
❤️ Happy Reading Bestie ❤️
Setelah amukan Eden tadi, kini terlihat ke tiga laki - laki yang terlibat pertengkaran itu. Duduk bertiga dengan Eden yang terus mengawasi gerak gerik mereka.
“Sekarang! Jelaskan kepada saya! Apa permasalahan kalian,” tanya Eden, dengan serius tanpa bermain - main.
Mendapatkan pertanyaan itu, Aldo dan Erlan terlihat enggan untuk membuka mulut mereka menjawab pertanyaan Eden.
“Saya memukul Tuan Erlan, karena dia memukul duluan Tuan Saya Aberline, Nyonya Besar Eden,” jelas Code yang tidak ingin berbasa - basi lagi.
Lalu Code berdiri dari duduknya, “Tuan Aberline, saat ini Anda memiliki meeting bersama dengan Ratu, apakah Anda akan terus di sini, atau -“
“Aku datang sekarang Code, tunggu saya di mobil!” Perintah Aldo pada Code.
“Okey, My Lord,” sahut Code, lalu membungkukkan tubuhnya setengah, sebagai tanda penghormataannya pada Aldo.
Setelah itu dia melangkahkan kakinya pergi, untuk menyiapkan mobil untuk Tuannya Aldo.
“Apakah pelayanmu akan terus bertingkah formal seperti itu Do?” Tanya Mario, kembali penasaraan dengan tingkah Code yang terlalu kaku.
Aldo menganggukan kepalanya pelan sebagai jawabannya. “Code memang melayani keluarga phantominve sedari dulu, dan tidak pernah membiarkan tangan saya lelah untuk mengerjakan hal - hal yang tidak penting.” Jawab Aldo dengan jujur.
Mario dan Eden yang mendengar itu, langsung beralih untuk saling menatap satu sama lainnya.
“Saya tidak bisa di sini terlalu lama, dan saya harus pergi sekarang,” pamit Aldo yang langsung berdiri dari duduknya, sebelum Code kembali lagi untuk memanggilnya.
Eden dan Mario menganggukan kepalanya pelan, lalu melihat langkah Aldo yang sudah pergi menjauh.
Sekarang tinggallah Erlan di sini, di hadapan mereka. “Erlan, saya selaku Daddy dari Brina, memohon maaf sebesar - besarnya, karena sudah seenaknya membatalkan perjodohan kalian dan lalu menikahkan Brina dengan orang lain.” Ucap Mario, pada Erlan, yang saat ini terlihat menundukkan kepalanya.
“Kenapa Uncle melakukkan ini kepada saya? Padahal kalian jelas - jelas tahu, bahwa saya mencintai Brina sedari dulu. Makanya saya sabar dan mau menunggu sampai Brina juga bisa menerima saya. Tapi kalin malah membuat saya mundur seperti ini.” Balas Erlan, membuat Eden dan Mario terdiam mendengar kalimat yang terlontar dari Erlan.
“Mau bagaimana lagi, kehamilan ke dua Brina sama sekali tidak kita prediksi.” tandas Eden, membuat ke dua bola mata Erlan membulat sempurna.
“Apa? Hamil?” Tanyanya, meyakinkan diri jika pendengaranya sama sekali tidak salah.
“Iya benar, Brina sedang hamil saat ini, dan juga Aldo adalah Ayah biologis dari Hanna, jadi otomatis dua anak Brina adalah hasil dari Aldo.” Eden berkata dengan sungguh - sungguh, membuat Erlan semakin terpuruk mendengarnya.
Dia ingin sekali menertawakan dirinya yang selama ini ternyata hanya di kirim Tuhan ke dalam kehidupan Brina, untuk menjaganya bukan untuk memilikkinya.
Di saat mereka sedang berbicara serius, terlihat Brina yang baru saja keluar dari lift rumahnya.
“Eh, Erlan kamu di sin -“ tegur Brina, namun terhenti ketika Erlan langsung beranjak pergi dan sama sekali tidak memperdulikannya.
“Erlan kenapa sih Mom, Dad?” Tanya Brina pada orang tuanya, yang terlihat berbicara sebelum Erlan pergi begitu saja.
Eden menghela nafasnya kasar. “Tadi Daddy dan Mommy sudah mengatakan bahwa Aldo adalah ayah biologis dari Hanna, sepertinya dia marah dan sekaligus kecewa, jadi ketika melihat kamu dia langsung pergi.” Jelas Mario pada putrinya.
Brina menganggukan kepalanya pelan, “kamu mau kemana pagi - pagi seperti ini?” Tanya Eden, ketika melihat putrinya sudah berpakaian rapi dipagi hari.
“Brina ingin ke dokter Mom, setelah itu baru ke kantor,” jawab Brina singkat.
“Dokter untuk ngapain? Apa kamu merasa mual?” Tanya Eden, yang spontan dijawab anggukan kepala oleh Brina.
“Kan kamu lagi hamil, tentu saja kamu muallah, sama seperti saat kamu hamil Hanna kan.” Seru Eden, membuat Brina yang tadinya fokus melihat layar ponselnya, kini tiba - tiba tersedak sendiri, kaget mendengar perkataan Mommynya.
“Kamu kenapa bisa tersedak seperti itu?” Tanya Eden ketus.
Brina meringis dan langsung menggelengkan kepalanya pelan. Dia mengingat - ingat, jika dia sudah telat dua minggu dari kejadian itu. “Bisa mampus aku.” Batinnya tidak ingin berandai - andai.
“Sudahlah Brina, jangan pikirkan tentang itu, bukankah kemarin kamu sempat mengeluarkan bercak darah? Mungkin itu bisa saja tanda - tanda kamu akan datang tamu bulanan dekat - dekat ini.” Ucapnya lagi dalam hati, ingin menghilangkan sendiri perasangkanya yang tidak - tidak.
“Tidak Mom, Brina bukan mau ke dokter itu, tapi Brina mau prawatan dulu,” ucapnya lagi, memperbaiki kata - katanya.
“Kalau begitu Mommy ikut, Mommy skincare Mommy sudah habis dan Mommy juga pengen Facial.” Sahut Eden, yang lalu bangkit untuk bersiap - siap ikut dengan Brina.
“Dad, nanti jemput Hanna ya, dia sudah pergi sekolah tadi sama sopir, tapi sopir mengatakan mobil bermasalah jadi mau di service, dan dia tidak bisa memastikan bisa atau tidak menjemput Hanna sore nanti.”
“Baiklah, nanti Daddy dengan supir Daddy pergi menjemput Hanna.” Balas Mario mengiyakan apa yang di minta oleh putrinya.
To Be Continue.
Hey teman - teman, jangan lupa ya, untuk Like, Komen, Vote dan jika berkenan memberikan Hadiahnya untuk Mimin. Agar mimin lebih semangat lagi updatenya, biar gakmalas - malasan lagi.
Terima kasih 🙏🏻