
🌊 KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹
💐 HAPPY READING 💐
“Kami tidak akan seperti mereka Yang Mulia, kami akan selalu menuruti permintaan Anda.” Ucap Ceyday.
“Kami Akan selalu siap menunggu perintah Anda Yang Mulia.” Sahut Code lagi.
Ke tiga pelayan itu, selalu saja menjadi nomor satu untuk Raja, sehingga tidak memberikan kesempatan pada pelayan lainnya untuk melayani Raja.
Melihat ke tiga pelayannya, barulah L’Arc ikut ke tiganya untuk melihat yang lainnya. Serta dia ingin melihat apa yang sudah di siapkan oleh para pelayannya.
“Silahkan Yang Mulia.” Ucap Puff, mempersilahkan Rajanya untuk duduk terlebih dahulu di meja makan.
Tanpa bicara apa pun lagi, kini L’Arc duduk kursi tersebut dan menunggu apa yang dihidangkan.
Pokk,,pokk, Code menepuk tanganya untuk meminta para pelayan mempersiapkan makanan di atas meja.
Tidak menunggu waktu lama, satu persatu makanan yang dibawa oleh pelayan - pelayan tersebut sudah terhidang di atas meja.
Namun, pandangan L’Arc jatuh pada seorang pelayan wanita yang menurutnya masuk ke dalam sorotannya.
“Duduk di sini!” Perintah L’Arc yang terdengar begitu ambigu.
Sontak saja, ke tiga pelayan setia itu merasa bingung, kepada siapa Raja mereka ini berbicara. “Yang Mulia.” Tegur Puff pada Rajanya.
“Aku mau kamu duduk di sini! Temani saya duduk di sini!” Perintahnya lagi. Dan kini tatapannya tepat ada di depan seorang pelayan wanita yang sedang menghidangkan minum kepadanya.
Puff menatap pelayan wanita itu, “Sesuai keinginan Anda Yang Mulia.” Sahut Puff, lalu memberikan kode pada pelayan wanita itu untuk duduk di samping raja, sesuai permintaan L’Arc.
“Siapa nama kamu?” Tanya L’Arc pada pelayan wanita itu.
Pelayan wanita itu terlihat diam, menunjukan badanya yang gemetar, sepertinya dia takut dengan L’Arc.
“Jangan sampai saya -“
“Therese Yang Mulia.” Jawabnya lebih dulu, sebelum Rajanya itu mengulang kalimatnya, karena dia tahu jika Rajanya L’Arc, sangat tidak menyukai jika dirinya mengulangi kalimatnya.
“Pufff,” panggilnya pada salah satu pelayan setianya.
“Yes, My Highness.” Sahut Puff, lalu berlutut untuk bersiap mendengar perintah Rajanya.
“Bawa Therese pergi mengganti pakaiannya, aku mau dia terlihat layak untuk duduk di sebelahku! Tidak dengan menggunakan pakaian pelayan ini!” Perintahnya pada Puff.
“Baik. Yang Mulia.” Balas Puff, lalu memberikan kode pada Therese untuk mengikuti langkahnya.
Therese yang merasa sangat bingung dengan situasinya, memilih untuk bangkit kembali dari kursi itu, lalu mengikuti langkah Puff yang mengarahkannya entah kemana.
Code menyeritkan keningnya bingung, ketika mendapatkan Rajanya meminta Puff untuk mengantikan pakaian untuk pelayan.
“Permisi Yang Mulia, bolehkah saya memberikan saran kepada Anda?” Tanya Code, dengan menundukkan kepalanya, tanda menghormati Rajanya.
“Apa?” Tanya L’Arc balik langsung to the point.
“Yang Mulia, maafkan atas kelancangan saya ini, tetapi menurut saya sangat tidak pantas bagi Anda seorang Raja Agung meminta seorang pelayan untuk duduk di samping Anda Yang Mulia.” Jawabnya, memberikan saran yang menurutnya baik untuk Raja L’Arcnya.
