The Queen's Destiny Journey

The Queen's Destiny Journey
EPISODE 73



Saat pria itu sudah meninggalkannya sendiri, Queen langsung menatap lukisan itu dengan senyum misterius.


Dia menyentuh lukisan itu lembut, "Sudah ratusan tahun kamu disini, dan lihatlah Martial yang ada didalam dirimu sudah banyak berkurang, apa kamu masih mau tetap disini?" tanya Queen kepada lukisan itu melalui kemampuan telepati tanpa batasnya, yang dapat membuatnya bisa berkomunikasi kepada orang, hewan, maupun benda sekalipun.


"………" lukisan itu tidak menjawab pertanyaan Queen sama sekali.


"Hahh... kalau begitu terserah kamu saja, tapi maaf jika aku lancang!" batin Queen menekan kekuatan pendeteksi hukum ruangnya kedalam Martial lukisan itu secara paksa.


Namun saat Queen sudah hampir menekan lukisan itu, ada beberapa perlawanan dari komponen Martial yang ada didalam sana, apalagi lukisan itu tidak tau jika Queen adalah Sang RatuNa yang sangat dihormati oleh orang-orang bahkan Hewan Mitologi dan Benda Artefak sekalipun.


Tapi walaupun lukisan itu menolaknya dengan keras, tapi tetap seja penolakan itu bukanlah masalah besar baginya.


"Ternyata sesuai dengan tebakan ku, jika kau masih memiliki tuan, cukup membuatku terkejut…" smirk Queen melepaskan kembali sentuhannya dari lukisan itu, setelahnya dia langsung menghampiri salah satu Maid yang ada disana, berniat menanyakan ruang utama yang ada di Mansion ini.


"Permisi, dimana ruang utamanya?" sopan Queen kepada wanita yang terlihat sudah berumur 40 tahunan.


"Oh ternyata kamu, mari saya antar Nona." ramah wanita paruh baya itu karena tau jika dia adalah teman dari Tuan Mudanya.


Queen pun menerima ajakan wanita paruh baya itu dan berjalan beriringan menuju ruang utama Mansion tersebut.


"Maaf Bi, jika boleh tau Bibi sudah berkerja disini berapa tahun ya?" tanya Queen berbasa-basi.


"Sudah lebih dari 20 tahun Nona." ucapnya tersenyum ramah.


"Emm cukup lama yah..." balas Queen canggung.


Tak berapa lama mereka pun akhirnya sudah sampai didepan pintu ruang utama yang ada di Mansion tersebut.


"Ini ruangannya Nona, silahkan masuk dan tolong jaga Etika dan Etiket Nona." ucapnya menasehati Queen sambil membungkukan badannya lalu berbalik pergi.


"Kenapa wanita itu terlihat gugup?" gumam Queen bingung sesaat namun dia dengan cepat langsung membuang pemikirannya, dan segera membuka pintu ruangan itu pelan.


Walaupun Queen hanya mendorong pintu itu pelan namun ternyata pintu itu langsung dengan otomatis akan terbuka saat ada seseorang yang memegang pintu tersebut.


"Cukup canggih." ucap Queen menilai kecanggihan pintu tersebut yang bahkan dia sendiri sedang berada ditengah-tengah suasana yang menegangkan, karena ternyata didalam sana bukan hanya ada pria itu saja, melainkan keluarganya pun juga ada disana.


"Ada acara kah?" cengok Queen tak mengerti kenapa ada begitu banyak orang disini.


"Entah kenapa aku jadi merasakan hawa yang aneh disekitar sini…" sambungnya dalam hati.


"Kakak kemarilah!" panggil Kevin girang mengagetkan beberapa orang yang ada disana.


"Umm." angguk Queen pelan berjalan mendekati Kevin yang disebelahnya ada seorang pria yang tak lain adalah Raphael sendiri.


Saat Queen sudah duduk disamping Kevin anak itu langsung memeluk tubuh Queen gemas, padahal dia yang anak kecil tapi kenapa malah Queen yang dipeluk dengan gemas?


