The Mejesty It’S Husband

The Mejesty It’S Husband
Alasan Sikap Aldo yang Dingin



🌹Happy Reading BESTie 😘


Seharian ini, Keluarga Jonathan berada di rumah milik Aldo, mereka sudah melihat sendiri jika keadaan Hanna, sudah baik – baik saja, meskipun masih terlihat sangat lemah.


Mario, Eden dan juga Aldo juga sudah membicarakan permasalahan penculikkan kemarin.


Mungkin awalnya Mario marah karena sikap dan tindakan Aldo yang sangat tidak terpuji seperti itu, tetapi Setelah dijelaskan dengan terperinci, akhirnya Mario paham, dan tidak lagi menyalahkan pria itu, atas kejadian ini.


Saat ini, semua keluarga Jonathan dan juga Aldo, tengah duduk di meja makan menikmati makan malam mereka, kecuali Brina.


Wanita itu sangat tidak percaya dengan pelayanan yang diberikan rumah Aldo kepada putrinya, sehingga dirinya sendirilah yang harus turun memasakkan dan mengurusi Hanna.


“Apakah Hanna sudah tidur?” Tanya Eden, ketika melihat putrinya itu muncul dan duduk di sebelahnya.


Brina yang nampak sangat lelah, memilih untuk hanya menganggukkan kepalanya pelan, “Sudah Mom, mungkin dia masih merasa tubuh dan pernafasaanya kurang bagus, makanya dia tertidur cepat,” ujarnya, dengan gerakan mulai mengambil garpu di hadapannya dan menyendok sedikit makanan yang berada di depannya.


“huhhhu, lapar banget aku Mom,” timpalnya, mengeluh pada Mommynya, dengan kunyahan pelan yang dia masukan sedikit demi sedikit di mulutnya.


Mario yang sejak tadi diam, dan memang menunggu putrinya itu, untuk berbicara, “Brina, Daddy ingin mengatakan satu hal pada kamu,” seru Mario, dengan mulut yang masih mengunyah makanannya.


“Ada Apa Dad?” tanya Brina dengan begitu penasaran.


Aldo yang berada di meja makan tersebut, rasanya ingin melemparkan dirinya menjauh saja, ketika dirinya berada di tengah – tengah hangat harmonisnya sebuah keluarga.


Rasa iri seketika muncul dari dalam hatinya, ketika dia melihat intraksi antara anak dan orang tua di hadapannya.


Code, yang sedari tadi melayani mereka semua itu, tahu bahwa Saat ini suasana hati Tuannya sangat tidak enak.


“Ehm, sepertinya kalian ingin membicarakan hal privasi, saya akan pamit undur diri terlebih dahulu, agar kalian bisa berbicara dengan leluasa,” tungkas Aldo, yang lalu berdiri tanpa menunggu jawaban atau pun respon dari Mario dan yang lainnya.


Code menatap ke arah Aldo, yang kini melangkah kian menjauh masuk ke dalam perpustakaan rumah.


Sebagai pelayan yang sudah merawat tuan mudanya sedari usia belia, Code sangat tahu apa yang menganggu pikiran Tuannya itu.


Mario yang merasa bingung dengan sikap Aldo yang terkesan sangat tidak sopan, meninggalkan meja makan begitu saja, membuatnya berpikir seribu macam keburukan dari Aldo.


“Apakah kamu sudah lama bekerja di sini?” tanya Mario langsung to the point pada pelayan itu.


“Sedari awal saya datang ke sini, saya hanya melihat kamu yang selalu saja sibuk dengan semua hal yang berada di rumah ini, lalu pelayan yang empat orang itu ke mana? Dan apakah pelayan di sini memang hanya kalian ber lima, atau seperti apa?” tanya Eden, yang sedari tadi juga ikut penasaran dengan keganjilan rumah ini.


Rumah, yang begitu besar bak Istana kerajaan, kenapa hanya di tinggali dengan enam orang yang sudah termasuk tuan dan semua pelayannya. Sangat aneh, jika Aldo yang katanya adalah seorang anak bangsawan, tetapi tidak nampak seperti seorang bangsawan.


Code terdiam sejenak mendengar pertanyaan yang di lontarkan oleh Nyonya Eden ini.


“Tuan Aberline atau yang biasa kalian sebut dengan Tuan Aldo, dia mempunyai Depresi berat, yang sangat berbahaya, dia selalu menarik diri dari perhatian sosial atau dari lingkungan luar, Tuan Aldo tidak mudah mempercayai siapa pun, dia hanya mempercayai kami, dan tidak akan mempercayai yang lainnya lagi,” ungkap Code kepada keluarga Mario.


“Ah, sepertinya, saya harus segera menyusul Tuan Aldo, jika kalian membutuhkan sesuatu, bisa meminta dengan Denna yang ada di belakang kalian,” ucapnya, menunjuk ke arah Denna yang sejak tadi berada di belakang mereka.


Dan setelah itu, tanpa menunggu jawaban dari Mario atau yang lainnya, lagi – lagi, Code menunjukkan sifat yang sama, dengan berpamitan tanpa adanya respon dari semua orang.


“Apa ini? Ternyata orang setenang Aldo, bisa memiliki penyakit Depresi,” gumam Eden, dengan sedikit berpikir.


Mario juga ikut menanggapi tentang penyakit Depresi yang diderita oleh Aldo.


“Sudahlah Mom, untuk apa mau di pikirkan, aku sudah bilang bukan, bahwa aku memiliki alasan tersendiri, kenapa dulu aku tidak menyukainya, dan rasa enggan untuk bersamanya,” sahut Brina, yang sepertinya mulai mendapatkan celah, untuk membuat reputasi Aldo semakin buruk di depan orang tuanya.


“Maksudnya seperti apa Bina?” tanya Mario, yang menganggap bahwa ucapan anaknya ini terasa begitu sangat ambigu.


**To Be Continue.


Hey, Teman - teman, jangan lupa ya, untuk Like, Komen, Vote dan Hadiah untuk karya Mimin ya, agar, Mimin lebih semangat lagi untuk Updatenya.


Dan jangan lupa untuk Mampir ke karya Mimin yang lainnya ya.


Terima Kasih 🙏🏻**