi dan memilih untuk menyudahinya.


Tanpa berbicara sepatah katapun Alvarez masuk kedalam gerbang Mansion meninggal Raphael begitu saja.


Pintu gerbang depan cepat tertutup, Raphael sudah tidak bisa melihat sosok pria rivalnya itu, dan hanya bisa melihat beberapa pria yang menutup wajahnya dengan topeng, yang memang sejak awal sudah ada diatas Pos penjaga dekat gerbang.


Lalu karena dia melihat jika dia benar-benar tidak bisa menemui wanitanya sekarang, akhirnya dia memutuskan untuk pulang kembali ketempatnya.


"Huft... its okay, aku masih bisa menemui wanita ku." gumam Raphael berbalik menuju mobilnya.


Saat sudah dimobil, Raphael melirik sekilas kearah orang-orang yang dia yakini sebagai anak buah wanitanya, mereka terlihat seperti sedang mengawasi sesuatu.


Bahkan mereka sampai mengabaikannya yang jelas-jelas merupakan rival mereka.


"Mereka lagi mengawasi apa?" batinya binggung kenapa orang-orang itu seperti sedang mencari sesuatu, sambil memegang senapannya seolah-olah mereka seperti ingin menebak seseorang.


Tapi karena itu bukan urusannya, dia kembali menginjak pedal gasnya dan melaju dengan kecepatan tinggi menuju Mansion pribadinya yang ada dipusat Kota.


…………………………………


"Tak disangka kita mendapatkan mangsa lain dan ternyata sangat gelap." ucap salah satu anak Queen yang bertugas menjaga Pos Mansion.


"Kau benar, tapi kenapa mahkluk ini ada disini? Dan aku tidak pernah menemui mahkluk seperti itu." balas yang lainnya.


"Mungkin mereka spesies baru." ucap salah satu dari mereka ngawur.


"Ada-ada aja." setelah itu mereka langsung tertawa senang dan langsung menuruni gerbang dan memakan inti spritual dari mahkluk gelap itu.


Yah walaupun mereka masih keturunan manusia QI tapi mereka juga keturunan Mutan, jadi wajar saja jika mereka memakan inti spritual mahkluk aneh itu.


Namun sepertinya mereka sama sekali tidak tau siapa sebenarnya mahkluk itu, begitu juga dengan Alvarez, karena yang orang tau identitas mahkluk itu hanya Queen, Alcifer, dan Ketujuh Penjaga Menara Istana, selain itu hanya orang-orang dari bangsa mereka sajalah yang mengenalinya.


_Di dalam Mansion QueenZell_


Terlihat seorang pria tampan yang sedang berlari dengan langkah tergesa-gesa karena ingin menemui Mama-nya, dia berlari menuju kamar Queen.


Tapi saat dia ingin masuk kedalam kamar Mama-nya ternyata ada orang yang menghalanginya, dan dia adalah anak lelaki tadi.


Anak itu sedang berdiri tidak jauh dari kamar Queen.


"Jika kau ingin mati silahkan masuk." datarnya tanpa melihat Alvarez dan masih fokus membaca buku yang ada di tangannya.


"Hey bocah kau ingin menghalangi ku yah?" sinis Alvarez masih ingin masuk kedalam kamar Queen.


"Yasudah silahkan masuk, jika kau beruntung kau akan mendapatkan hukuman darah saja, jika tidak kau akan mati." datarnya lagi.


"Cih, kau ingin menakut-nakuti ku, bocah?!" unjar Alvarez keras kepala.


"Silahkan masuk Tuan, nanti saya akan siapkan peti mati untuk mu." lagi-lagi suara datar itu yang keluar dari mulut anak lelaki tersebut, dan itu yang membuat Alvarez semakin kesal.


"Ckckck... kau masih muda tapi sudah kehilangan ekspresi!" ledek Alvarez sengaja ingin memancing kemarahan bocah itu.


"Kau juga masih bocah." balasnya datar.


"Tapi aku lebih tua dari mu, bocah!" unjar Alvarez membenarkan.


"Oh." singkatnya datar.


"Hufft...!! Sabar... sabar... jangan bunuh... sabar..." batin Alvarez menenangkan dirinya sendiri.


"Walaupun bocah tengik ini menyebalkan tapi dia rekanmu..." batinya lagi.


…………………………………


Jangan lupa Like and Komen ya guys


.


.


.


.


.


#Next