
Saat ini Aldo dan Hanna sedang duduk di sofa, dengan Brina yang berada di hadapan mereka.
“Jadi? Apa alasan kalian untuk membela diri dalam hal ini?” Tanya Brina kepada dua orang yang memiliki sifat yang sama itu.
Hanna melihat ke arah Aldo, berharap Daddynya itu bisa membelanya di depan Mommynya.
Namun, di saat mereka masih di dalam proses persidangan, terlihat ada 10 pelayan yang datang ke Vila mereka.
“Brina,” panggil Eden, yang mendapatkan pelayan itu mencari cucu dan menantunya.
Ke dua mata Hanna terbelak, lalu memanggil Daddnya untuk berbisik. “Dad, bukankah itu makanan yang kita pesan tadi?” Tanya Hanna pada Daddnya, dan Aldo kembali hanya bisa menjawab dengan Anggukan kepalanya.
“Tapi Mommy tidak memperbolehkan Hanna memakan eskrim sebanyak itu Dad,” ucapnya lagi, dan kali ini Aldo merasa bahwa dia sedang membuat kesalahan lagi karena menyetujui saja anaknya memesan banyak makanan.
“Ada apa Mom?” Tanya Brina, yang lalu berdiri dari duduknya dan menghampiri Mommynya serta pelayan - pelayan itu.
“Permisi Nyonya, tadi Nona Hanna memesan semua makanan dan desserts ini,” ucap mereka, membuat Brina kembali mendelik tajam ke arah Aldo dan Hanna.
“Sebanyak ini? Mereka berdua yang pesan? Kalian yakin?” Tanya Brina, merasa tidak yakin jika anaknya berani memesan makanan sebanyak itu.
“Yakin Nyonya, karena pria dewasa di sebelahnya tadi juga menganggukan kepalanya menyetujui apa yang Nona Hanna pesan.” Jawab pelayan itu, dan mau tidak mau Brina harus membayar pesanan mereka.
Bria menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa stress sendiri menghadapi anak dan suaminya.
Hanna memang iseng sejak awal, tapi anak itu semakin menjadi ketika mendapat dukungan dari Aldo.
Melihat Brina yang sudah tidak mau berbicara, Aldo dan Hanna menatap sang Harimau yang sudah masuk ke dalam lift dan pastinya untuk ke kamar.
“Sepertinya Harimau sudah menutup kasus ini sayang,” kini sebutan Mommy Brina sepertinya sudah di ganti oleh kata Harimau oleh Aldo dan Hanna.
Mario yang sejak tadi duduk tidak jauh dari mereka, kini tersenyum dan ikut menganggukan kepalanya.
Tok,,tokk,tok, “sidang di tutup.” Seru Hanna, mempraktekan bagaimana seorang hakim mengetuk palu.
Aldo, Mario dan Hanna terlihat tertawa dengan begitu girang.
Eden yang mendapatkan suaminya juga ikut tertawa, kini mendekati suaminya. “Apa yang sedang kamu tertawakan?” Tanya Eden dengan tatapan yang sangat mencurigakan.
Mario menggelengkan kepalanya dengan cepat, “tidak ada,” jawab Mario dengan penuh senyuman.
“Grandma, tadi Hanna melihat GrandIo di dekati oleh Aunty di depan.” Lapor Hanna, dan sontak Aldo langsung menutup mulut putrinya.
Mendengar hal itu, Eden tentu saja langsung menoleh dan menatap suaminya bak ingin memangsa.
“Aunty siapa?!” Tanya Eden dengan suara yang sangat ketus pada Mario.
“Tidak ada, itu adalah hal biasa, mereka memaksa minta nomorku, karena sepertinya mereka suka sama aku.” Jawab Mario, dengan menampilkan senyum manisnya.
“Pria jelek seperti kamu? Siapa yang suka? Kalau bukan aku ha?! Jangan macam - macam kamu! Sudah tua! Ingat umur!” Sentak Eden, namun Mario hanya menganggukan kepalanya pelan.
Eden menghela nafasnya, “kalau bilang kamu tampan, memangnya berarti orang itu suka sama kamu?” Tanya Eden dengan sikapnya yang menantang.
