
Mendengar penjelasan itu pria tersebut menjadi tenang kembali, namun dia masih bertanya-tanya siapakah penguasa semesta ini?
Sebelum dia bisa bertanya ternyata Queen sudah lebih dulu menyela.
"Sepertinya sudah cukup untuk hari ini, baiklah ini kuberikan Artefak yang sudah ku janjikan tadi."
Setelah Queen selesai berbicara, muncul sekelebat cahaya berwarna emas bercampur hijau lembut didepan Queen, warna itu sangatlah familiar untuk bangsa Elf.
Tak lama kemudian muncul sebuah tombak bermata tiga yang terbuat dari kristal kehidupan atau bisa dibilang serpihan jiwa dari ketiga leluhur tertinggi Klan Elf Sejati yang pernah singgah di alam semesta ini.
Artefak tersebut memiliki kekuatan Magis yang berunsur kehidupan, Tombak itu dapat menghidupkan tumbuhan manapun dengan sihirnya, dia juga dapat mempercepat usia tumbuhan dimana semakin tua usia tumbuhan tersebut, semakin besar pula keuntungannya.
Namun bukan hanya itu saja, Tombak ini juga dapat menyembuhkan seseorang dari berbagai macam penyakit, bahkan orang yang sedang sekarat sekalipun.
Pria itu yang melihat tombak yang sangat berharga didepannya tidak bisa menghalingkan pandangannya dari tombak tersebut.
Tombak ini merupakan benda yang selalu diceritakan gurunya padanya semasa dia kecil dulu, gurunya bahkan bercerita dengan nada bersemangat, terlihat sekali jika gurunya sangat mengagumi benda tersebut.
Jika saja gurunya masih ada disini, entah apa yang akan terjadi jika dia melihat benda yang dia kagumi ternyata diberikan begitu saja oleh wanita yang ada didepannya ini.
Namun sebelum mengambil Artefak tersebut pria itu terlebih dulu memeriksa apa benda ini benar-benar diberikan secara gratis atau memiliki syarat tertentu didalamnya.
"Ambilah…" Queen memberikan Tombak tersebut kepada Tuan Besar Alaric tanpa ada syarat didalamnya.
Saat Tuan Besar Alaric ingin bertanya kenapa Artefak berharga ini diberikan secara mudah kepadanya, namun dihentikan oleh Queen.
"Tolong jangan bertanya kenapa aku memberikan Artefak ini padamu, dan tenang saja jika ada Ras Elf yang ingin mengambil Tombak tersebut."
"Karena mereka sampai kapanpun tidak akan bisa mengambil Tombak tersebut, jika mereka memaksa maka secara otomatis Tombak itu akan menghisap kehidupan seseorang yang berani menyentuhnya berserta seluruh garis keturunannya, itupun jika tidak diijinkan oleh sang pemilik Tombak."
Penjelasan yang diberikan Queen sekali lagi membuat pria itu menegang, "Bagaimana bisa wanita ini membicarakan hal semengerikan itu dengan wajah yang terlihat santai?!"
"Baiklah… kalau begitu saya permisi dulu." Queen berdiri dari tempat duduknya dan beranjak menuju pintu keluar ruangan.
Namun sebelum keluar dari tempat itu, pria tersebut lebih dulu menghentikannya, dia mengatakan jika Queen lebih baik menginap saja disini, berhubung waktu sudah malam.
Namun Queen dengan cepat menolaknya, entah apa yang terjadi jika dia tidak pulang sekarang, pasti anak-anaknya akan mengacak-acak seluruh kota ini.
Mendengar wanita dihadapannya menolak ajakannya, pria itu kembali menawarkan diri untuk mengantar Queen sampai ke depan Mansion.
Saat pintu ruangan itu dibuka seketika juga banyak para Maid yang kebetulan ada di sana melihat jika Tuan Besar mereka terlihat sangat menghormati wanita yang baru mereka lihat, tentu saja merasa bingung dan bertanya-tanya didalam hati mereka.
Siapakah wanita itu sampai-sampai membuat Tuan Besar mereka begitu menghormatinya? Entahlah tidak ada yang tau siapa sebenarnya wanita itu.
……………………………………………………………
Dilantai dasar dimana seluruh keluarga Alaric sedang berdiskusi tentang perusahaan mereka, namun seketika kegiatan mereka terhenti saat melihat Ayah mereka turun dari lantai atas bersama wanita asing yang tak lain adalah Queen.
Mereka melihat jika ayah mereka berjalan dibelakang wanita itu yang berarti jika ayahnya begitu menghormati wanita tersebut.
"Ada apa ini sebenarnya?" batin mereka besama.
Beda lagi dengan kedua pria tampan yang merupakan keturunan bahkan penerus selanjutnya keluarga Alaric, yang sekarang ini ada yang sibuk bermain vidio game, dan ada yang sedang memasang wajah cemberut karena pria itu sudah terlalu lama menunggu wanitanya, yang sedang mengobral dengan Opah-Nya.
"Antar aku pulang…" pinta Queen mengabaikan tatapan sengit dari ketiga orang yang tak lain adalah Ibu, Tante, dan Om dari Raphael dan Kevin.
Entah masalah apa yang dia buat sampai-sampai orang ini terlihat sangat tidak suka kepadanya.
