The Queen's Destiny Journey

The Queen's Destiny Journey
EPISODE 96



Pedang, Belati, dan Batu Pelindung Kevin berikan secara cuma-cuma. Senjata yang ia berikan sebenarnya sudah dilapisi racun Es, hanya untuk memperkuat Senjata Petarung tersebut.


"Woww keren!" decak Arcas kagum disetujui oleh Keanu.


Raphael melihat senjata yang diberikan oleh adiknya, dia merasa jika senjata ini mengeluarkan hawa dingin yang berbahaya daripada Bunga Lotus yang melindungi keluarganya.


"Ada yang aneh dengan senjata ini." gumam Raphael lagi-lagi terdengar oleh pendengaran Kevin yang tajam.


"Itu racun Es, anggap saja sebagai bonus kalian." cuek Kevin.


Anak itu melangkah maju satu langkah, ia langsung membuat sebuah jarum Es berwarna biru pekat. Angin tiba-tiba terasa dan udara menjadi sangat sejuk. Tak lama jarum besar itu mendobrak udara kosong namun terdengar suara tabrakan yang sangat besar.


BOOM!!


KRAK…KRAK…TRANG!!


Ternyata didepan mereka terdapat sebuah pintu transparan, dan didalam sana merupakan inti dunia dari tempat tersebut.


Di sana terdapat sebuah lereng yang suhunya dapat melelehkan manusia dalam hitungan detik, banyak monster yang terbuat dari bebatuan serta lahar api didalam sana.


Di sana juga merupakan tempat singgah Beast pemilik Api Pemurnian. Tanpa menunggu lagi Kevin dengan percaya diri langsung masuk kedalam tanpa perlindungan apa-apa. Jangan ditanya tubuhnya bahkan sudah sangat dingin melebihi Es manapun.


Dia juga tak lupa membuat kabut Es di sekeliling Raphael dan kedua sahabatnya agar mereka bisa masuk kedalam dan mengalahkan monster-monster itu berserta Beast tersebut.


Saat mereka sudah masuk, pintu transparan kembali terbentuk, yang tadinya sudah hancur karena jarum besar milik Kevin. Pintu itu terbentuk dan kembali menutup tempat keluar mereka dari sana. Namun itu bukan masalah bagi Kevin, dia masih tetap mengeluarkan ekspresi cueknya.


Dengan santai dia mengeluarkan satu buah minuman dari Ruang Penyimpanannya, minuman itu tentu saja susu full cream kesukaannya.


Melihat Kevin menyedot susunya dengan santai, Raphael dan kedua sahabatnya memberikan tatapan aneh kepada anak itu.


"Ada apa? Sana pergi dan kalahkan pengganggu itu!"


"Bi-Bisakah kita kembali saja?" ucap Keanu sedikit gugup.


"Pengecut! Cepat serang mereka dengan skill Mafia kalian. Kalian juga tak perlu takut terkena api, karena aku sudah memberikan perlindungan kepada tubuh kalian."


Secara mengejutkan, Raphael tanpa mengucapkan kata-kata langsung melesat ke depan, saat ia melaju lebih dalam ketempat tersebut, di sana mulai terlihat monster yang terbuat dari batu yang suhunya sangat panas.


Dengan pedang yang sudah diberikan oleh Kevin, Raphael menebas akurat kearah leher monster batu itu, dan monster itupun berubah menjadi batu-batu kecil.


"Terlalu mudah?"


"Heh jangan meremehkan kekuatan mereka. Lihat baik-baik!" suara Kevin terdengar di atas udara, anak itu terduduk di atas Awan Es, dengan Bunga Lotus Putih yang melindungi keluarganya yang ada disampingnya.


Pria itupun kembali menatap lekat kearah monster batu yang sudah dia kalahkan tadi. Batu-batu yang membentuk tubuh monster itu sudah berserakan di tanah. Namun tanpa diduga batu-batu itu bergerak sendiri dan menyebar secara terpisah kemana-mana.


Dalam sekejap tanah yang mereka injak bergetar. Raphael dan kedua sahabatnya langsung waspada dengan sekelilingnya. Pada akhirnya mereka mulai serius.


Lebih baik mereka mati dalam pertempuran secara terhormat, daripada mati dalam diam dengan keadaan konyol!!


Batin Arcas dan Keanu melenyapkan ketakutan mereka, karena bagaimana pun juga mereka akan sering melihat monster seperti ini bahkan lebih menakutkan daripada ini.


Terlihat segerombolan monster dengan berbagai bentuk aneh, bukan hanya bentuknya yang beragam, tapi tubuh batu mereka juga berbeda-beda. Ada yang berwarna merah panas, hitam arang, dan hitam kehijauan.


Monster Batu yang melihat ada tamu yang tak diundang memasuki tempat mereka langsung berteriak marah. Teriakannya terdengar serak hingga terasa menakutkan.


