
"Ini- apa?" ucap Raphael kaget melihat banyaknya senjata yang terlihat sangat berbahaya mengarah kearah mobilnya.
"Sudah ku bilang jangan sembarangan!" unjar Queen langsung membuka pintu mobil.
Dia keluar dari mobil untuk memberikan perintah kepada anak-anaknya untuk memasukan kembali senjata-senjata itu.
Queen membuka pintu mobil tanpa mengucapkan sepatah katapun kepada Raphael yang masih terduduk diam karena kaget.
Tapi setelah itu Raphael langsung tersadar karena mendengar suara pintu mobil yang ditutup keras oleh Queen.
"Kenapa dia keluar?! Tidak, aku harus menyusulnya." Raphael segera keluar dari mobilnya, tapi saat dia ingin menjangkau wanitanya, tiba-tiba dia melihat hal yang sangat menakjubkan.
………………………………
Queen saat ini sedang berdiri menatap pintu gerbang Mansion yang sangat besar didepannya.
Tatapan yang dikeluarkannya terlihat biasa-biasa saja, walaupun saat dia melihat banyaknya senjata yang ada disana.
Saat dia berjalan semakin mendekat kearah gerbang Mansion, senjata yang tadinya mengarah kearah mobil Raphael seketika langsung mengubah arah targetnha kearah Queen.
Namun saat senjata itu hampir menyala dan siap untuk membasmi apapun yang ada depanya, tiba-tiba terdengar bunyi sensor dari dalam Mansion.
Seketika senjata-senjata yang tadinya ingin menyerang Queen terhenti, senjata itu langsung masuk kedalam tembok Pos Peletakan mereka masing-masing.
Lalu keluarlah Robot Listrik yang keluar dari salah satu tembok Mansion, "Selamat- Datang-, Dan- Maaf- Karena- Hal- Tadi-" ucap Robot itu dengan suara khas Robotiknya.
Tak berapa lama tiba-tiba gerbang Mansion QueenZell terbuka, terlihat banyak sekali robot yang berbaris rapi disisi kanan maupun sisi kiri.
Dibelakang robot itu terlihat anak-anak Queen yang sedang berdiri tegap, bahkan diatas gerbang pengawasan Mansion-pun juga terlihat adanya anak-anak Queen yang sekarang ini sedang memasang wajah muram dan datar.
Mungkin mereka sedikit kesal dan sangat khawatir kepada Queen yang melesat kabur dari Mansion, apalagi mereka harus mendengar gerutuan, kemarahan, dan ceramahan dari Alvarez.
Lalu dimana Alvarez? Tentu saja dia juga ada disini, dan terlihat sedang berlari tapi dengan gaya cool-nya, dia berlari kearah gerbang berniat ingin menemui wanita berharganya.
Dibelakangnya juga ada seorang anak laki-laki yang terlihat pendiam, dan dia adalah wakil dari Alvarez di Mansion ini.
"Hmph! Kau kemana saja hah?" ucap Alvarez cemberut, sedangkan anak laki-laki yang ada disampingnya hanya melempar pandangan datar kearah Alvarez.
"Ke hutan." jawab Queen cuek, namun tiba-tiba aura yang ada disini berubah, bahkan Robot-robot yang ada disana yang tadinya bermata biru atau hijau menjadi merah, seperti sedang marah.
"Buat apa kamu kesana?" tanya Alvarez berusaha menahan amarahnya.
"Nyari hewan buas." balas Quran menguap ngantuk, tanpa memperdulikan apa yang akan terjadi jika mereka mengetahui kemana dia berada barusan.
"Untuk apa kamu ketempat kotor itu?" Alvarez berucap dengan urat-urat kemarahan yang begitu jelas.
"Untuk yang tadi." balas Queen, "Memangnya kenapa?" tanyanya.
Mendengar itu Alvarez ingin berceloteh ria dan ingin memarahi Queen, tapi diberhentikan oleh anak lelaki yang merupakan wakilnya.
"Jika Nona ingin hewan buas, biar kami belikan atau abil dari sana." unjar anak lelaki itu.
"Tidak perlu, alu sudah tidak menginginkannya." ucap Queen tapi sepertinya dia lupa jika ada satu orang pria yang sekarang ini sedang melihat kerahnya dari belakang sana.
Sungguh nasib sekali dia diabaikan oleh wanita pujaannya, itulah batin Raphael.
Tapi ternyata anak lelaki tadi menyadari ada tatapan lain yang bukan dari bangsa mereka, tatapan itu terus menatap RatuNa-nya.
