
🌹 Happy Reading 🌹
“Mommy Hanna, sebentar lagi di sekolah kami akan mengadakan Kegiatan Ekstrakulikuler, di mana mungkin nanti akan ada kelas tambahan bagi murid yang mau mengikuti salah satu dari kegiatan tersebut, apakah Hanna sudah ada niatan ingin mengikutinya? Atau setidaknya dia mempunyai Hobby yang tetap di daftar tersebut Mom?” Jelas wali kelas tersebut, yang membuat Brina langsung menatap ke arah putrinya.
“Untuk masalah itu, saya tidak akan memaksa putri saya untuk mengikuti kegiatan tersebut, hanya saja jika putri saya ingin, pasti saya akan mendukungnya,” Brina memberikan respon yang sangat ambigu kepada wali kelas.
Namun, sepertinya wali kelas tersebut sudah paham, bahwa keputusan ini tidak akan di ambil dengan secepat itu. “Baik Mom, kalau begitu saya akan memberikan formulirnya dan daftar apa saja yang bisa diikuti ya Mom,” Wali kelas mengambil satu amplop khusus untuk diserahkan kepada Brina.
“Terima kasih sebelumnya,” jawab Brina dengan ramah.
“Oke, kalau begitu Mom, boleh saya mengambil Hannanya sekarang mom?” tanya Wali kelas dengan perasan canggungnya.
“Tentu saja,” jawab Brina, yang terlihat menuntun putrinya untuk masuk Ke dalam kelas.
“Yang rajin belajarnya ya sayang,” ucap Brina, sebelum putrinya itu masuk ke dalam kelas.
“Pasti Mom, Hanna sekolah dulu ya Mom, Bye Bye Mom,” seru Hanna, sambil berlari masuk ke dalam.
Brina tersenyum, melihat putrinya yang tetap terus bersemangat seperti biasanya. Kekhawatiran yang Mommynya ceritakan tentang sikap mendiang Kakak Briellnya dulu, sepertinya tidak akan pernah terjadi kepada putrinya.
***
Brina kini terlihat berjalan dengan pelan ke arah mobil, karena menurutnya hari ini dia akan bersantai – santai sejenak menikmati masa liburnya, sebelum Daddynya itu kembali memberikan perusahaan kepadanya.
“Ahhh, beginilah nasib mempunyai Daddy yang pemikirannya masih plin plan,” gumam Brina, sembari terus melangkahkan kakinya menuju parkiran.
Dia memang selalu merasa kesal, ketika Mario tidak bisa mengambil keputusan yang tegas kepada anak – anaknya, terkadang dia sangat memanjakan seperti sekarang Brina tidak boleh mengerjakan apa pun, tetapi terkadang juga dia meminta Brina memimpin perusahaan, benar – benar kegabutan yang sangat unfaedah sekali bapak Mario ini.
Sesampainya di mobil, Brina langsung masuk ke dalamnya, Namun tiba – tiba saja pintu mobilnya terbuka, dan dirinya di paksa untuk pindah ke kursi sebelahnya.
“Mau apa kamu?!” sentak Brina, ketika melihat wajah Aldo yang begitu santai masuk ke dalam mobilnya.
“Pasang seat beltmu, kalau kamu tidak ingin mati dengan cepat!” perintah Aldo, yang langsung diikuti oleh Brina.
Bukannya mau menuruti sebenarnya, hanya Brina sangat tahu dengan jelas, jika rem tangan mobil ini sudah dilepaskan oleh Aldo, maka akan dipastikan dirinya akan terpental – pental mengikuti lekukan mobil yang entah Ke mana.
Chittttttt, bunyi ban mobil yang tergesek oleh aspal bersamaan dengan rem yang Aldo kendalikan.
“Aldo kamu tidak waras ya?!!! Kamu masuk ke dalam mobil Aku dengan paksa, lalu kamu membawa mobil seperti orang kesetanan seperti ini, mau kamu apa ha?!” tekan Brina yang begitu marah pada sikap Aldo yang tidak berubah sedari dulu.
“Hanna adalah anak aku kan,” tegasnya pelan, dan kali ini berhasil membuat ke dua mata Brina membulat besar mendengarnya.
