The Mejesty It’S Husband

The Mejesty It’S Husband
Drama Hanna di Siang Hari



🌊 KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹


💐 HAPPY READING 💐


Setelah makan bersama, kini Hanna menangis jingkar karena memaksa ingin berenang. Padahal Eden dan Brina sudah melarang karena hari masih sangat siang.


“Huwwaaaaa, Ha - Ha - Hanna, Hanna Ingin berenang.” Tangisnya sampai terseduh - seduh membuat satu Vila merasa heboh dengan suara tangisan Hanna.


“Di luar panas sayang, bisa sakit kepala nantinya.” Brina menolak keinginan putrinya dengan alasan yang cukup masuk di dalam akalnya.


“Hanna, cucu Grandma sayang, nanti ya, tunggu sebentar lagi, tunggu Grandma nanti kita berenang sama - sama.” Ucap Eden, juga berusaha membujuk cucunya itu.


“Tidak mau! Hanna mau sekarang, Hanna Mau sekarang! Pokoknya sekarang! Hisk,,hiskk.” Tegasnya kekeh pada pendiriannya.


Sebenanrnya jam sudah menunjukan angka 3 sore, hanya saja Brina masih belum mengizinkan Hanna untuk keluar karena kalau terlalu panas kulit Hanna bisa merah dan gatal - gatal.


“Hanna yuk berenang yuk sampai adik Michel yuk,” ajak Brio, yang membuat Brina menatapnya dengan tajam.


“Kakak, kita berusaha supaya menolak keinginanya, kakak malah ngajak Hanna berenang.” Ketusnya, merasa kesal dengan kakanya ini.


“Tidak apa - apalah, biarkan dia bereksporasi, ada Sun Screen sulitnya di mana?” Balas Brio, yang membuat Hanna semakin histeris melawan Mommnya.


Brina sampai harus menghelas nafasnya berat, karena mau tidak mau dia menuruti keinginan putrinya. Padahal kepalanya sangat sakit sekali karena butuh istirahat.


“Aldo mana Aldo?” Tanya Eden pada putrinya.


“Tidak tahu Mom, katanya tadi mau naruh koper ke dalam kamar,” jawab Brina mengingat kata - kasa suaminya yang tadi, yang pamit ke kamar untuk meletakan koper.


“Biar aku priksa di kamar Mom.” Timpalnya lagi, meminta pada Mommnya untuk menjaga Hanna sebentar.


Eden menganggukan kepalanya pelan. “Biar Mommy yang pakaikan Hanna Sunscreen dan pakaikan baju renang untuknya.” Tandasnya, lalu mengambil tas paket berenang khusus Hanna yang memang sudah di siapkan.


***


Brina melangkahkan kakinya pelan, masuk ke dalam kamar yang sudah di siapkan untuk mereka.


“Astaga! Dia malah tidur!” Seru Brina, ketika melihat suaminya sedang enak - enakan tidur seperti itu di saat dirinya sibuk menenanngkan putrinya yang mengamuk di luar.


Brina kembali menghela nafasnya, lalu dia mengambil bantal dan memukulkannya ke wajah Aldo. “Bangun! Bangun!” Perintahnya, dan membangunkan tidur suaminya itu.


“Sayang, aku ngantuk, biarkan aku beristirahat sebentar saja.” Pinta Aldo, lalu menganggti posisi tidurnya agar tidak kena jangkauan pukulan dari Brina.


“Enggak, bangun sekarang! Anak kamu nangis - nangis itu loh di depan! Bangun! Aldo!” Perintahnya lagi, lalu memukuli lagi suaminya dengan bantal.


Mau tidak mau Aldo terbangun dan berusaha mengumpulkan nyawanya yang belum 100 % kembali.


“Hanna mau berenang, kamu temanin, aku sakit kepala sejak tadi.” Pintanya lagi pada Aldo.


“Sakit kepala kenapa? Butuh obat tidak? Atau mau ke rumah sakit?” Tanya Aldo dengan begitu khawatir.


“Enggak! Aku yang butuh istirahat, aku yang darah tinggi sejak tadi sama kalian.” Jawabnya dengan ketus.


“Jangan gitu dong sayang, kamu jangan marah - marah mulu, nanti anak kita jadi sedih loh.” Ucap Aldo, menedekat ke arah Brina dan mengelus perut istrinya yang masih rata itu.


