
❤️ Happy Reading Bestie ❤️
“Oke, sekarang sepertinya aku tahu kamu marah seharian ini kenapa.” Tandas Aldo yang sepertinya mulai mengingat akar permasalahan mereka.
“Kamu marah, karena kamu mendapatkan Marina datang ke kantorku, dan juga mengantarkan makan siang setiap harinya kepadaku, benarkan!” Aldo seperti mendapatkan sebuah firman, yang membuat dirinya tahu sebenarnya apa permasalahan Brina bisa marah dengannya.
Brina tertawa mendengar hal itu. “Hahahahah,” tawa Brina, membuat Aldo bingung.
“Aldo, dengar! Kamu mau diantarkan makan setiap hari sama dia bahkan aku tidak perduli Do!” Ucapnya, dengan wajah yang serius.
“Tapi kalau mau berkata jujur, aku memang sedikit tertarik kepadamu, aku awalnya mencoba untuk mau membuka hatiku dan belajar mencintai kamu.”
“Tetapi, mendengar kata - kata kamu menikahiku hanya untuk rasa tanggung jawab! Maka semua perasaan itu hilang seketika. Dan aku bahkan sekarang sudah tidak perduli, apa niatmu untuk hubungan ini.” Ungkap Brina, semakin membuat Aldo kehabisan kata - katanya.
“Kamu bukan Kak Albert, suami mendiang kakak aku yang berjuang untuk mendapatkan cinta istrinya, yaitu kakak aku. Dan sepertinya pembicaraan kita sudah seharusnya kita akhiri di sini, karena kita sudah tidak ada lagi yang harus kita bicarakan.” Tungkas Brina, yang lalu ingin melangkahkan kakinya pergi keluar kamar.
Brak, ckrekkk, Aldo lebih dulu menutup pintu dengan keras, lalu menguncinya dan membuang kuncinya keluar lewat balcon. “Aldo, apa - apan kamu?!” Sentak Brina, ketika suaminya itu melakukkan hal yang konyol dengan membuang kunci keluar sana.
“Kamu masih belum boleh keluar dari kamar ini kalau kita belum selesai berbicara!” Tekan Aldo, tidak mau Brina keluar dan menghindar dari masalah mereka saat ini.
Brina menggelengkan kepalanya pusing, lalu kembali duduk di tempat tidur menatap ke arah Aldo yang saat ini berdiri di hadapannya. “Mau bicara apa lagi? Bukankah semuanya sudah selesai?” Tanya Brina.
Aldo mencoba menahan emosinya, jujur dia bukan marah dengan kata - kata Brina, tapi dia marah dengan keadaan ini. “Tidak bisakah kita bicara baik - baik dulu, dan mencari jalan keluar untuk masalah ini?! Aku tidak mau hubungan kita menjadi seperti ini Brina, aku mau memperbaiki semuanya?!” Tanya Aldo, dengan wajah yang menaruh penuh rasa harapan kepada istrinya.
“Oke mungkin awalnya, memang aku akui aku menikahimu karena rasa tanggung jawab seperti yang Marina katakan. Tapi makin ke sini aku makin sadar bahwa keluarga kita berharga Brina.”
“Aku menolak untuk menikahimu dulu, karena aku mempunyai masa lalu yang buruk, dan aku sudah menceritakan semunya sama kamu waktu itu.”
“Dari kecil aku hanya hidup bersama dengan Code dan beberapa pengawal, aku takut aku tidak bisa bertanggung jawab dengan kamu dan anak - anak kita. Hanya itu saja.” Aldo mengatakan semuanya kepada Brina. Dia tahu jika istrinya ini adalah orang yang begitu sulit untuk mempercayai perkataan orang lain. Tapi harapannya, untuk kali ini Brina bisa percaya kepadanya.
“Aku dulu memang menyukai Marina, tapi sebatas hanya suka saja, aku tidak pernah mencintainya, jadi kalau dikatakan dia bukanlah First love aku.” Sambungnya lagi. Namun Brina hanya diam saja tanpa merespon apapun.
Sepertinya Brina sudah mengeraskan hatinya, sampai wanita itu sama sekali tidak tersentuh dengan kata - kata manis dari Aldo.
“Aldo, aku mungkin memang Ibu dari anak - anakmu, tetapi mungkin yang bisa menjadi cintamu itu bukan aku nantinya.” Balas Brina, membuat Aldo hanya bisa membalasnya dengan senyuman.
