
❤️ Happy Reading Bestie ❤️
Setelah semalam Brina berjanji untuk mengantar dan menemani Aldo untuk mengunjungi makam mertuanya. Kini terlihat Aldo dan Brina yang sedang berada di dalam mobil di depan sebuah pemakaman mewah khusus untuk keluarga Phantominve.
“Kalau kamu tidak mau masuk, juga tidak apa - apa, aku bisa mengunjungi mereka sendiri.” Ucap Aldo, yang merasa bahwa Brina sejak tadi merasa berat ke sini.
“Apaan sih, kalau aku sudah bilang aku akan masuk, ya aku masuk, tidak ada salahnya juga kalau aku berkenalan dengan orang tuamu kan.” Balas Brina, yang sejak tadi pagi terlihat lemas sekali.
“Kamu sakit?” Tanya Aldo, yang merasa Brina berkeringatan di hari yang mendung ini.
Aldo menempelkan tangannya pada dahi Brina, namun segera wanita itu menepis tangan Aldo. “Apaan sih, aku baik - baik saja, aku tidak sakit,” jawabnya bohong, padahal sedari pagi dia merasa sangat mual, dan merasa tidak enak hati.
“Ya sudah, kita keluar dulu sekarang,” ajak Aldo, pada Brina agar segera turun dari mobil dan mendatangi makam Orang tuanya.
Brina menggandeng tangan Aldo dengan reflek, dia memeluk lengan milik suaminya itu, dan mengikuti langkah Aldo yang masuk ke dalam pemakaman.
Sesampainya di depan gerbang, Brina terheran, ketika melihat penjagaan ketat di pemakaman ini.
“Aldo? Ini?” Brina berbisik pada suaminya, namun Aldo hanya mengengam tangan Brina, agar istrinya itu tidak bertanya dulu.
Brina yang mengerti maksud suaminya kini memilih untuk diam terlebih dahulu. dan terus saja mengikuti langkah suaminya yang masuk ke dalam.
Lagi - lagi Brina dikejutkan dengan beberapa pengawal yang berlutut kepada Aldo. “Yang Mulia.” Ucap mereka bersamaan.
“Berdirilah!” Perintah Aldo kepada mereka.
“Terima kasih kepada kalian karena tetap setia menjaga makam keluarga saya.” Seru Aldo kepada mereka.
Kini Brina semakin bingung, kalau di sini pengawal sangat banyak menjaga makam, kenapa pengawal di rumahnya hanya ada lima dan enam sama Code.
Brina menyimpan semua rasa penasaraan ini dulu, hingga pada saatnya Aldo harus menjelaskan semuanya.
Setelah memberikan pidato kepada semua pengawalnya, barulah kini mereka berdua masuk ke dalam ruangan yang tertulis nama ke dua orang tua Aldo.
“Mah, Pah, Aberline datang,” lirihnya pelan, dan mencoba dudduk di tengah - tengah makam ke duanya.
“Mah Pah, maafkan Aberline karena masih belum bisa mengungkap kasus kematian kalian, Aberline masih belum bisa menemukan dalang dari kematian kalian Pah, Mah.” Ucapnya tulus, hingga Brina bisa melihat jika Aldo kembali meneteskan air matanya.
Brina ikut berlutut di belakang suaminya, dan mencoba untuk mengusap punggu Aldo, agar suaminya itu bisa meresa tenang sedikit.
“Oh ya, Mah, Pah, Aberline ke sini membawa istri Aberline Mah, Pah, Namanya Gabrina,”
“Dia baik, tetapi dia Galak, jadi Mamah dan Papah tenang saja ya di sana, Aberline di sini sudah bahagia bersama dengan Brina, Hanna dan calon anak ke dua.” Ungkapnya lagi pada ke dua orang tuanya.
“Aberline janji, kalau secepatnya aku pasti akan bisa mengungkapkan kasus ini Mah Pah, dan menuntut keadilan untuk kalian.” Ucapnya lagi.