“Ya sudah, aku ganti baju sekarang.” Tungkasnya, lalu beranjak dari tempat tidurnya dan mendekat ke arah lemari, di mana dirinya tadi sudah merapikan barang - barang yang mereka bawa.


“Eh, tapi tadi di luar aku melihat ada banyak orang, Vila ini apakah tersambung dengan Vila yang lainnya?” Tanya Aldo pada istrinya.


Brina menganggukan kepalanya pelan, lalu dia duduk di atas tempat tidur. “Iya, nah yang ini memang Vila milik Daddy, yang sebelah milik kak Aiden dan yang sebelahnya lagi milik Kak Alson, hanya saja yang sebelah - sebelah - sebelahnya lagi itu milik orang lain, sepertinya juga di sewakan, makanya pantai itu tidak lagi sepi seperti dulu, sekarang ramai ya seperti yang kamu liat tadi, banyak orang asing yang pastinya mereka adalah pengunjung.” Jawab Brina, menjelaskan kepada suaminya, mengapa pulau itu terluhat sangat ramai.


“Lalu, untuk yang Mommy dan Daddy katakan, jika ini adalah tempat lahir Griffin itu benar?” Tanya Aldo lagi.


“Iya benar, dulu Griffin lahir di sini, dan bersamaan dengan tragedi itu.” Jawab Brina lagi.


Aldo menganggukan kepalanya pelan, dan berpikir sejenak, jika ternyata kehidupan keluarga istrinya ini sangatlah lebih runyam dari pada kehidupan dirinya.


Jika dirinya hanya hidup dengan mencari tahu tentang pembunuh orang tuanya yang ternyata begitu mudah di dapatkan, tidak sama dengan keluarga istrinya.


Mereka sepertinya terdengar jatuh dan bangun berulang kali karena bangak tragedi - tragedi yang membuatnya harus kehilangan banyak keluarga mereka.


Dan hari ini adalah benar - benar hari pertama di mana dirinya berkenalan dengan dekat oleh semua keluarga besar istrinya.


Sedangkan di hari pernikahaanya, Aldo malah hanya berbicara dengan sedikit dengan mereka dan sama sekali tidak tahu tentang kejadian - kejadian di masa lalu.


Aldo yang telah siap dengan celana pendeknya, tanpa mengenakan T - Shirt, lalu menoleh ke arah istrinya yang terlihat sedang duduk sembari memainkan ponselnya.


Dan tiba - tiba saja, Aldo berkeinginan untuk memeluk istrinya itu dengan erat. “Ahh, Aldo.” Brina terkejut ketika dirinya mendapatkan sebuah pelukan tiba - tiba dari suaminya.


“Terima kasih ya Brina.” Ucapnya dengan tulus.


“Terima kasih untuk apa?” Tanya Brina, merasa bingung dengan ucapan terima kasih tiba - tiba yang suaminya ucapkan. Karena seingatnya, di tidak melakukkan apa pun yang berharga.


“Semua kehidupan ini, bersama denganmu, aku bahagia, aku memilikimu, aku merasa semua hal yang aku impikan, aku harapkan semuanya ada bersamamu, terima kasih karena sudah memberikanku seorang putri yang begitu cantik seperti Hanna, terima kasih karena kamu kembali mau mengandung buah cinta kita, terima kasih atas semuanya,” ucapnya dengan tulus.


Brina akhirnya paham, kenapa suaminya tiba - tiba menjadi melow seperti ini. “Sudahlah, tidak ada yang perlu di ucapkan terima kasih, karena semua ini sudahlah takdir.” Balas Brina dengan membalas pelukan hangat suaminya.


“Kamu tahukan, aku selalu menolak untuk bersamamu, tapi percayalah ketika aku bersih keras untuk menolak, takdir itu kembali menyatukan kita kembali, terpisah 5 tahun, aku melahirkan Hanna, dan aku pikir jika aku menghindarimu maka aku tidak perlu khawatir, ternyata aku kembali lagi padamu, berulang kali kembali padamu. Seperti itulah takdir kita.” Ungkapnya lagi, dan Aldo menganggukan kepalanya pelan.


Dia mengingat perkataan istrinya yang mengatakan kalau dirinya harus berusaha untuk membuka hati Brina, membuka perasaan itu agar bisa menerima takdir yang memang sudah tertulis nama mereka berdua.


Be Continue. *


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.


Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎


*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭


Terima kasih🙏🏻🙏🏻