
🌹 Happy Reading Bestie 😘
Penolakan tinggalah sebuah penolakan, bahkan keinginan Brina untuk kabur sementara dengan membawa Hanna putrinya, hanyalah menjadi sebuah rencana belaka.
Brio yang tahu keinginannya untuk kabur membawa Hanna, malah dirinya yang lebih dulu membawa anaknya itu pergi ke Jerman, dengan alasan rindu pada sepupunya Michel yang merupakan anak dari kakaknya.
Membuat Brina benar – benar tidak berani melangkahkan kakinya keluar jika tidak bersama putri kecilnya itu.
Terlebih lagi, pengawal serta body guard yang menjaga kediamannya selama 24 jam itu. Sangat tidak memungkinkannya untuk kabur.
***
Hari ini, Brina terlihat begitu cantik dengan balutan gaun putih tanpa lengan, memperlihatkan bahunya yang terlihat begitu mulus, serta bagian bawah depan yang hanya menutup sampai lutut dengan belakang ekor panjang, membuat tubuhnya yang kecil, terlihat menjadi sedikit tinggi.
Brina terlihat memasang senyum palsunya di hadapan semua tamu, agar Daddynya tidak mendapatkan malu karena pernikahaan paksa ini.
Tidak berbeda dengan Aldo, pria itu terlihat tampan dengan balutan jas hitam, serta kemeja putih tanpa mengenakan Dasi itu, membuat penampilannya terlihat lebih fresh.
Dengan disaksikan keluarga besar Jonathan, kerabat dekat Serta keluarga Manopo yang sengaja di undang dalam acara ini. Ke dua insan yang sudah terpisah lama itu, akhirnya berhasil bersatu.
Setelah mereka mengucapkan janji suci , saat ini keduanya tengah sibuk menerima ucapan selamat dan doa dari para tamu yang hadir.
Sejenak Mario terdiam menatap putri bungsunya yang baru saja mengikat janji suci itu.
“Mengapa kamu terdiam dengan menatap ke arah putri kita seperti itu?“ tanya Eden, yang menyadari bahwa suaminya sedang memikirkan sesuatu saat ini.
Mario menoleh ke arah istrinya, lalu menampilkan senyum ketirnya yang begitu samar. “Apakah kamu menyadari, apa yang terjadi pada putri bungsu kita ini, adalah sebuah renkarnasi dari kisah masa lalu kita dulu.” Lirih Mario, dengan pandangan kosong mengingat masa lalu, di saat dirinya menikahi Eden, sosok wanita yang saat ini menjadi istrinya.
Di mana Eden yang sedang hamil harus pergi, tanpa dirinya tahu bahwa Eden tengah mengandung putrinya, melahirkan seorang diri tanpa kehadirannya, persis seperti Brina yang melahirkan Hanna tanpa hadirnya Aldo.
Belum lagi, harapan dirinya yang menghamili Eden untuk ke dua kalinya, agar dirinya bisa diterima menjadi suami serta ayah dari Briell.
Mendengar hal itu Eden ikut terdiam sejenak, karena tentu saja Eden begitu mengenang masa lalu kelam itu. “Karena itu, aku tidak ingin kamu terlalu menekan Aldo dalam masalah ini.”
“Aku begitu marah, ketika kamu tidak mau mendengar alasan mengapa Aldo menolak untuk menikahi putri kita kemarin.” Ungkap Eden, memberitahu pada Mario, bahwa tidak semua masalah harus diselesaikan dengan penuh emosi.
Mario menganggukan kepalanya pelan dan membenarkan apa yang dikatakan oleh istrinya itu.
“Aku hanya tidak menyangka saja, jika karma buruk dari masa lalu yang aku lakkukan, kini harus menimpa kepada putri kita satu – satunya ini.” Tidak bisa disembunyikan, rasa sedih, serta kecewa terhadap diri sendir, kini mulai mengganggu pikiran dari pria paruh baya itu.
Dirinya merasa benar – benar gagal, memberikan perlindungan kepada tiga anaknya serta cucunya.
Mulai dari gagalnya dia menyelamatkan nyawa dari putri sulung serta menantunya, gagal mendidik Brio hingga anaknya itu berani menghamili Keponakannya sendiri, sekerang Brina putri bungsunya harus menerima karma buruk yang dia lakukkan. Dan terakhir yang membuatnya begitu terpuruk adalah gagalnya dirinya menjadi seorang kakek yang harusnya mampu menarik cucunya dari jalan kegelapan yang dulu pernah membuat dirinya menderita hingga saat ini. Dia benar – benar gagal menjaga ananat dari Briell mendiang purtrinya yang pastinya menaruh harapan besar kepadanya agar bisa mendidik dan memberikan perlindungan kepada Griffin.
Dia gagal menghapuskan rasa benci itu dari hati dan pikiran cucunya . Dia benar – benar telah gagal menjadi seorang ayah serta kakek dalan keluarganya.
Tanpa terasa Mario menetesakn air matanya dengan perlahan, “bagaimana bisa, aku berhasil menjadi seorang pemimpin dari ratusan ribu karyawan, sedangkab aku malah gagal menjadi seorang ayah dari tiga anak?” Tanyanya pada Eden, yang sampai saat ini masih setia menggengam tanganya.
Kesedihan di hati Mario, perlahan – lahan membuat sikapnya berubah menjadi lebih pendiam. Sejak saat dirinya mengetahui bahwa Brina putri bungsunya hamil di luar nikah. Perasaan Mario benar – benar sangat hancur, dan merasa sangat gagal menjadi seorang pemimpin keluarga.
To Be Continue.
Hey teman - teman, jangan lupa ya, untuk Like, Komen, Vote dan jika berkenan memberikan Hadiahnya untuk Mimin. Agar mimin lebih semangat lagi updatenya, biar gak malas - malasan lagi.
Terima kasih 🙏🏻