The Mejesty It’S Husband

The Mejesty It’S Husband
Menitipkan Hanna



🌹 Happy Reading Bestie 🌹


“Hallo, Aldo berbicara.” Sahut suara di seberang telpon, yang akhirnya mengangkat panggilan emergency tersebut.


Sebenaranya wanita Resepsionis itu merasakan jantungnya lebih berdegup dengan kencang. Namun dia tetap berusaha untuk menetrakannya.


“Hallo, Sir, di sini ada yang ingin menemui Anda, dan mengatakan namanya adalah Gabrina Jonathan.”


“Maaf, Sir, saya sudah menghubungi sekertaris Anda, tapi sama sekali tidak ada respon darinya, dan oleh sebab itu, saya langsung menghubungi keruangan Anda, karena saya pikir akan Tuan Code yang merespon panggilan saya.” Terangnya begitu takut.


Terdengar helaan nafas di ujung sana, yang membuat Wanita itu semakin merasa tubuhnya sedang gemetaran.


“Biarkan dia masuk.” Jawab Aldo singkat, dengan langsung memutuskan panggilan tersebut.


“Silahkan masuk Nona, ruangan Sir Aldo, ada di lantai 18, keluar Lift belok Kiri.” Jelas Wanita tersebut. Dan tanpa basa basi lagi, Brina segera pergi naik ke lantai atas.


Hanna yang sedang berada di dalam lift bersama dengan Mommynya. Merasa suasana sedang tidak kondusif. Dia melirik ke kanan dan ke kiri, karena merasa bahwa lift ini terlalu lama sampainya.


“Mommy –“


“Diam sebentar Hanna, Mommy butuh ruang,” ucapnya dengan tegas. Membuat Hanna hanya bisa menghela nafasnya.


Tinggg, suara lift berbunyi, di susul dengan pintu yang ikut terbuka.


Brina berjalan dengan cepat, sembari menggandeng tangan putrinya. “Dari mana saja kamu?!!” Maki Brina, pada Sekertaris Aldo yang terlihat baru saja duduk di tempatnya.


Brina kesal, karena ketidakadaan wanita itu di tempatnya. Dirinya harus menunggu lama di Lobby bawah.


Sedangkan Wanita sekertaris itu, terlihat terperangah, karena belum tahu sebenarnya apa yang terjadi.


“Nona Brina, silahkan, Tuan Aldo telah menunggu Anda di dalam.” Seru Code, yang tiba – tiba saja, berada di belakang Brina.


Mata Brina tidak lepas dari sekertaris Aldo itu. Dia tetap melanjutkan langkahnya tanpa melepaskan mangsanya.


***


Sesampainya di dalam, Brina melihat Aldo yang sedang duduk di kursi kebesaraanya.


“Aku titip Brina tiga hari denganmu, bisa?” Tanya Brina langsung to the point, pada Aldo.


Aldo ingin bertanya alasannya, kenapa tiba – tiba, Gabrina menitipkan Hanna kepadanya. Tetapi niat itu dia urungkan, dan hanya sebuah anggukan kepala saja yang dia dapatkan.


“Oke,” suara Brina kesal, karena hanya mendapatkan sebuah anggukan tanpa suara.


Brina menatap Aldo sinis, lalu beralih ke arah putrinya. “Sayang, nanti Mommy jemput lagi ya, sampai bertemu di hari ke tiga sayang, jangan nakal ya.” Ucapnya pada Hanna, sebelum benar – Benar menitipkannya pada mantan kekasih, sekaligus ayah dari putrinya itu.


“Hanna juga mencintaimu Mommy,” jawab suara kecil, yang terdengar merdu jika berbicara.


Sejenak Brina menghela nafasnya panjang, ini pertama kalinya dia akan menitipkkan putrinya kepada Aldo. Awalnya sebenarnya dia sendiri merasa keberataan. Tetapi tidak mempunyai pilihan lain, karena perjalanan bisnis yang akan dia arungi, dan juga ketidak mau - an Hanna berdiam diri di rumah dengan banyaknya baby sister. Membuat Brina merasakan sedikit kesusahan saat ini.


“Okelah, Mommy pergi ya sayang, kamu take care ya,” pamit Brina lagi.


Sedangkan Aldo, yang sejak tadi berada di kursinya, terlihat hanya diam, dan memperhatikan intraksi dari ibu dan anak di hadapannya ini.


***


Setelah Brina benar – benar telah pergi dan tidak terlihat lagi. Barulah Aldo bangkit dari posisinya, dan lalu perlahan mendekati putrinya.


“Hanna,” panggilnya, pada gadis kecil yang merupakan darah dagingnya itu.


Hanna menoleh dengan penuh senyum, dia memanglah gadis yang murah hati.


Tetapi Aldo sama sekali tidak membalas senyuman itu. “Apakah Daddy marah denganku?” Tanya Hanna dengan begitu polosnya.


Aldo perlahan menggelengkan kepalanya, lalu tersenyum kea rah putrinya. “Daddy tidak marah denganmu sayang, mengapa kamu berpikir demikian?” Tanya Aldo balik, tak lupa senyum manis yang dia perlihatkan kepada putrinya.


“Ahh, tidak Daddy, Hanna sepertinya salah menduga,” jawab suara kecil itu.


Sejenak Aldo menyeritkan keningnya bingung, mengapa anak sekecil Hanna, sudah bisa menggunakan kalimat berbicara yang pasif.


“Well done sweety, bisakah kamu menunggu Daddy sejenak? Karena Daddy, masih mempunyai sedikit pekerjaan,” tanya Aldo kepada Hanna.


Dengan sejenak Hanna berpikir, lalu menggelengkan kepalanya pelan. “No! Daddy! Hanna tidak suka menunggu.” Jawabnya pelan, namun terdengar sangat tegas sekali.


Aldo menatap ke arah putrinya, dengan tatapan yang sangat bimbang, “sepertinya, mulai sekarang, aku akan menghadapi dua wanita yang keras hati saat ini.” Batinya, sembari menghela nafasnya pelan.


Code yang melihat raut wajah Tuannya itu, sepertinya begitu hafal, jika Tuannya ini pasti sedang memikirkan sesuatu yang dianggap meresahkan. “Mungkin Anda butuh membawa putri Anda berjalan – jalan, atau sekedar piknik, saya akan menyiapkannya Tuan.”


Aldo menganggukan kepalanya pelan, karena dia hanya akan mengikuti apa pun perkataan dari Code, jika semua hal itu gagal, berarti Codelah yang salah dalam memberikan saran.


To Be Continue.


Hey Teman - Teman, jangan lupa ya, untuk, Like, Komen, Vote dan Hadiahnya untuk Karya Mimin ini. Agar mimin lebih semangat lagi untuk updatenya.


Dan Jangan lupa juga untuk mampir ke karya mimin yang lainnya ya.


Terima Kasih.