"Lihat saja kau bocah!" sinis Raphael murka dalam hati melihat adiknya seperti sedang memanas-manasinya.


"Ehemm!" tiba-tiba terdengar suara orang batuk yang berasal dari pria paru baya yang ada disana.


Karena suara batuk tersebut semua orang yang ada disana seketika langsung memperhatikan pria paru baya itu, termaksud Queen sendiri.


"Kevin, siapa wanita ini?" tanya pria paruh baya itu dengan intonasi yang lebih mendominasi daripada saat dia terbatuk sebelumnya.


"Dia istri masa depan ku Pah..." jawab Kevin tersenyum tanpa beban.


"Heeeeh? Istri?" bingung Queen mengedipkan matanya berkali-kali, dia hari ini seperti sudah beberapa kali dipermainkan oleh anak kecil bermuka dua ini.


"APA?!!" kaget mereka bersamaan.


"BRAAKKK!" Raphael mendobrak meja yang ada disana hingga retak, membuat mereka kembali terdiam, sedangkan Queen masih dalam keadaan kebingungan.


"Apa katamu tadi?!" datar Raphael menatap tajam adiknya.


"Dia akan menjadi istriku." jawab Kevin sengaja memanas-manasi kakaknya ini.


"Katakan sekali lagi!!" geram Raphael dingin menatap adiknya sengit.


"Dia akan menjadi istriku!" unjar Kevin terseyum meledek.


"PRANGKK!" Raphael dengan gilanya melempar sebuah gelas kaca kearah lengan atas Kevin hingga terlihat bercah darah segar disana walaupun hanya sedikit.


"Ku peringatkan kamu agar tidak berbicara sembarangan lagi! Jika tidak aku akan merobek lidah tidak berguna mu itu!!" tegur Raphael tidak berperasaan memandang adiknya dengan tatapan pembunuh.


"Ternyata kakak sama sekali tidak bisa menahan emosinya sendiri, heh! Padahal aku tadi hanya mengetes saja." ejek Kevin.


"Dan ternyata kakak benar-benar menyukai, bahkan sudah mencintai wanita ini." sambungnya.


"Tidak apa kak, ini hanya luka kecil." jawab Kevin tersenyum hangat.


"……" Queen tak menjawab melainkan lebih memilih untuk diam.


"Sudah sudah kalian diamlah, Opah kalian akan datang sebentar lagi." lerai pria paru baya tersebut yang tak lain adalah ayah dari Raphael dan juga Kevin.


"Opah? Apa kamu punya kakek?" bisik Queen kepada Kevin, dan dibalas anggukan anak itu.


Saat mereka semua sama-sama terdiam tiba-tiba Queen merasakan hawa yang aneh mendekat kearah sini.


"Hawa itu kenapa semakin kuat? Apa benar hawa itu ada disekitar sini…?" batin Queen memejamkan matanya, namun seketika dia langsung membuka matanya lebar.


"Hawa itu dari luar!" unjar Queen menolehkan kepalanya langsung kearah pintu ruang utama, bertepatan dengan terbukanya pintu itu.


Saat pintu itu terbuka terlihatlah seorang pria yang masih tampak awet muda dan hawa disekitar pria itu sangatlah mendominasi.


"Ternyata hawa tadi dari pria itu!" unjar Queen menatap lekat wajah dari pria tampan tersebut.


"Huft.... Akhirnya aku tau jika dia adalah tuan dari Pohon Suci dan Lukisan yang aku temui tadi! Umurnya juga sudah cukup dewasa." ucap Queen akhirnya mengetahui siapa tuan dari kedua Artefak tersebut.


NOTE : Bagi Queen orang yang umurnya baru ratusan tahun masih terbilang anak kecil, lalu orang yang berumur puluhan ribu tahun terbilang remaja baginya, ratusan ribu tahun sudah terbilang dewasa, kemudian bagi orang yang berumur jutaan ribu tahun sudah termaksud matang baginya.


