
_Ditempat Queen dan Raphael Berada_
"Raphael dasar kamu tidak sopan! Cepat turunkan aku!" serunya memerintah, tapi tidak dihiraukan pria itu.
Queen padahal sudah berusaha keras untuk melepaskan gendongan ini dengan mencengkeram kuat pundak pria itu, tapi nihil dia sama sekali tidak bisa lepas darinya.
"Berhenti berteriak, apa kamu tidak melihat ada banyak orang disini?" bisik Raphael membuat Queen langsung berhenti berteriak.
"Ak-akhhh kenapa tidak bilang dari tadi! Kau pasti sengaja bukan!" seru Queen menenggelamkan kepalanya keleher pria itu.
Namun sepertinya wanita ini tidak menyadari jika tindakannya membuat pria itu merasakan geli disekujur tubuhnya, ada rasa yang membuatnya ingin menerkam wanita ini, apalagi saat dia merasakan deru nafas lembut dari wanita pujaannya itu.
Namun untuk sekarang dia harus lebih menahan dirinya sebelum wanita ini benar-benar mencintainya juga, jadi dia hanya bisa menikmati sensasi ini, jarang-jarang dia dapat merasakan moment seperti ini bersama wanitanya.
"Aku akan secepatnya menjadikan mu sebagai miliku, Anasya." batinnya.
Namum sepertinya kedua orang itu tidak menyadari jika ada sepasang mata kecil yang terlihat sedang menghina kelakuan kakaknya yang mengambil keuntungan dari kakak cantik itu.
Setelah berjalan beberapa meter dari sana akhirnya mereka sampai juga di area parkiran dimana mobil Raphael terparkir, sedangkan semua Bodyguard Raphael yang melihat kedatangan Tuannya segera membuka pintu mobil tersebut.
Walaupun sekarang ini muka mereka terlihat sangat datar, tapi tidak dengan batin mereka yang terus berkencambuk memikirkan siapa wanita yang diangkut oleh Tuannya itu.
Queen yang menyadari jika sekarang sudah tidak ada banyak orang, dan hanya Bodyguard pria ini sajalah yang ada disana, segera memberontak kembali meminta untuk dilepaskan.
Namun sebelum dia kembali memberontak dia malah dilempar kedalam mobil tersebut, diikuti oleh pria sialan itu.
"Mau kau bawa kemana aku hah? Cepan bukan mobilnya!" seru Queen berusaha membuka pintu mobil itu namun lagi-lagi hasilnya nihil.
"Kenapa kau selalu mengganggu ku hah? Cepat lep-" ucapannya langsung terhenti saat Raphael tiba-tiba menciumnya.
Raphael menekan kepala Queen agar mereka bisa lebih leluasa saat berciuman, dia juga memberikan perintah tangan kepada supirnya agar mengaktifkan penghalang tengah mobil sehingga mereka tidak akan diganggu.
Queen yang mendapatkan ciuman lembut itu masih tercengang dan belum tersadar dari lamunannya.
Seyum tipis disela-sela ciuman mereka tercetak jelas disudut bibir Raphael, pria itu merapatkan posisi mereka lagi dengan memegangi pinggang Queen erat.
Kelopak mata Raphael makin lama semakin tertutup menikmati ciuman yang sudah lama dia tunggu-tunggu setelah ciuman terakhir mereka, mungkin sekarang ciuman dari wanita ini sudah menjadi hobi baru baginya.
Saat Raphael ingin membuka mulut Queen agar bisa lebih memperdalam ciuman mereka, namun gagal karena kesadaran Queen sudah kembali dan dia langsung mencengkeram tangan Raphael keras.
Dan mendorong tubuh Raphael dengan susah payah, sambil mengatur deru nafasnya cepat, "Hahh... Hah.. ka-kau... hah.. baj*ngan!" ucap Queen disela-sela deru nafasnya.
"Ini hanya hukuman kecil dariku karena kau terus memberontak ingin keluar." ucap Raphael santai, melipat kedua tangannya didada, posisinya sungguh sangat mendominasi.
"Hahh? Hukuman? Ciuman itu kau bilang hukuman?" unjar Queen tak percaya.
"Hmm." jawabnya.
"What?! Kalau begitu kau sudah banyak berciuman dengan para wanita yang pernah menolakmu? Begitu?!" raut wajah menghina pun tercetak jelas diwajah Queen.
Degh!
"Tidak!" unjarnya langsung, dia lagi-lagi membuat wanita ini salah paham terhadapnya.
"Apanya yang tidak? Sudah jelas kau sudah banyak berciuman dengan para wanita, Hais... pantas saja kau terlihat sangat mahir." hina Queen.
"Bukan seperti itu, kau salah paham." unjar Raphael mencoba menjelaskan.
"Salah paham apanya? Sudah jelas kau sudah banyak berciuman dengan banyak wanita! Jangan bilang kalau kau juga sudah pernah tidur dengan wanita-wanita itu? Hemm..." ledek Queen kepada Raphael.
"So harusnya kamu tau perkataan pertama adalah yang paling benar, daripada perkataan yang kedua dan seterusnya!" unjar Queen lagi tidak memperdulikan pria itu.
"Cukup!!" bentak Raphael mengagetkan Queen, pria itu juga mencengkram kuat tangannya.
"Hissst... lepas!" pinta Queen menjulurkan tangan satunya lagi berniat melepaskan cengkraman itu, namun tangannya kembali dicengkeram olehnya.
"Ada apa ini... Pria itu kenapa? Bukankah aku tidak salah berbicara?!" batin Queen dengan pelan mencoba menatap lensa mata Raphael.
Tepat saat dia sudah mengangkat kepalanya, pria itu mencengkeram kuat dagunya.
