The Mejesty It’S Husband

The Mejesty It’S Husband
Masalah yang Semakin Rumit



❤️ Happy Reading Bestie ❤️


Eden yang mendengar ribut - ribut di luar, kini berjalan melangkahkan kakinya keluar. Dan melihat ruang tamu sudah kosong.


“Tadi ada apa ribut - ribut?” Tanya Eden pada salah satu pelayan yang ada di depan matanya.


Pelayan tersebut menundukan kepalanya hormat, lalu diam sejenak. Menimang apakah dia akan memberitahukannya kepada Nyonya besar atau tidak. “Katakan!” Sentak Eden yang kembali merasa penasaraan.


“Ehm, itu Nyonya besar, tadi ada seorang wanita temannya Tuan Aldo datang ke sini. Dan Nyonya Brina mengusirnya, bahkan Nyonya Brina bilang kalau Tuan Aldo mau ikut sekalian juga Nyonya Brina memperbolehkannya.” Jelas pelayan tersebut, dengan perasaan yang khawatir Eden akan marah pada mereka.


“Brina berkalimat seperti itu?” Tanya Eden, meyakinkan pendengarannya, bahwa putrinya benar - benar berbicara seperti itu.


Pelayan tersebut menganggukan kepalanya pelan. Membenarkan apa yang dia katakan.


Eden terdiam sejenak, sebelum akhirnya dia menyuruh pelayan itu pergi. Eden yang merasa semakin penasaraan, kini memilih untuk pergi ke kamar putrinya yang pintunya sudah terbuka.


Dia mendapatkan putrinya itu sedang berada di Balcon. “Sayang.” Panggil Eden, lalu dia ikut melihat ke bawah, di mana Aldo masuk ke dalam mobil seorang wanita.


“Siapa wanita itu?” Tanya Eden pada putrinya.


“First lovenya Aldo.” Jawab Brina dengan jujur, dan bahkan pandangannya tetap ke bawah, meskipun mobil Marina sudah tidak ada di sana.


“Kamu yakin membiarkan Aldo pergi bersama wanita itu?” Tanya Eden lagi. Dan kali ini Brina mengalihkan pandangannya melihat Mommynya yang berdiri di sampingnya.


“Kenapa aku harus khawatir Mom?” Tanyanya balik, seakan - akan Mommynya menanyakan tentang dirinya yang mungkin saja sebenarnya ragu.


Brina tersenyum, lalu duduk di kursi yang ada di sana. “Aldo menikahiku hanya karena rasa tanggung jawab pada bayi ini Mom, tidak ada cinta ataupun perasaan di pernikahaan kita.” Ucap Brina lagi, menjelaskan kepada Mommynya, apa yang sebenarnya terjadi di pernikahan mereka.


“Kamu memangnya tidak mencintai Aldo?” Tanya Eden pada putrinya. Brina menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak Mom, aku tidak merasa mencintainya.” Jawab Brina jujur, karena memang itu adalah sebuah kenyataan.


Dia marah ketika Aldo bersama wanita lain, bukan karena dia cemburu, hanya saja dia tidak suka jika mempunyai barang itu harus di mainkan dengan orang lain juga.


Brina akhirnya menceritakan semuanya jujur pada Mommynya, tentang rencana jahat dia yang menjebak Aldo, dan dengan sampai hari ini.


“Kalaupun dia pergi lagi dari hidupku, serius tidak apa - apa Mom, mungkin paling aku akan merasa sedikit kosong saja sebentar,”


“Rasanya itu mungkin, kalau misalnya nih, kita lagi kumpul keluarga, itukan rame, terus tiba - tiba udah ada pulangan, mungkin kita sedikit akan merasakan sepi. Ya mungkin aku akan merasa begitu juga Mom.” Ungkapnya pada Eden, perasaannya yang sebenarnya.


Eden akhirnya mengerti saat ini, Brina memang tidak pernah mencintai seseorang, bahkan dirinya sendiri. Namun, dia juga menyayangkan sikap Aldo yang tidak benar - benar berjuang di dalam rumah tangganya.


“Ketika nanti memang kamu ingin pisah darinya, Mommy juga tidak bisa berkata apa - apa, karena itu pilihan kamu, dan kamu yang menjalanin.”


“Tapi saran Mommy, kalau memang bisa diperbaiki ya diperbaiki, tidak ada salahnya memberikan kesempatan untuk diri sendiri mencintai orang lain.” Eden memberikan Nasehat pada putrinya. Dia berharap jika Brina yang sudah dewasa bisa memikirkan sendiri apa yang dia mau ke depannya nanti.