Dengan brutal mereka berlari kearah Raphael dan kedua sahabatnya. Kevin yang melihat itu masih terlihat santai dan cuek.


"Mereka datang karena monster yang tadi kakak bunuh menyebarkan sisa-sisa Martial-Nya yang ada didalam batu untuk memanggil teman-temannya." jelas Kevin dari atas masih nikmat meminum susu kesukaannya.


Raphael dan kedua sahabatnya dengan sigap langsung mengeluarkan skill petarung yang sering mereka pakai saat misi dulu.


Trang!


BRAKK!


Raphael memisahkan kepala monster itu dengan cara yang sama pada saat ia mengalahkan monster batu tadi. Ia terus memutar pedangnya tanpa kesulitan.


Tak mau kalah Keanu dan Arcas juga ikut menyerang dengan skill kebanggaan mereka.


Raphael mengangkat salah satu monster batu itu lalu memutar tubuhnya sehingga beberapa monster yang mendekat kearahnya langsung terdorong kebelakang karena tertabrak monster batu yang ia putar.


Kraak…


Tiba-tiba terdapat bayangkan gelap muncul dibelakangnya, namun sebelum monster itu menyerang, Raphael sudah lebih dulu menangkap kepala monster itu lalu membantingnya sekuat tenaga kearah depan.


BOOM!!


Asap mengepul saat Raphael membanting monster batu itu.


"Hosh…Hosh…" deru nafas Raphael terdengar jelas. Pria itu sudah sedikit lelah tapi dia harus tetap bertahan karena monster yang akan datang didepannya jauh lebih kuat daripada monster ini.


Tak hanya Raphael, Arcas sendiri sudah tepar di tanah karena kelelahan. sedangkan Keanu memaksakan dirinya agar tetap berdiri seimbang.


"Lumayan, namun kemampuan kalian masih payah. Oh iya monster batunya masih belum semuanya mati loh…" ucap Kevin.


Dengan cepat mereka kembali dalam posisi siap bertempur, melupakan rasa lelah mereka tadi. Tak lama kemudian terlihat sosok monster batu yang tiga kali lebih besar daripada monster batu yang mereka lawan tadi.


Monster ini juga memiliki beberapa jenis batu ditubuhnya. Ada yang berwarna merah, hitam, hijau lumut, dan coklat.


Monster itu yang melihat jika pasukannya dibantai habis oleh Raphael dan sahabatnya langsung berteriak marah dengan menghentakkan kakinya murka.


GROOAARRK…!!!


Raungnya marah. Dengan langkah gila monster itu melompat kehadapan mereka begitu cepat. Tanah tiba-tiba terbelah menjadi beberapa bagian karena monster itu melompat.


Didalam tanah terdapat rasa panas yang mereka nyakini sebagai lahar api. Dengan waspada Raphael dan sahabatnya melompat dan berlari menjauhi retakan tersebut yang terus-menerus bertambah.


"Naif." gumam Kevin menggelengkan kepalanya. Entah untuk siapa kata itu.


_POV Raphael_


"Apa dia pemimpin dari Monster Batu? Sepertinya kekuatannya sangat kuat. Aku tidak mungkin menebas lehernya dengan pedang kecil ini. Mau tak mau aku harus menggunakan cara licik untuk mengalahkannya." batinku.


"Kita buat rencana." ucapku berseru kepada kedua sahabatku.


"Hah! Apa masih sempat?!" ucap Arcas berteriak kepadaku dari kejauhan.


"Sempat ya? Sepertinya memang tidak akan sempat, tapi jika memang sudah sangat terpaksa kenapa harus memikirkan yang namanya sempat?" ucapku.


"Kalau begitu rencana apa, cepat katakan! Kita tidak mungkin berlarian kesana-kemari terus-menerus 'kan?!" ucap Keanu.


Aku mengangguk setuju. Lalu aku langsung menatap intens setiap pergerakan monster tersebut berusaha mencari kelemahan.


Tak berapa lama setelah aku mengamati sambil berusaha menghindari serangannya, aku akhirnya menemukan kelemahannya.


Dia bergerak cukup lambat karena tubuhnya yang besar, dia juga tidak bisa mengangkat tangannya lebih dari atas perut, dia juga tidak bisa memutar kepalanya. Ya itulah kelemahan dari monster tersebut, lucu sekali.


Lalu secara tak sengaja atau memang sebuah keberuntungan, aku menemukan beberapa keuntungan dari serangannya. Lebih tepatnya saat ia menghentakkan kakinya sehingga tanah menjadi retak.


Dan seperti aku sudah tau bagaimana caranya menghentikan monster pengganggu itu.


…………………………………………


Jangan lupa LIKE and VOTE 🥺


(Bagi yang mampu aja ya)


.


.


.


.


#Next