"Ingat baik-baik hanya kau wanita yang pernah mendapatkan ciuman dariku, dan aku tidak pernah melakukanya kepada wanita lain." jelasnya dengan suara dingin.
"O-okay.... aku mengerti, lepaskan sakit!" gugup Queen, "Dia bisa membuat ku tertekan…? Mustahil!" batin Queen tidak percaya dan sedikit linglung.
Disisi lain Raphael juga tersadar jika dia baru saja melukai wanitanya, dengan cepat dia melepaskan cengkramannya dan melihat ada bekas merah dikedua pergelangan tangan wanita itu.
Queen melihat kedua tangannya memerah sedikit marah, namun sebisa mungkin dia tahan, karena dia sendiri tidak mau mencari keributan lainnya.
"Maaf… aku tidak sengaja..." sesalnya, "Kemarikan tanganmu, biar ku obati…" pintanya saat dia sudah mengeluarkan kotak P3K yang ada di mobilnya.
"Tidak! Memar ini harus segera diobati!" tolaknya menarik paksa tangan Queen, pria itu dengan cepat membuka kotak P3K dan mengambil obat penghilang memar.
"Cih! Padahal dia sendiri yang membuat ku seperti ini!" batin Queen datar.
"Apa aku sudah keterlaluan?" sedih Raphael melihat kedua tangan lembut ini harus terluka karena ulahnya sendiri.
"Aku berjanji dilain waktu aku tidak akan mengulanginya lagi." sambungnya sambil mengobati tangan Queen penuh perasaan dan ketelitian.
Setelah mengobati tangannya, Queen kembali tersadar dengan bocah lelaki yang tidak lain dan tidak bukan adalah Kevin.
"Dimana anak itu…? Apa dia tertinggal?!" panik Queen.
"Tenanglah dia ada dimobil belakang." jawab Raphael menunjuk mobil yang ada dibelakang mereka.
"Syukurlah…" lega Queen mengusap dadanya sendiri.
"Apa dia mengkhawatirkan bocah itu?" batin Raphael saat melihat seberapa leganya wanita itu saat tau dimana adiknya berada.
"Ck! Sepertinya anak itu berhasil membuat wanitaku terjerat olehnya." sambungnya.
"Ngomong-ngomong adikmu sangat menarik yah…" ucap Queen tiba-tiba.
"Menarik? Dari mananya? Dia hanya anak kecil, huh!" kesal Raphael saat mendengar adiknya dipuji oleh wanitanya, "Dia bahkan tidak pernah memujiku…"
"Pfft~ Ahahah… ternyata kau bisa kesal juga…" tawa Queen setelah melihat wajah tampan itu terlihat kesal.
"Tentu saja bisa! Aku juga manusia." kesalnya, entah apa lagi ini, sekarang sikap pria itu bersikap seperti anak kecil.
"Em~ Jujur aku tidak menyangka jika pria dingin seperti mu bisa mempunyai adik yang sangat imut…" senyum cerah tiba-tiba terukir jelas diwajah Queen.
"Shit! Berhenti memuji anak ingusan itu!" unjar Raphael cemburu, "Kenapa bukan aku saja yang kau puji…" lanjutnya pelan bahkan sangat pelan.
Tapi Queen dapat dengan jelas mendengar gumaman pria itu, dan tentu saja Queen langsung mengubah senyumnya menjadi senyuman tidak berdaya.
"Biar kutebak, kamu kesal karena aku memuji adikmu bukan? Apa kamu cemburu?" ucap Queen memandang lembut lensa mata pria tampan itu.
Mendapatkan tatapan lembut dari wanitanya membuat pria tampan itu merasa sangat senang, jika bisa dia mau menghentikan waktu yang ada disekitar mereka, agar dia bisa dapat terus melihat tatapan lembut dari wanita yang dia cintai, namun...
"Hump..." Raphael menolehkan kepalanya kesemarang arah agar wanita ini tidak bisa melihat kecemburuan dimatanya, bahkan dia harus rela memutuskan tatapan lembut dari wanita pujaannya.
"Kamu mau tahu tidak kenapa aku memuji adik mu?" ucap Queen masih dengan senyum lembutnya.
Tapi sayang sekali perkataannya sama sekali tiak dihiraukan oleh pria tersebut.
"Mau pura-pura gak peduli yah? Baiklah akan kukerjain kau!" batin Queen smirk.
"Sepertinya kamu tidak tertarik, kalau begitu aku tid-" benar saja perkataannya langsung disela oleh pria ini.
"Katakan." ucap Raphael pelan, mungkin karena gengsi.
"Hehehe... tentu saja karena aku suka orang yang imut~" girang Queen seketika langsung mengingat kembali kenangan antara dirinya dan adiknya, Erlan.
"Aku sangat suka dengan orang yang memiliki sikap lembut, ceria, dan imut~" ucap Queen lagi.
Dia terus menerus berbicara secara tidak sadar, intonasi suara yang dikeluarkan wanita itu juga terlihat sangat gembira.
Bahkan Raphael sendiri hanya bisa tercengang dengan perubahan total dari wanitanya, "A-apa dia maniak imut?!" Raphael membantin dengan rasa tak percaya.
Queen sekarang sedang tertawa kecil sambil mengingat bagaimana dulu saat dia dapat mendengar suara kecil Erlan untuk pertama kalinya saat memanggilnya 'Kakak' dan itu moment yang tak bisa dia lupakan.
"Sungguh kenangan yang indah…" batin Queen meneteskan air matanya sesal. "Andai dia masih hidup…" batin Queen sedih
"Huftt... Queen kau tidak boleh seperti ini, kau harus kuat!" sambungnya menyemangati dirinya sendiri.
………………………………………………
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya '-'
.
.
.
.
#Next