Tetapi ternyata Aldo salah, anak bukanlah sesuatu yang bisa membuat Brina luluh, dan sekarang Aldo terasa seperti mati langkah di buat oleh istrinya sendiri.
Semua karena kehadiran Marina, hati Brina yang terbuka dan mencair walaupun sedikit kini harus membeku kembali.
Aldo memejamkan matanya, merasa bingung harus bagaimana lagi sekarang. Dan akhirnya dia memilih untuk berlutut di bawah kaki Brina, agar bisa kembali diberikan kesempatan.
“Brina, kita sudah sama - sama dewasa, dan kita sudah mau memiliki dua anak. Kita bukan lagi seorang remaja yang baru mengenal cinta,”
“Aku tahu, bagaimana sulitnya semua ini, tapi aku adalah laki - laki Brina, aku adalah ayah dari Hanna dan juga anak ke dua. Aku dan kamu sejujurnya tidak ada yang mau mereka tumbuh tanpa kasih yang lengkap dari ke dua orang tuanya.”
“Tidakkah kamu melihat senyum dan tawa bahagia Hanna, mengenalkan aku sebagai Daddynya kepada teman - temannya, mengatakan pada teman - temannya akhirnya aku punya Daddy.” Ungkap Aldo, berlutut sembari menggengam jemari Brina, bahkan tanpa sadar dia meneteskan air matanya.
Bukan karena dia cengeng, tetapi inilah tangisan seorang pria yang memohon kepada istrinya, agar tidak memikirkan ke - egoisan diri dibandingkan keinginan anak - anak mereka.
“Hanna, butuh kamu, Hanna butuh aku, kita adalah orang tuanya Brina. Dan aku sama sekali tidak ada niatan sedikitpun untuk bermain api apa lagi bersama dengan Marina.”
“Aku tidak akan menyia - yiakan kebersamaanku bersama dengan anak - anakku, hanya karena seorang wanita saja. Aku tidak akan melakukkan itu Brina.” Ucap Aldo lagi, dengan setulus hatinya. Bahkan bisa di lihat dari ke dua sorotan mata Aldo. Bahwa laki - laki itu benar - benar serius mengatakan semua kalimatnya.
Brina merasa pusing sendiri dengan hal ini. Sebenarnya yang dikatakan oleh Aldo, sedikit banyaknya memang ada benarnya. Selama dia membesarkan Hanna, anak itu tidak pernah sebahagia ini memperkenalkan Daddynya kepada teman - temannya. Dan dia juga tidak mungkin menghilangkan begitu saja kebahagiaan itu.
Hanna yang mengatakan bahwa dia senang melihat Aldo ada tinggal bersama mereka, lagi - lagi membuat Brina kembali berpikir untuk mengambil keputusan saat ini.
“Aku memang bukan kak Albert, yang kamu katakan mungkin menjadi sosok laki - laki sempurna yang bisa meluluhkan hati kakak kamu. Aku juga bahkan tidak mengenal mereka, tetapi aku akan mengambil contoh dari Kak Albert untuk berjuang mendapatkan cintamu bahkan mencairkan hatimu itu hingga mengalir deras.” Ucap Aldo dengan penuh keyakinan.
Mungkin dia adalah laki - laki dengan begitu banyak kekurangan, dan tidak bisa dibandingkan dengan pria - pria hebat di sekeliling Brina. Namun dia pasti akan berjuang untuk membuat keluarganya menjadi damai. Untuk memberikan kenyamanan, kasih sayang serta cinta ke pada Brina, Hanna dan calon anak ke dua mereka.
“Aku tidak tahu Aldo, aku tidak bisa mengatakan apa pun sama kamu saat ini. Mungkin memang benar, tentang kebahagian anak - anak kita, aku juga harus memikirkannya, dan aku akan memberikan keputusanku nanti, setelah aku memikirkannya.” Seru Brina, membuat Aldo bisa merasakan jika Brina bisa memberikannya sebuah harapan. Dan Aldo berharap besar bahwa Brina bisa memberikannya kesemapatan itu.
To Be Continue.
Hey teman - teman, jangan lupa ya, untuk Like, Komen, Vote dan jika berkenan memberikan Hadiahnya untuk Mimin. Agar mimin lebih semangat lagi updatenya, biar gakmalas - malasan lagi.
Terima kasih 🙏🏻