“Aku sudah mencari informasinya Brina, jika nama belakang Hanna bukanlah nama pria yang mengaku suami kamu itu, karena aku mengikuti kalian, dan kalian tidak tinggal bersamakan,” ungkap Aldo lagi, yang tidak ingin bertele – tele dalam mengungkap kebenarannya.
“Jangan merasa diri kamu Do, Hanna memang bukan anak kandung dari Erlan, tetapi dia adalah anak kandungku dengan kekasihku –“
“Dan kekasihmu itu aku!” tegas Aldo lagi, kali ini dengan sorot mata yang mengeluarkan api amarahnya.
Brina menarik nafasnya dalam, lalu menghembuskannya dengan kasar, “Kamu bukan satu – satunya kekasih yang meniduriku kan,” sahut Brina dengan begitu santai.
Brina yang melihat logo rumah sakit di Los Angles, tempat dirinya melahirkan Hanna kini sangat terkejut, bahkan dirinya sampai harus menelan salivanya kasar dan dengan gemetar dia membuka amplop tersebut.
“Bagaimana bisa? Dalam dua hari? Bagaimana bisa dia mendapatkan semua informasi ini?” tanya Brina dalam hati, yang sepertinya saat ini dirinya telah skakmatt di buat oleh Aldo.
Melihat ekspresi Brina yang hanya diam saja, itu membuat Aldo sangat yakin dengan kebenaran yang ada.
Karena dengan kecepatan tinggi dia membawa mobilnya, kini mereka telah sampai di sebuah apartemen milik Aldo.
“Keluar kamu!” sentak Aldo pada Brina, dan langsung menyeret wanita itu untuk keluar dari mobil untuk masuk ke dalam unitnya.
Braaaakkkkk, suara pintu apartemen yang dibanting dengan keras, cukup mengagetkan Brina yang lebih dulu masuk ke dalam.
“Aldo!!!” teriak Brina, yang merasa tidak terima dengan sikap Aldo ini kepadanya.
Nafas Aldo yang memburu, kini membuat Brina semakin khawatir dengan apa yang akan terjadi.
Dia sangat tahu, jika mantan kekasihnya ini adalah orang yang sangat tempramental sekali dengan keadaan.
Aldo yang mengarah ke meja makan, kini mengambil sebuah gelas dan menuangkan air ke dalamnya.
Aldo meminum air tersebut dengan gemetar, tetapi karena tidak bisa membendung perasaan kesalnya, akhirnya dia membanting gelas itu ke lantai.
Brina mengerti situasi ini, sehingga dirinya memilih untuk duduk dengan tenang di meja makan itu.
“Aldo ini kamu salah paham, Hanna bukanlah –“
Pranggggg, praaangggg, Aldo membanting semua gelas ke lantai, bahkan teko kaca yang berisi air saja ikut menjadi sasaran amukan dari pria itu. Dia sama sekali tidak perduli dengan serpihan kaca yang mengenai tubuh Brina.
“Karena kamu merasa aku hanyalah seorang anak pungut, miskin dan sangat berbeda sama kasta keluarga kamu, sampai kamu terus menerus mengelak seperti ini, Ha?” teriak Aldo tepat di depan wajah Brina.
Brina yang sekuat tenaga menahan tangis kini kembali pecah, karena tidak kuat dengan sikap Aldo yang seperti ini.
“Kamu yang mengajak aku tidur denganmu Brina, kamu yang menggodaku, lalu sekarang kamu bersikap bahwa semua ini adalah salah aku? Seperti itu? Hem?” suara Aldo kembali memencing lagi.
“Arggghhhh, Aldo,” Brina nyaris kehabisan nafas ketika Aldo mencekik lehernya dengan begitu kuat.
“Biar aku tunjukkan, bagaimana jika aku yang memaksa kamu untuk berhubungan, dan kamu akan merasa aku benar – benar salah,” ucap Aldo pelan, namun berhasil membuat bulu kuduk Brina berdiri dengan sempurna.
To Be Continue.
Hey Bestie, Jangan lupa untuk Like, Komen, Vote dan Hadiahnya ke karya Mimin ya 😘 agar mimin lebih semangat lagi untuk updatenya.
Dan jangan lupa untuk Mampir ke Karya mimin yang lainnya ya.
Terima Kasih.