
🌹 Happy Reading Bestie 😘
Setelah mendapatkan apa yang dia mau, kini Brina sudah berada di dalam kamar mandi Apartemannya.
Dia langsung menggunakan sepuluh alat itu, untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat.
Brina duduk di atas kloset yang tertutup, dirinya memperhatikan alat yang menampilkan hasil positif dengan perkiraan usia kandungan dua minggu.
Brina mengusap wajahnya kasar, dan kembali menggigiti kukunya untuk menghilangkan rasa panik yang mulai menyerangnya.
Lalu dia mengambil ponselnya, dan melihat artikel tentang bahayanya sebuah aborsi ilegal yang bahkan menyebabkan kematian.
Pikiran Brina yang kalut, membuatnya hanya berdiam diri saja saat ini. Dia melangkahkan kakinya keluar kamar mandi dan menuju ke arah balcon Apartnya.
Berdiri termenung, dengan menatap banyak orang yang lalu lalang di bawah sana, dengan raut wajah yang sangat sulit di artikan.
Bahkan mungkin tanpa dia jelaskan, siapa pun akan tahu, bagaimana rusaknya hidupnya yang bahagia kemarin.
FLASH BACK OFF
DI satu sisi, di sebuah Vila yang dengan hamparan taman yang begitu luas, terlihat seorang anak perempuan yang tengah duduk dengan seorang pria di sebelahnya, serta seorang pelayan yang berdiri tidak jauh dari mereka.
“Hahahaha, lihat Daddy, lihatlah Rini,” tawanya pecah, ketika melihat salah satu pelayan Daddnya bertingkah konyol yang membuatnya sangat bahagia sekali ada di dalam lingkaran Daddnya.
FLASH BACK ON.
Hanna yang terus menerus menangis, setelah diculik oleh Aldo, kini berada di sebuah Rumah yang begitu megah, Aldo yang tidak tahu apa yang Di senangi oleh putrinya itu, kini merasa bingung sendiri, karena seumur hidupnya tidak pernah berurusan dengan seorang anak kecil.
“Hiskkk,,hisskkkk,hhisskkk, Uncle kenapa culik Hanna Uncle? Hiskk,,hiskkk,” suara yang begitu imut itu, membuat Aldo merasa gemas sekali dengan kehadiran Hanna ini.
Mereka Yang sedang duduk di sebuah kursi taman, membuat Aldo memilih meletakan tanganya di atas meja, lalu menopang dagunya, agar bisa tetap fokus menatap wajah cantik putri kecilnya.
“Uncle adalah Daddymu,” ucap Aldo dengan ekpresi yang datar, membuat Hanna malah memiringkan kepalanya untuk mendengar jelas apa yang dikatakan oleh teman mommynya ini.
Code yang sedari tadi berdiri di belakang Tuannya itu, langsung menepuk wajahnya, merasa jika Tuannya ini begitu bodoh sekali dalam menghadapi anak – anak.
“Ahhh, Nona Hanna, Tuan Aldo ini adalah Daddy asli dari Nona.” Code mencoba menjelaskan dan memberikan pengertian kepada seorang anak yang masih berusia kecil tersebut.
Hanna yang sedari tadi menangis, kini seketika terhenti, dengan mengusap air matanya yang masih ingin terjatuh.
“Tapi Mommy bilang, Daddy Hanna sudah di surga,” responnya begitu polos, membuat Code tertawa renyah ketika melihat wajah cemberut dari Tuannya.
“Ya itu benar Nona, karena Daddy Anda, baru saja kembali dari surga sana,” timpal Code lagi, dan kali ini malah mendapatkan tatapan tajam dari Aldo.
“Saya hanyalah pelayan Nona,” sahut Code, sambil menyiapkan teh untuk ke dua majikkannya ini.
Praaanggg,,praanggg, suara piring yang pecahan, menyisahkan satu buah cangkir, serta teko yang berada di tangan Code saat ini, membuat ke dua mata Hanna terpukau melihatnya.
Sedangkan Aldo, hanya bisa menutup matanya menahan kesal dengan Denna dan Rini yang selalu saja membuat ulah di dalam Rumahnya.
“Apa yang sedang kalian lakukkan?” tanya Code, dengan begitu ramah pada dua pelayan wanita yang berhasil memecahkan semua cangkir yang dia bawa tadi.
“kami di dorong olehnya,” seru ke duanya, sambil menunjuk ke arah dalam, yang menampilkan Hanry dengan meja dorong yang membawa makanan banyak.
Praanggg,,praanggg, semua piring kaca itu kembali pecah, ketika Hanry tidak bisa menahan keseimbanganya dalam membawa meja dorong tersebut.
“Sudah aku bilang, aku yang akan membawanya, apa yang sekarang kalian lakukan?” tanya Code, dengan masih menahan kesabarannya pada tiga pelayan yang setiap harinya selalu membuatnya membeli prabotan rumah baru.
“Kami hanya –“
“Tidak perlu membantu, karena semakin kalian membantu akan makin berantakan jadinya!” tegas Code pada ke tiganya.
“Ma – maafkan kami Code, maa – maafkan kami Tuan,” ucap mereka bertiga dengan bersamaan.
“Kenapa pelayan Daddy sangat tidak berguna seperti itu?” tanya Hanna, dengan frontalnya ke arah mereka.
Aldo yang sedari tadi sudah merasa pusing, kini hanya menyangga kepalanya dengan satu tangan, serta mata yang tertutup.
“Mereka tidak berguna dalam urusan rumah, tetapi mereka berguna untuk pekerjaan yang lain Hanna,” jawab Aldo singkat. Lalu Hanna menganggukan kepalanya pelan mencoba mengartikan apa yang sedang dibicarakan Daddynya ini.
“Code, urus mereka!!” perintah Aldo, yang lalu beranjak dari duduknya untuk meninggalkan kursi mereka.
“Hanna ayo ikut –“
“Tidak Daddy, Hanna ingin melakukakan satu hal terlebih dahulu,” sahutnya, ketika sepertinya di dalam otaknya sudah tercipta suatu rencana yang akan dia jalankan.
Gerakan Aldo yang terhenti sejenak, kini kembali memejamkan matanya pelan, “Baiklah, setelah kamu bosan, kamu boleh mendatangi Daddy di ruang kerja,” ujar Aldo, yang lalu pergi melangkahkan kakinya menuju ruang kerja pribadi miliknya.
**To Be Continue.
HEY TEMAN - TEMAN, JANGAN LUPA UNTUK LIKE, KOMEN, VOTE DAN HADIAHNYA UNTUK MIMIN YA, AGAR MIMIN LEBIH SEMANGAT LAGI UNTUK UPDATENYA.
DAN JANGAN LUPA UNTUK MAMPIR KE KARYA MIMIN YANG LAINNYA YA.
TERIMA KASIH**.