Raphael yang tadinya cemberut dan ingin mengabaikan wanitanya seketika menghilangkan pikiran tersebut setelah melihat wajah wanitanya terlihat kelelahan.
Pria itu menganggukkan kepalanya lalu berdiri dari tempat duduknya, dan saat mereka berdua ingin menuju luar Mansion itu, akan tetapi ternyata langkah mereka dihentikan oleh seorang wanita yang tak lain adalah Kessya Agatha Alaric yang merupakan Tante dari Raphael.
Dengan wajah tidak suka wanita itu melihat wajah Queen dengan kedua tangan dilipat di atas perutnya.
"Dilihat dari penampilan mu kau terlihat cukup tangguh, tapi aku sama sekali tidak merasakan hawa bahaya dari dalam dirimu. Heh percuma saya Ayah ku begitu khawatir dengan wanita kecil ini, toh kau terlihat lemah." ucapannya menilai Queen.
Queen yang disindir seperti itu hanya tersenyum dan tidak membalasnya sama sekali, jujur dia sudah sangat lelah karena berbicara seharian tanpa jeda.
Namun ternyata dengan diamnya Queen malah menimbulkan kemarahan bagi Kessya, wanita itu merasa diacuhkan oleh gadis kecil dihadapannya ini.
"Ternyata harapan ku sia-sia saja, tadinya aku pikir kau akan membalas perkataan ku, eh ternyata tidak…" smirk nya.
Wajah wanita itu semakin jelek saat Queen malah membalasnya seperti orang yang sedang menasehati anak kecil.
"Kau das-"
PLAK…!
Suara tamparan itu terdengar cukup jelas di seluruh ruangan ini, bahkan Kevin yang tadinya sibuk bermain video game ikut terhenti dan ikut melihat situasi.
Tamparan itu mendarat di pipi putih serta lembut milik Kessya, wanita itu memegangi pipinya yang perih akibat tamparan yang tak main-main itu.
"Papah……" lirihnya tak percaya jika orang yang menamparnya tadi adalah Papah-Nya sendiri.
"Cepat minta maaf!" tegas Tuan Besar Alaric.
Pria itu sama sekali tidak menunjukkan kemarahan kepada putrinya ini, namun kekecewaan begitu jelas diwajahnya yang masih terlihat tampan tersebut.
Kessya yang bisa melihat kekecewaan di wajah sang Ayah merasa sangat sedih, wanita itu sesaat menundukkan kepalanya mengontrol emosinya, lalu kembali menatap Queen tajam.
"Pah jangan salahkan aku, aku melakukan ini juga karena Papah, lihat wanita itu sama sekali tidak membalas ucapan ku, yang berarti dia itu lemah dan tidak berbahaya seperti yang Papah bilang!" serunya.
"DIAM!! Sejak kapan hah!? Sejak kapan kau memiliki sifat pembakang seperti ini? Papah menyuruhmu minta maaf dan bukan protes!"
"Cepat minta maaf sekarang!!" perintah Tuan Besar Alaric mutlak.
Namun tiba-tiba sebuah suara terdengar di indra pendengaran mereka, "Tidak perlu… aku hanya ingin pulang, waktu sudah semakin larut dan aku tidak memiliki waktu lagi." ucap Queen mengentikan perseteruan antara ayah dan anak itu.
Tuan Besar Alaric hanya bisa mengembuskan nafasnya lemah, sungguh dia sangat malu dengan apa yang terjadi sekarang ini, dia bahkan sudah tidak pantas lagi menatap wajah Queen.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Queen memutar tubuhnya berbalik, wanita itu berjalan menuju pintu besar Mansion.
Terlihat dideoan Mansion sudah ada beberapa mobil yang sudah berjejer rapi berniat mengantar dan mengawal Queen serta Raphael sampai ketempat tujuan dengan selamat.
"…… Apa-apaan ini?" bingung Queen.
"Jangan tanya aku, aku juga tidak tau." suara itu berasal dari belakang tubuh Queen.
Seorang pria tampan keluar dari balik pintu besar Mansion tersebut.
"Oh? Kalau begitu suruh mereka pergi."
"Tidak bisa dong, mereka sudah terlanjur menunggu kita."
"Yuk masuk!" tanpa aba-aba Raphael menarik pergelangan tangan Queen menuju pintu mobil.
Melihat Tuan Muda berserta Tamu mereka sudah memasuki mobil, mereka pun segera melajukan mobil tersebut meninggalkan Mansion keluarga Alaric.
Sekarang sudah saatnya bagi Queen untuk serius, dan sepertinya dia sudah cukup mampu memendam kesedihan akibat kepergian sang Adik tercinta.
"Apa lagi setelah ini? Semua yang ada disini sudah ku jelajahi dari dulu, aku bosan dan ingin mencari suasana baru, sebelum membalaskan dendam terbesar ku." batin Queen.
"Aku harus cepat-cepat mengembalikan kekuatan ku sebelum orang itu muncul lagi dihadapan ku!" lanjutnya dalam hati.
Mobil pun masih terus melaju dengan kecepatan tinggi diikuti oleh mobil-mobil lainnya.
……………………………………………………………………
Okay Author Up Crazy nih, yuk Like and Vote yabg banyak 🥺🥺
.
.
.
.
#Next