Sontak saja L’Arc menatap Code dengan tajam. “Aku tidak membutuhkan saranmu yang tidak sesuai dengan keinginanku!” Tegas L’Arc membuat Code langsung terdiam bahkan tidak lagi bisa memperlihatkan senyumnya.
Detik selanjutnya, Code mencoba menghela nafasnya panjang, lalu mundur mensejajarkan dirinya dengan Ceyday yang berdiri di belakang. “Kenapa kamu terlalu sering memberikan saran pada Raja?” Tanya Ceyday, seorang pelayan yang paling bodoh dan paling lemah di antara ke dua lainnya.
“Diam!” Bentak Code, karena merasa hatinya tidak enak ketika Rajanya mulai tidak mau mendengarkannya.
Sontak saja, Ceyday memilih untuk menutup mulutnya, dan tidak akan bertanya apapun lagi pada Code.
Tidak menunggu waktu yang lama, Puff telah kembali dengan Therese. Puff meminta make up Istana untuk mendandani Therese hingga wanita itu terlihat layak duduk di samping Raja.
Setelah Therese kembali duduk di samping L’Arc, barulah L’Arc menatap ke arah pelayan yang lainnya. “Sajikan makanananya!” Perintahnya meminta pelayan - pelayan itu menghidangkan makanan di atas piringnya.
Walaupun makanan sudah di hidangkan di atas meja, tetap saja L’Arc membutuhkan para pelayan - pelayan untuk menyajikan makanan - makanan itu di dalam piringnya.
Bergegas, pelayan - pelayan itu menyajikan makanan ke dalam pirinh Sang Raja. “Kenapa kalian hanya menghidangkan makanan di dalam piringku? Apakah kalian tidak melihat? Ada piring Therese yang kosong di sampingku!” Bentaknya pada para pelayan yang terlihat mengabaikan piring Therese di sampingnya.
Mereka tidak melayani Therese, padahal Therese sedang duduk di sampingnya.
“Maaf Yang Mulia, dia ini hanyalah seorang pelayan sama seperti kami, dan dia bisa menyajikan makanan mereka sendiri.” jelas Gaye yang merupakan kepala koki di dalam dapur.
Sreeeekkkk, lagi dan lagi L’Arc mengeluarkan pedangnya untuk memenggal kepala pelayannya tepat di depan Therese, membuat wanita itu merasa sangat ketakutan. “Yang Mulia.” Lirihnya pelan, dengan mencengkram kuat gaunnya.
“Aku sudah berulang kali mengingatkan pada kalian! Bahwa aku tidak mau mengulang - ulanh kalimatku!” Sentak L’Arc pada siapapun yang mendengarkannya.
Puff, Ceyday bahkan Code, kembali harus menarik nafas mereka dalam - dalam, lalu menghelanya dengan kasar.
3 orang yang di halaman saja, baru selesai mereka urus, dan kembali Raja mereka membunuh lagi dan kali ini di dekat Meja makan.
Bakal sulit membangkitkan nafsu makan Raja, ketika dia sudah marah seperti ini.
Sedangkan para pelayan yang lainnya, merasa ketakutaan dan kini mereka bediri sembari gemetaran di tempat mereka masing - masing.
Sebenarnya mereka juga tidak menyangka Gaye begitu berani menjawab Kalimat Raja seperti itu.
L’Arc kembali menghela nafasnya panjang, lalu dia kembali duduk di meja makan, tepat di samping Therese.
“Aku ingin makan di Paviliun belakang! Segera siapkan!” Perintah L’Arc lagi, pada para pelayannya.
Dia sudah tidak nafsu untuk makan di meja makan, dia berdiri beranjak dari tempatnya lalu menarik tangan Therese untuk ikut dengannya.
“Ikut sekarang!” Perintahnya pada Therese yang kembali terkejut ketika Rajanya memegang tanganya untuk di gandeng.
“Yang mulia.” Lirihnya begitu pelan, bahkan sangking pelannya L’Arc yang ada di sampingnya saja tidak bisa mendengarnya sama sekali.
To Be Continue. *
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎
*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