The Queen's Destiny Journey

The Queen's Destiny Journey
EPISODE 75



Masih ditempat yang sama, dimana mereka dibingungkan oleh kecemasan yang dirasakan oleh Ayah mereka.


"Apa itu karena wanita tadi?" tak sengaja Tuan Alaric mengeluarkan tembakannya.


"Itu..." gugup Tuan Besar Alaric melihat sekeliling terlebih dahulu, lalu menjawab pertanyaan anaknya.


"Hahh... benar." jawab Tuan Besar Alaric semakin membuat mereka kebingungan.


"Memangnya apa yang salah dengan wanita itu, apa Papah mengenalnya? Apa karena identitasnya? Atau apa karena dia berbahaya?" tanya Tante Raphael akhirnya ikut-ikutan menebak.


"Bukan… yang pasti wanita itu lebih berbahaya daripada yang kita pikirkan." jawab Tuan Besar Alaric membuat mereka terkejut saat mendengarnya.


"Apanya yang lebih berbahaya? Mafia yang kita punya bahkan sangat berbahaya di dunia ini, tapi kenapa Papah malah takut dengan wanita kecil itu?" unjar Paman Raphael tidak mengerti.


"Benar Pah, jika ada yang berani membuat keluarga kita tidak senang, kita tinggal langsung membunuh mereka saja!" seru Tante Raphael dengan tatapan ganas.


"Aku tidak nyakin jika kita bisa mengalahkan wanita itu apalagi membunuhnya. Yang ada kitalah yang terbunuh." ucap Tuan Alaric seketika menghentikan perseteruan mereka.


"Apa maksudmu kak? Kita kan bisa dengan mudah membunuh wanita itu dengan pasukan yang kita punya! Apa kakak menjadi bodoh hah?" ujar Tente Raphael tidak terima.


"Lagipula Mafia kita berisi orang-orang yang paling berbahaya di dunia. Jadi jika hanya membunuh satu orang wanita, hanya masalah kecil bagi kita!" terang Tante Raphael.


"Benar apa yang Kessy bilang sayang, kita bisa langsung membunuh wanita itu hanya dengan beberapa detik saja, itupun jika kita mau..." balas Nyonga Alaric setuju dengan perkataan sahabatnya.


Sejak dulu keluarga besar Alaric memiliki keturunan yang berisikan orang-orang yang berkemampuan.


Mereka yang masih hidup di zaman ini selain Raphael dan Kevin didalam keluarga itu, masih terdapat Orang tua, serta Tante dan Paman mereka, ditambah mereka masih memiliki seorang Kakek.


Orang tua Raphael yang merupakan Nyonya Alaric memiliki nama panjang yaitu Cassia Ananda Alaric serta suaminya yang bernama Bastian Griya Alaric.


Sedangkan untuk Tante Raphael sendiri memiliki nama panjang yaitu Kessya Agatha Alaric serta suaminya yang bernama Georgie Henley Alaric.


Konon katanya keluarga itu memiliki hawa yang berbeda dari manusia lainnya, kemampuan dan kecerdasan yang mereka punya sangat diatas rata-rata manusia pada umumnya.


Ketampanan dan kecantikan yang dimiliki keluarga itu seolah-olah bukan berasal dari bumi, melainkan dari dunia lain.


…………………………………………………


_Ditaman dekat Pohon Suci_


Queen sedang terduduk sambil menatap daun-daun yang tumbuh lebat di dahan pepohonan di depannya. Wanita itu terlihat termenung sambil memikirkan sesuatu yang entah itu apa.


"Pria itu memiliki darah Klan Elf, apalagi darahnya merupakan darah dari Klan Elf sejati. Tapi bagaimana bisa? Dia memang memiliki darah Klan tersebut, terlebih lagi dia bukanlah orang dari Klan itu." batin Queen sakit kepala.


Tanpa disadari olehnya ternyata dibelakangnya terlihat seorang pria yang sedang memandanginya dengan begitu lembut.


Pria itu yang tak lain adalah Raphael mendekati wanita pujaannya yang sedang terpaku melihat keindahan pohon yang memang sudah lama ada di sana.


Pria itu ikut duduk di samping wanitanya yang sekarang ini sedang menatapnya dengan tatapan kesal, dan itu lucu menurutnya, seperti anak kucing yang siap mencakarnya kapan saja.


"Ada apa?" sinis Queen langsung mengalihkan pandangannya kembali.


"Tidak ada, aku hanya ingin melihatmu." ucap Raphael dengan tidak tahu malu, menopang dagunya menatap wajah Queen dari samping.