Tanpa pikir panjang dengan pandangan khasnya yaitu datar, anak lelaki itu mengarahkan pandangannya kebelakang Queen, dia mendapati ada seorang pria yang memang sangat tampan berdiri disana.
"Nona itu siapa?" tanya anak lelaki itu pelan sambil melirik kearah Raphael.
Mendengar ucapan anak itu mereka semua kecuali Queen menolehkan kepalanya kearah orang yang dimaksud oleh anak itu.
"Pria itu..." gumam Alvarez memasang wajah tidak sukanya kearah Raphael.
Raphael yang bisa merasakan tatapan menusuk ini, segera mencari orang yang berikannya perasaan tidak enak.
Saat dia sudah mengetahui dimana tatapan itu berasal, kemudian mata mereka saling bertemu, mereka saling melempar tatapan sengit satu sama lain, bahkan tatapan itu terasa seperti rival sejati.
"Kenapa pria sialan itu ada disini?Bukankah ini rumah wanita ku?" batin Raphael menatap wajah pria yang sangat dia bencinya, karena bisa dekat dengan wanita pujaannya ini.
"Apa mereka tinggal serumah?" entah kenapa ada rasa sakit dihatinya ketika memikirkan wanitanya tinggal seatap dengan pria lain.
Dia hanya mau jika wanitanya tinggal seatap dengannya! Tidak dengan pria lain.
Sedangkan Alvarez dia juga sedang bergulat dengan batinnya sama seperti Raphael.
"Kenapa pria itu ada disini? Lalu kenapa Mama keluar dari mobil itu! Apa yang sebenarnya Mama lakukan diluar sana!" oceh Alvarez dalam hati.
"Cih melihat wajah bayi ini saja aku sudah muak!" batinya lagi, Alvarez dan anak-anak Queen yang lain memang sangat suka memanggil semua manusia dengan sebutan bayi.
Karena umur mereka saja sangat sedikit, bagi manusia umur 30an sudah termaksud dewasa, tapi bagi mereka umur segitu masih tidak bisa disamakan dengan umur kacang yang ada di kerajaan mereka.
Umur mereka bahkan hanya secuil umur mereka, jangan ditanya mereka sudah hidup sudah berapa tahun, yang pasti mereka sudah hidup selama berapa ratus tahun.
Lalu saat Alvarez sudah selesai bergulat dengan batinnya, dia segera menarik tangan Queen dan mendekatkan dirinya dengan Mama-nya.
"Mama kenapa bayi itu ada disini, apa yang tadi Mama lakukan hah?" bisik Alvarez sinis.
"Hanya berjalan-jalan dihutan lalu membunuh seseorang." jelas Queen ikut berbisik, karena dia tidak mau anak-anaknya mendengar jika dia barusan sudah membunuh seseorang, karena takut anak-anaknya semakin suram.
"Lalu kenapa Mama bisa pulang bersama bayi itu?!" bisik Alvarez tidak suka.
"Kebetulan bertemu dihutan." balas Queen jenuh dengan pertanyaan yang dilayangkan kepadanya.
Sedangkan Raphael yang melihat jika wanitanya sedang saling berbisik dengan pria sialan itu, apalagi jarak diantara mereka sangat dekat, membuatnya dilanda rasa cemburu dan kegusaran secara bersamaan.
Tanpa menunggu lagi dia mendekati Queen dengan mengabaikan tatapan suram dari orang-orang yang adaa disini.
Raphael menarik Queen dengan lembut lalu menatap tajam kearah Alvarez yang dibuat tercengang oleh keberanian pria ini.
"Jangan dekati Wanita ku." tekan Raphael posesif bahkan secara tidak sengaja dia sudah mendekap Queen bagaikan seorang gadis mungil yang sangat butuh kasih sayang dari seseorang.
"What? Sudah pernah ku bilang jangan campuri urusan ku!" sinis Alvarez santai sambil melipat kedua tangannya.
"Jika itu ada hubungannya dengan wanita ku, sepertinya tidak bisa." unjar Raphael smirk, "Lagipula punya hak apa kamu mengatur ku?"
Alvarez terdiam sejenak, lalu tersenyum lebar mendengar ucapan yang dikeluarkan oleh bayi yang mempunyai sedikit keberanian didepannya.
…………………………
Maaf guys kemarin Author gak Up, soalnya banyak kerjaan.
Salam hangat dari Author '-'
.
.
.
.
.
#Next