Pria itu yang sendari tadi ditatapan oleh Queen ternyata menyadari tatapan yang dia arahkan kepada dirinya, "Siapa wanita itu?" batin pria yang tak lain adalah Opah dari Raphael dan juga Kevin.


Pria itu merupakan pemilik asli dari setengah kekayaan serta kekuatan dari keluarga Alaric, dan merupakan Tuan Besar disana.


…………………………………………………………


Setelah pria itu sudah ada disana dia langsung duduk dikursi khusus yang terlihat sedikit berbeda dari kursi lainnya.


"Siapa orang asing itu." tanya Tuan Besar Alaric menatap Queen dengan tatapan menekan.


"Apa dia ingin menekan ku dengan kekuatan itu? Hehehe tidak mungkin terjadi…" batin Queen tertawa lucu.


"Aneh, kenapa wanita ini masih terlihat santai?" heran Tuan Besar Alaric masih terus menekan Queen.


"Wanita cantik ini teman kakak Opah." jawab Kevin kali ini serius, tidak main-main lagi.


"Apa benar hanya teman? Apa bukan simpanan?" ucap Tuan Besar Alaric sembarangan.


"Opah!!" seru Raphael tidak terima jika wanitanya dicap sebagai wanita simpanan.


"Kenapa marah? Apa perkataan Opah salah?" tanya Tuan Besar Alaric kepada Raphael, yah walaupun Tuan Besar Alaric terlihat sedang bertanya, tapi dia tetap tidak akan peduli jika Queen memang benar-benar bukan wanita simpanan cucunya.


"Pantaskah kau mengatakan diriku sebagai wanita simpanan?!" ucap Queen dingin dalam hati sambil menekan balik Tuan Besar Alaric diam-diam, tatapan kekosongan terlihat sekilas olehnya dan itu cukup, bahkan sangat cukup membuat dia tertekan.


"Uhhgg…… Wa-nita ini berbahaya! Bagaimana bisa cucuku berteman dengan wanita seperti ini?!" cemasnya dalam hati.


Pria itu sebenarnya tidak khawatir dengan nyawanya sendiri, karena dia lebih khawatir dengan nyawa cucunya itu, karena cucunya sangatlah berharga bagi pria tua ini.


"Berteman? Bagaimana mungkin aku mau berteman dengan seorang manusia? Tapi anggap saja kedatangan ku disini sebagai hadiah karena kau sudah menjaga Pohon Suci dan Lukisan itu dengan baik ditempat yang kotor ini." Queen menjawab ucapan Tuan Besar Alaric melalui telepati.


"Di-dia mampu menerobos Formasi Roh ku? Dan bisa memasuki alam batinku?! Di-dia bukan manusia!" seru Tuan Besar Alaric kali ini benar-benar nyakin jika wanita itu bukanlah manusia seperti dirinya.


"Hehehe… bukan manusia? Tentu saja bukan~ Tapi ku ingatkan kau agar tidak mengatakan apapun tentang diriku kepada orang-orang, jika tidak lihatlah akibatnya!" ancam Queen.


"……" Tuan Besar Alaric hanya bisa terdiam dan mengikuti semua kemauan wanita yang mampu menekannya ini, tapi walaupun begitu dia harus tetap waspada dan tidak gegabah jika berurusan dengan wanita ini, karena dia tau jika wanita ini jauh lebih kuat daripada dirinya.


"Siapa dia sebenarnya?" bingung pria itu menjadi sebuah teka teki yang entah kapan bisa terungkap.


"Sepertinya aku harus lebih menjaga cucuku ini." lanjutnya sambil melirik cucunya yang tidak tau apa yang terjadi barusan kepada dirinya, begitu juga dengan orang-orang yang ada disana yang hanya terdiam menunggu dia berbicara.


……………………………………………


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya '-'


.


.


.


#Next