"Lihat apa kau!?" sinis Queen tidak nyaman, terlihat dari gelagatnya yang aneh.


"Cantik..." gumam Raphael tanpa sadar sambil terus memandang wajah Queen intens.


"Hah? Apa??" sertak Queen kaget, "Apa aku salah dengar ya?" lanjutnya dalam hati.


Tanpa diduga tiba-tiba Raphael mengangkat tangannya lalu menyelipkan rambut Queen kebelakang telinganya.


Jika ada orang yang melihat mereka berdua pasti mereka akan langsung berfikir jika Queen dan Raphael adalah sepasang kekasih, walaupun sebenarnya tidak.


"A-apa yang kamu lakukan!?" gugup Queen menepis tangan kekar pria itu.


Raphael yang melihat rasa tidak suka wanitanya terhadap dirinya sedikit merasa sedih, namun sebisa mungkin dia tutupi.


"Apa kamu sudah memiliki seorang kekasih?" pertanyaan yang dilayangkan pria itu seketika langsung merobek hati Queen.


Hati yang dulu pernah hangat dan selalu dibuat seakan-akan ingin meledak, beberapa dekade ini langsung lenyap diakibatkan penghianat yang begitu tragis oleh orang-orang yang dia percayai dulu.


"……" bukanya menjawab, Queen malah lebih memilih diam, dia sebisa mungkin menahan emosinya karena tidak mau terlihat menyedihkan dihadapan manusia ini.


"……? Jadi dia mempunyai seorang kekasih" batin Raphael sakit hati mengetahui jika wanitanya memiliki pria yang dicintainya.


Karena tidak mau memperlihatkan rasa sakitnya, Raphael lebih memilih meninggalkan wanita tersebut sendirian, dia juga butuh waktu untuk menekan rasa sakit yang ada dihatinya saat menerima kenyataan ini.


Pria itu beranjak dari tempat duduknya, namun belum beberapa langkah dia mendengar suara isakan tangis yang mampu menyayat hatinya, sungguh perih rasanya jika dia mengabaikan wanita itu.


"Hiks… Hikss…" tangis Queen mengigit bibir bawahnya menahan rasa sakit akibat masa lalu yang menimpanya.


Tidak kuat mendengar tangisan dari wanita yang dicintainya, Raphael segera mendekati wanitanya lalu memeluknya erat, seerat mungkin.


"HIKS... HIKSS…" tangis Queen semakin kencang, dia menenggelamkan kepalanya kepundak pria itu, tidak peduli lagi dengan rasa gengsi terhadap bangsa manusia.


Dia hanya butuh tempat untuk menyampaikan keluh kesahnya, dia tidak mau dikasihani makanya dia selalu menutupi kesedihannya, tapi bukan berarti dia tahan dengan rasa sakit yang menimpa dirinya dulu.


"Hey kenapa menangis? Lihat nih bajuku jadi basah…" ucap Raphael mengusap pucuk rambut Queen lembut.


Queen yang mendengar itu langsung melepaskan pelukannya lalu melihat kearah baju pria ini yang basah karena terkena air matanya.


"Hiks… lalu kenapa, kan bisa dicuci lagi!" ngambek Queen diiringi dengan suara tangisan.


"Huft… kemarilah." pinta Raphael menepuk pundaknya menyuruh Queen menaruh kepalanya di sana.


Queen yang memang masih butuh tempat bersandar menyetujui permintaan yang bahkan diharapkan pria itu.


"Kamu aneh…" lirih Raphael menatap jauh ke depan sambil mengelus punggung Queen mesra.


"Hiks… apa?" bingung Queen sesegukan.


"Kenapa kamu menangis saat aku menayangkan apa kamu mempunyai seorang kekasih? Bukankah seharusnya kamu senang jika memiliki seorang yang kamu cintai." jelas Raphael menutupi sakit hatinya.


"Harusnya aku yang sedih…" ucap Raphael pelan. Sungguh sesak rasanya jika membayangkan wanitanya mencintai pria lain dan bukan dirinya.


"Kenapa harus kamu yang sedih?" tanya Queen dengan mata merah sehabis menangis.


"Karena…… Haishh sudahlah." pria itu sepertinya tidak bisa menjawab pertanyaan Queen sekarang, mungkin karena dia harus mencari tahu apakah wanita ini mempunyai kekasih atau tidak.


"Jadi kenapa kamu menangis?" tanya balik Raphael berpura-pura tidak bersalah karena tidak menjawab pertanyaan dari wanita pujaannya.


……………………………………………………


Tunggu besok lagi ya, selamat membaca


Salam hangat Author, tolong kasih dukungan berupa Like and Vote ya


.


.


.


.


#Next