“Tenang Mom, putrimu ini sudah besar, jadi tidak akan lagi melakukkan kesalahan.” Respon Brina, tidak ingin Mommynya mengkhawatirkan tentang dirinya.


“Bagus kalau kamu sudah merasa dewasa, kalau kamu mau ambil keputusan, kamu harus memikirkan Hanna dan juga calon bayi kalian ini.” Ucap Eden lagi, mengingatkan kepada putrinya agar tidak mengambil keputusan dengan main - main.


***


Sedangkan di sisi lain, Aldo yang baru sampai di sebuah loby apartemen. Kini mengantarkan Marina untuk masuk ke apartemen miliknya.


“Marina, kamu bisa tinggal di sini dulu sementara, dan kalau kamu sudah merasa tenang, kamu bisa menceritakan semuanya kepadaku,” ucap Aldo, memperlihatkan seisi di dalam apartemennya.


Sebenarnya apartemen ini sudah sangat lama tidak di gunakan. Terakhir ketika dia waktu lulus kuliah.


“Terima kasih ya Aldo, maaf aku harus merepotkan kamu. Dan maaf banget karena sudah menganggu malam - malam.” Tandas Marina, merasa sangat tidak enak ketika dirinya harus menganggu pria ini.


Aldo tersenyum tipis, lalu menganggukan kepalanya. “Jangan sungkan, kita adalah teman, dan anggap saja aku sedang membantumu, kamu juga setiap hari memasak untukku, tentu saja itu juga sangat merepotkan.” Balas Aldo lagi.


“Aku jadi tidak enak dengan Brina, dia pasti sangat marah makanya sampai mengusirku seperti tadi.” Ucap Marina, yang membuat Aldo tersenyum kembali walaupun hatinya juga ketar ketir melihat sikap Brina tadi.


Dia takut, bahwa Brina akan marah pada dirinya. “Sudah tidak apa - apa, Brinakan sedang hamil, mungkin saja ini hormonnya.” Jelas Aldo, agar Marina tidak terus merasa bersalah kepada istrinya.


Marina menganggukkan dirinya paham, meskipun dirinya tidak pernah hamil, tetapi mungkin saja Aldo benar.


“Beruntung sekali Brina punya kamu ya Do, aku jadi nyesel karena pernah nolak kamu dulu.” Gumam Marina, dengan padangan yang mengarah kosong ke depan. Sepertinya dia sedang mengingat tentang masa lalu, di mana saat dirinya menolak Aldo.


“Coba saja aku tidak menolak kamu, mungkin saat ini aku yang hidup bahagia bersamamu Do.” Ucapnya lagi, lalu menatap Aldo dengan penuh harapan.


“Soory, Marina? Sebaiknya kita tidak membahas masa lalu.” Ucap Aldo, menagnggapi omong kosong wanita yang ada di hadapannya ini.


Marina menggengam tangan Aldo, lalu menatap pria itu. “Biasanya Fisrt love itu susah untuk di lupakan, apakah kamu juga begitu Do? Apakah kamu masih memiliki rasa denganku?” Tanyanya dengan penuh keyakinan, bahwa Aldo masih memiliki rasa dengannya.


Aldo menggelengkan kepalanya, dan lalu melepaskan tangan Marina. “Aku sudah tidak memiliki rasa apa pun dengamu Marina.” Jawabnya dengan jujur.


“Kamu bohong, kalau kamu tidak memiliki rasa denganku, kenap kamu meminta nomor ponselku, dan mengajakku berulang kali bertemu, kita berbagi cerita dan bahkan kamu memakan masakanku setiap hari, itu artinya kamu masih mencintaiku, Do.” Tegas Marina, merasa yakin dengan perasaannya yang megatakan bahwa Aldo masih dan akan selalu mencintainya.


Aldo menggelengkan kepalanya pelan. “Sebaikanya kamu istirahat Marina.” Ucapnya, lalu memilih untuk melangkahkan kakinya pergi.


“Kamu masih mencintaiku Do, dan kamu hanya menikahi Brina karena sebuah tanggung jawab, pasti wanita itu akan meninggalkanmu suatu saat nanti, lihat saja!” Teriak Marina yang sudah terdengar samar oleh Aldo, tetapi dia sama sekali tidak mau memperdulikannya. Aldo terus berjalan melangkahkan kakinya keluar agar bisa segera pulang dan berbicara dengan istrinya.


To Be Continue.


Hey teman - teman, jangan lupa ya, untuk Like, Komen, Vote dan jika berkenan memberikan Hadiahnya untuk Mimin. Agar mimin lebih semangat lagi updatenya, biar gakmalas - malasan lagi.


Terima kasih 🙏🏻