The Mejesty It’S Husband

The Mejesty It’S Husband
Rasa Penasaraan Mario



🌹 Happy Reading Bestie 😘


“Maksudnya seperti apa Bina?” tanya Mario, yang menganggap bahwa ucapan anaknya ini terasa begitu sangat ambigu.


Brina menghela nafasnya singkat, dia benar – benar akan memanfaatkan hal ini untuk menjelek – jelekkan Aldo.


“Sedari awal kenal dia, Mom, Dad, dia itu sudah bilang sama aku, bahwa dia itu memiliki penyakit bipolar.” Jelasnya dengan raut wajah yang serius, agar ke dua orang tuanya ini, lebih percaya lagi dengan yang dia ungkapkan.


“Bipolar!!!” pekik Eden dan Mario bersamaan. Dan di jawab sebuah anggukan kepala oleh Brina.


Mereka tidak menyangka saja, jika orang setenang Aldo bisa memiliki penyakit seperti itu.


“Benar, Mom, Dad, Bipolar, Kepribadian Ganda,” tekannya lagi, agar jauh lebih meyakinkan.


Mario dan Eden, kini terdiam dengan kebingungan mereka masing – masing, sedangkan Brina, terlihat begitu santai menikmati makan malamnya, tanpa merasa bersalah sama sekali karena sudah memfitnah seseorang.


“Sudah – sudah, tidak baik membicarakan seseorang, apa lagi saat ini dia tengah menjadi Tuan Rumah yang menyambut kita,” ucap Eden, memperingatkan putri dan suaminya.


“Baik Mom.” Jawab Mario dan Brina bersamaan.


Ke dua orang itu memang terlihat sama persis, mulai dari sifat hingga wajah pun sangat mirip. Bahkan Mario dan Eden merasa, bahwa Gabrina adalah renkarnasi dari Gabriella, yang nyaris memiliki kesamaan, namun sangat jauh di sifat.


Dan selama di luar sana keluarga Jonathan, masih menikmati makan malam mereka. Berbeda halnya dengan Aldo dan Code yang sudah berada di dalam kamar milik pria itu.


“Tuan, apakah Anda ingin mandi terlebih dahulu? Lalu mengganti pakaian tidur?” Tanya Code, dengan sedikit membungkukkan tubuhnya di hadapan Aldo.


Namun, bukannya menjawab, Aldo malah terlihat diam saja, dengan pandangan kosongnya. “Tuan,” tegur Code lagi.


Pria itu merasa khawatir, jika Tuannya sedang melamun seperti ini, pasti di dalam ingatan pria itu, terselip lagi kenangan pahit tentang ke dua orang tuanya dulu.


“Ya, Code, ada apa?” Tanya Aldo, yang ternyata sedari tadi tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh pelayannya itu.


“Tuan, Anda tidak fokus mendengarkan saya. Apakah ada yang sedang menggangu pikiran Anda?” Code harus siaga lebih dulu, jika Aldo membutuhkan sesuatu. Karena dia sudah sangat hafal, jikq Aldo tidak akan memberitahu apa pun, jika dirinya merasakan ketidaknyamanan.


Aldo menggelengkan kepalanya pelan, lalu dengan cepat menyambar handuk yang sedari tadi ada di tangan pelayannya itu, lalu dengan segera melangkah masuk ke dalam kamar mandinya, untuk membersihkan tubuh, walaupun masih di awal malam.


Code menoleh, dan memperhatikan setiap langkah dari Tuannya. “Ahh, sepertinya saya akan jadi penenang lagi untuk malam ini.” Gumamnya dengan senyum.


Dulu, ketika Code mengetahui, bahwa Tuan nya itu, dekat dengan seorang wanita, bahkan sampai berani menginap. Dirinya merasa, jika hidup Tuan Muda akan merasa jauh lebih bahagia.


Tujuan hidupnya memang hanya satu, membalaskan dendamnya, dan setelah itu, jika Tuhan ingin kembali mengambil nyamanya, maka dia akan dengan senang hati memberikannya.


****


Setelah menyelesaikan makan malamnya, Mario dan Eden terlihat tengah duduk di halaman belakang, yang tidak jauh terletak dengan sebuah taman.


Rumah Aldo ini, terlihat sangat sederhana. Berdiri dengan kokoh, dengan banyakannya hamparan tanaman hinau yang sudah dibentuk khusus seperti benteng pertahanan. Namun sayangnya, dia tidak mempunyai Kolam renang atau bahkan taman bunga, untuk sedikit menghias rumah itu, agar menjadi jauh lebih bewarna.


Mario dan Eden, yang tengah menikmati malam hari mereka, karena Brina melarang mereka untuk pulang.


“Enak sekali Teanya, benar – benar, tidak salah dengan namanya, Tea penghilang rasa kekhawatiran.” Eden, bergumam, dengan senyum yang terbit, ketika dia sedari tadi menghirup dalam – dalam aroma wangi khas Tea buatan Rumah Aldo.


Berbeda dengan Mario, yang sedari tadi hanya diam saja, karena merasa begitu penasaran dengan masa lalu dari pria yang merupakan ayah dari cucunya.


“Sayang, kamu dengar aku tidak sih?” Tegur Eden, ketika dia sudah berulang kali mengajak suaminya mengobrol.


Sontak saja, Mario tersadar dari lamunan nya, lalu tersenyum kikuk menatap istrinya.


“Iya, aku dengar,” sahut Mario dengan malas.


“Kamu sedang memikirkan apa? Kenapa dari tadi seperti orang yang banyak beban pikiran?” Tanya Eden yang begitu penasaran.


Mario sejenak menghela nafasnya, dia bahkan berekspresi bingung, sambil menatap langit, yang terlihat begitu banyak bintang.


Namun, belum saja Mario menjawab pertanyaan istrinya, tiba – tiba saja, ada seseorang yang menghampiri mereka, untuk kembali menyeduhkan Tea untuk ke duanya.


“Silahkan, Tuan, Nyonya,” ucap seseorang itu. Yang merupakan seorang pria paruh baya, dengan kaca mata kecil yang dia gunakan. Dan nampak seperti seorang Professor.


To Be Continue.


Hey Teman - Teman, jangan lupa ya, untuk, Like, Komen, Vote dan Hadiahnya untuk Karya Mimin ini. Agar mimin lebih semangat lagi untuk updatenya.


Dan Jangan lupa juga untuk mampir ke karya mimin yang lainnya ya.


Terima Kasih.