
❤️ Happy Reading Bestie ❤️
Antara pasrah dan tidak tahu harus bagaimana lagi, karena memang sudah tidak ada pilihan untuk Brina saat ini.
Apa lagi di saat Aldo memanggilnya terus menerus untuk keluar dari mobil, di saat mereka sudah sampai di parkiran rumah sakit.
Brina menatap rumah sakit itu, sungguh sama sekali tidak kepikiraan jika Aldo akan membawanya ke rumah sakit ini, rumah sakit tempatnya melahirkan Hanna.
Coba dia tahu, mungkin dia akan lebih dulu menyogok dokter tersebut, namun lagi - lagi dia harus di ingatkan bahwa dokter obygn di sini juga cuman bukan dokter itu.
Apa lagi mereka datang tanpa membuat janji, itu membuatnya akan mendapatkan dokter yang random.
“Kamu sudah mendapatkan nomornya?” Tanya Brina, ketika Aldo kembali dengan membawa berkas yang diberikan oleh pendaftaran tadi.
“Sudah, dan aku tidak menyangka jika kamu melahirkan Hanna di sini, aku baca dari recordnya.” Jawab Aldo, membuat Brina hanya memilih diam, dan lalu mengikuti langkah Aldo yang menuntunya untuk segera bertemu dengan dokter Obygn.
****
“Hallo, silahkan duduk,” sapa dokter Dervis, yang tentu saja bukan dokter yang menangani Hanna dulu.
“Nyonya Brina ya, pasien dokter Roy,” ucap Dervis lagi, setelah melihat riwayat yang diberikan oleh Aldo.
“Iya dok,” balas Brina, dengan senyum terpaksanya.
“Oke, ini ada keluhan apa ya?” Tanya Dervis langsung pada intinya.
Aldo menoleh ke arah Brina, namun sepertinya Brina sama sekali tidak mau membuka suaranya. “Istri saya mual - mual terus Dok sedari semalam, dan ini adalah kehamilan ke duanya,” jelas Aldo apa adanya. Karena memang dia tidak tahu bagaimana caranya menjelaskannya pada dokter kandungan.
“Kehamilan ke dua ya? Sudah pernah testpack?” Tanya Dervis, membuat Brina seketika tersudut.
Kembali Aldo menunggu Brina menjawabnya. “Mampus aku.” Batin Brina tersenyum tipis ketika Aldo menatapnya.
“Sudah Dok, saya juga sudah periksa di dokter lain sebelumnya.” Jawab Brina dengan senyum.
“Baiklah, kalau begitu kita priksa sekali lagi ya Nyonya.” Ucap Dervis, lalu mempersilahkan Brina untuk berbaring sejenak di tempat tidur.
“Tidak usah Dok, saya -,” ucap Brina gugup ketika mendapatkan tatapan dari Aldo.
“Maksud saya tidak usah lama - lama Dok, langsung diperiksa saja.” Ucapnya lagi, sambil memikirkan cara, bagaimana caranya agar Aldo bisa keluar dari ruangan.
“Ehmm, Dok, saya merasa malu, bisakah suami saya keluar dulu?” Tanya Brina, lagi - lagi membuat Aldo menatapnya penuh dengan tanda tanya.
“Sudah tidak apa - apa, dokter laki - laki saja boleh melihatnya, masa aku suamimu tidak boleh?” Tandas Aldo membuat Brina semakin tidak mempunyai jawaban lain. Dan mau tidak mau dia harus mengikuti kemauan Aldo untuk periksa di depannya.
Dengan mengatur nafasnya, Brina siap jika Aldo akan marah kepadanya. Di saat Dervis sudah mulai meletakan alat usg di perutnya.
Dervis melihat ke arah komputer, sembari memutar - mutar alat itu di perut Brina, yang semakin membuat Brina merasa takut. “Di dokter kemarin bilangnya udah berapa minggu ya?” Tanya Dervis pada Brina.
“2 minggu satu hari dok,” jawab Brina, sesuai dengan usia kandungan Alica pada saat itu.
“Kalau begitu di sini, saya memperkirakan usia kandungan Nyonya Brina sudah 5 minggu 3 hari ya.”
“Apa dok?” Brina yang terkejut langsung terduduk dan menatap ke arah layar komputer.
Dervis menatap Brina bingung, “apa - apanya ini ya?” Tanya Dervis kembali.
“5 minggu, itu di hitung dari mana ya dok? Karena setahu saya 5 minggu itu berarti 1 bulan 1 minggu. Sedangkan kami menikah baru cukup satu bulan dok.” Seru Aldo yang malah merasa bingung dengan usia kandungan Brina yang lebih seminggu dari tanggal mereka berhubungan.
Sedangkan Brina malah bingung di saat dia di diagnosa hamil beneran. “Oh bukan begitu Pak, cara perhitungan kehamilan itu di saat Hari terakhir Haid, dan sering ada kasus yang seperti ini, beda usia kandungan dan hubungan seminggu atau dua minggu Pak.” Jelas Dervis membuat Aldo menganggukan kepalanya paham.
“Berarti itu bukan berarti istri saya selingkuhkan dok?” Tanyanya lagi, karena merasa khawatir bahwa Brina ada berhubungan lain selain bersamannya.
“Tidak pak, dari usia kandungan dan juga usia pernikhaan kalian, ini adalah masih batas normal, apa lagi sebelum kalian menikah Nyonya baru selesai Haid, itu berarti juga sudah masuk ke dalam masa kehamilan Pak.” Jelas Dervis lagi, membuat Aldo mengerti dan akhirnya sama sekali tidak merasa khawatir akan keraguannya tadi.
Sedangkan Brina terlihat sedang bengong, “kenapa harus hamil?” Tanyanya pada diri sendiri.
Mendengar dirinya yang hamil, Brina merasa seperti senjata makan tuan. Niatnya yang ingin bermain - main, kenapa sampai hamil beneran.
“Hiskk,,,hiskk,” Brina menangis, meratapi nasibnya yang lagi - lagi harus hamil anak Aldo.
“Kamu kenapa sayang?” Tanya Aldo bingung, di saat melihat Brina menangis.
Brina menggelengkan kepalanya, namun dengan air mata yang terus mengalir. “Tidak apa - apa,” jawabnya singkat. Padahal dalam hatinya dia merasa marah karena harus beneran hamil saat ini.
To Be Continue.
Hey teman - teman, jangan lupa ya, untuk Like, Komen, Vote dan jika berkenan memberikan Hadiahnya untuk Mimin. Agar mimin lebih semangat lagi updatenya, biar gakmalas - malasan lagi.
Terima kasih 🙏🏻