Aldo menoleh melihat Brina yang sedang menatapnya. “Bisakah kamu setiap hari berbicara lembut seperti itu kepadaku? Karena kamu terlihat lebih cantik.” Ucap Aldo, yang langsung membuat Brina reflek menoyor kepala Aldo.
“Sudahlah, kamu malas di baikin malah ngelunjak.” Ketus Brina, dan membuat wanita itu langsung berdiri dari posisinya.
“Tuhkan, baru dipuji dikit saja sudah galak lagi.” Gumam Aldo, yang lalu memilih untuk memejamkan matanya berdoa untuk orang tuanya.
Brina yang berdiri di belakangnya pun juga ikut memejamkan matanya, berdoa agar ke dua mertuanya ini tenang di sana.
“Kamu aku antar pulang ya, aku harus ke kantor ada meeting.” Ucap Aldo, setelah semuanya selesai.
Brina menganggukan kepalanya pelan, karena dirinya merasa memang kurang enak badan saat ini.
Kini Brina dan Aldo kembali berjalan beriringan, sampai di dalam mobil, Aldo kembali mengutarakan keinginannya. “Brina, tentang keinginan aku yang kemarin, apakah kamu sudah mempunyai jawabannya?” Tanya Aldo dengan serius.
Brina kembali diam, menimbang - nimbang jawaban apa yang akan dia berikan kepada Aldo.
“Sejujurnya aku tidak tahu, jawaban apa yang akan aku berikan ke kamu, karena sebenarnya keinginanku setelah menikah itu, tinggal di Paris bersama orang tuaku, menemani mereka.” Ungkap Brina, yang membuat dirinya merasa bimbang.
“Tapi Mommy pernah bilang sama aku, jika anak perempuan itu harus ikut bersama suaminya, yang berarti jika kamu di sini, maka ya aku harus di sini.” Sambungnya lagi, membuat Aldo semakin bingung, dengan jawaban apa yang akan di ambil oleh Brina.
“Bagaimana kalau kita tetap tinggal bersama Mommy dan Daddy terlebih dahulu, sampai masalah kamu itu selesai, dan baru kita akan pindah ke Istana kamu.” Brina memberikan jawabannya.
“Kalau mengingat kejadian orang tuamu saja belum tuntas, aku mengkhawatirkan keselamatan Hanna dan calon anak ke dua.” Timpalnya lagi memberikaan penjelasaan agar Aldo mengerti alasan dari keputusaanya.
Aldo menganggukan kepalanya mengerti, karena apa yang dikatakan oleh Brina itu memang benar. Kalau dirinya juga harus memikirkan nasib anak - anaknya, di bandingkan rasa ke - egoisannya untuk membawa Brina tinggal bersama.
“Baiklah, aku setuju dengan itu semua.” Respon Aldo yang menerima semua keputusan Brina.
Dan lagi pula, Aldo kepikiraan soal tadi yang di saat Brina mengatakan jika Daddynya mungkin saja bisa membantu.
Aldo terperanjat membulatkan ke dua matanya, dia baru ingat jika mertuanya adalah seorang bos Dalam dunia kegelapan, harusnya untuk mengungkap kasus seperti ini sangatlah tidak sulit baginya.
Aldo yakin, jika mertuanya itu bisa saja membantunya, tetapi dia tidak akan mengatakan apa - apa dulu soal meminta bantuan pada Mario.
“Cepat atau lambat aku pasti akan mendapatkanmu,” ucap Aldo dalam hatinya, merasakan dendam amarah karena ulah seseorang itu.
To Be Continue.
Hey teman - teman, jangan lupa ya, untuk Like, Komen, Vote dan jika berkenan memberikan Hadiahnya untuk Mimin. Agar mimin lebih semangat lagi updatenya, biar gakmalas - malasan lagi.
Terima kasih 🙏🏻