“Kalau aku bilang mobil Roll royce itu tampan, apakah kamu mengira aku suka sama mobil itu?” Tanyanya lagi.
“Kalau kamu suka sama pantai, apakah kamu akan selalu duduk di pantai sepanjang hari?” Tanya Eden lagi, dan di jawab dengan gelengan kepala oleh Mario.
“Itulah, saya ini satu - satunya wanita yang benar - benar suka dan cinta sama kamu, mengerti tidak?!” Tanya Eden lagi.
“Bagus, transfer uang 10M ke rekeningku, untuk belanja besok.” Ucap Eden lagi, dan di jawab anggukan kepala oleh Mario dan bahkan langsung mentransfer ke rekening istrinya.
Sedangkan Aldo dan Hanna, lagi - lagi tercenang melihat Mario yang dimarahi bahkan terhasut oleh kata - kata dari Eden.
“Kalian!” Sentak Eden, pada Aldo dan Hanna yang menguping pembicaraan orang tua.
“Cepat habiskan makanan yang sudah kalian pesan itu! Tidak ada boleh sisa!” Perintah Eden, yang membuat Hanna dan Aldo langsung pergi ke meja makan untuk memakan pesana mereka tadi.
Awalnya mereka begitu antusias dengan makanan yang mereka lihat sangat menarik.
Hanna dan Aldo terlihat mulai memakan dessert’s itu satu persatu. Sampai dua puluh menit kemudian, mereka merasa sangat full dan tidak bisa lagi memasukan makanan yang terlihat sangat manis itu.
“Grandma, iam full,” keluh Hanna, sembari memukul perutnya yang sepertinya sudah sangat begah sekali.
Eden yang sejak tadi mengawasi mereka, kini menatap ke arah Aldo. “Kamu yang mengizinkan putrimu memesan semua makanan ini tadi, maka kamu juga yang harus bertanggung jawab!” Tegasnya, membuat Aldo menghela nafasnya menatap semua makanan yang sepertinya tidak akan bisa masuk ke dalam perutnya.
“H - A - B - I - S - K - A - N!” Ucap Eden lagi penuh dengan tekanan.
Setelah menyuruh menantunya untuk menghabiskan makanan yang mereka pesan tadi, kini Eden membawa Hanna untuk masuk ke dalam kamar, agar gadis itu tidak masuk angin karena masih menggunakan baju renangnya.
Lagian jam sudah menunjukkan angka 5 sore, sudah waktunya Hanna beristirahat karena sebentar lagi juga jam makan malam.
Eden menyerahkan Hanna pada susternya, lalu dia kembali turun ke bawah untuk melihat keadaan Aldo, apakah masih berusaha menghabiskan makanan - makanan itu, ataukah dia melarikan diri dari hukumannya.
“Kemana Aldo?” Tanya Eden, ketika tidak melihat sosok menantunya di sana.
“Tuan Aldo sedang pergi ke Toilet Nyonya besar, katanya tadi sakit perut.” Jawab pelayan tersebut.
Eden yang mendapatkan jawaban itu, kini menganggukan kepalanya paham, dan duduk di salah satu meja makan.
“Hemm, nyonya besar, untuk malam ini? Mau masak apa ya?” Tanya pelayan itu. mereka belum bisa menentukan menu masakan mereka, kalau Eden belum mengatakan apa pun.
Setiap harinya salalu seperti ini, untuk sarapan, makan siang dan makan malam, tetapi terkadang mereka jarang untuk makan siang, karena memiliki pekerjaanya masing - masing.
Namun, Eden sangat tidak suka jika Chef mereka memasak tanpa bertanya dulu padanya. Karena bagi Eden, selera keluarganya hanya dirinya saja yang mengetahuinya.
“Masak soup Tomnyam, sama ABC Soup ya, malam ini kita akan makan steamboat, siapakan bahan - bahan yang fresh!” Jawab Eden yang terdengar seperti perintah.
Malam ini adalah malam awal kebersamaan mereka, keluarganya kini sudah terasa sangat lengkap, dengan 3 anak, 3 menantu, dan 3 cucunya. Tidak ada lagi kebahagiaan yang bisa dia perkirakan lagi selain inilah saatnya berkat Tuhan itu muncul pada keluarganya.