
🌹 Happy Reading Bestie 😘
Tidak lama kemudian, terdengar suara pengeras yang memanggil nama Aldo, membuat tatapan Brina terus saja menatap ke arah Aldo yang mulai memundurkan langkahnya.
“Sudahlah Do, gak ada gunanya kamu melayani wanita seperti itu,” seru seorang wanita yang sedari tadi memegang laptop dan berdiri di depan mesin mobil.
“Kurang Ajar, kalian –“ ucap Brina berhenti, ketika melihat Aldo yang masuk ke dalam mobil hitam di sebelahnya itu.
Brina menatapnya dengan bingung, untuk apa pria yang katanya pintar seperti Aldo masuk ke dalam mobil balap seperti itu.
Broommm,,brrrommm,,broommm, Aldo menggas – gas mobilnya dengan tatapan yang tidak lepas dari wajah Brina.
Namun, yang ditatap, bukannya terpukau malah menampilkan senyum liciknya.
“Sepertinya aku akan mendapatkan keberuntungan besar hari ini,” gumamnya, sambil terus berpikir untuk merancangkan idenya yang sudah menari – nari di dalam otaknya itu.
***
Brina mengikuti orang – orang yang lainnya yang mengarah ke area balap. Pandangan Brina sama sekali tidak bisa lepas dari pesona Aldo, apa lagi ketika dirinya melihat Aldo yang lagi di dalam mode cool seperti ini.
Pertandingan pun di mulai, dan dari awal saja sudah bisa di tebak, jika Aldo yang memimpin pertandingan ini.
Area gedung yang melingkar, membuat beberapa peserta harus berusaha agar bisa segera sampai di lantai atas.
Tidak lama mereka semua berada di lantai paling atas, terlihat mobil Aldo yang duluan muncul dibandingkan yang lainnya, dan itu menandakan bahwa Aldolah pemenang lomba balap liar kali ini.
“Yeeyyy,,yesss, sudah kami duga bahwa kamulah juaranya,” seru salah satu teman yang segrup dengan Aldo.
Dengan senyum bahagia Aldo keluad dari mobilnya dan menyalami semua teman – temannya.
Namun, pandanganya terus mengarah kepada Brina yang berada di antara manusia yang lainnya.
Brina hanya membalasnya dengan senyuman tipis, lalu segera pergi meninggalkan area itu, untuk kembali ke mobilnya.
Aldo merasa bahwa kepergian Brina kali ini pasti akan membawa masalah untuk kehidupannya besok.
“Siall!!!” umpat Aldo, lalu segera berlari untuk menyusul Brina, dan meninggalkan teman – temannya begitu saja.
Braaakkk, Aldo langsung masuk ke dalam mobil Brina, ketika melihat mobil gadis itu seperti ingin meninggalkan gedung.
“Aku tahu, bahwa kamu pasti akan menyusulku,” ucap Brina, merasa bangga ketika pria aroghan dan miskin seperti Aldo mengikutinya seperti ini.
Aldo menarik nafasnya dalam, karena ketika menghadapi Brina, emosinya pasti akan sangat – sangat terkuras habis nantinya.
“Aku melihat kamu merekam semua pertandingan tadi,” sahut Aldo, dengan mode serius kepada Brina.
“HAPUS VIDIO ITU SEKARANG!!” Aldo tidak ingin mengambil resiko, jika nanti Brina akan menyebarkan vidio itu, dan dirinya pasti akan dapat masalah dengan orang tua angkatnya khususnya dengan Kampus yang pastinya akan mengeluarkannya.
Brina tersenyum, “Orang miskin seperti kamu berani sekali memerintahku, punya nyawa berapa kamu?” Brina benar – benar hobby sekali jika merendahkan harga diri orang lain, khususnya Aldo yang menurutnya lebih dulu mencari masalah dengannya.
“Iya aku miskin, udah puas kam!”
“Sekarang, hapus vidio itu Brina!” perintah Aldo untuk ke dua kalinya.
Aldo merasa sangat pusing sekali, hingga dia harus memijat keningnya yang terasa nyeri. “Oke, aku minta maaf untuk masalah kemarin, aku melakukan itu karena kamu –“ ucapnya terhenti, ketika Brina mengangkat Tangannya lebih dulu untuk menyetopkan kalimat Aldo.
“Tidak ada orang yang meminta maaf dengan menyalahkan orang lain, kalau kamu salah ya salah saja” tegas Brina, dengan memasang wajahnya yang super galak itu.
Tenaga Aldo benar – benar terkuras saat ini, dia sama sekali tidak mengerti apa yang ada di dalam otak wanita itu.
“Oke, Gabrina, aku minta maaf ya, karena sudah membuat kamu malu di hari ulang tahun kamu kemarin,” Aldo berkata dengan sangat terpaksa merendahkan harga dirinya.
Brina mengetuk – ngetuk stir mobilnya, sambil terus berpikir apakah dia harus menjalankan ide di kepalanya ini atau tidak.
“Aku akan memaafkan kamu, dan janji tidak akan menyebarkan vidio itu dengan satu syarat,” Brina, sama sekali manusia yang tidak ingin rugi.
Baginya, menolong ataupun memaafkan seseorang itu harus dengan syarat. Jika tidak dituruti maka jangan harap Brina akan mendengarkan orang itu, walaupun terkadang minta maaf sajapun tidak guna dalam kamusnya.
“Apa syaratnya?” tanya Aldo tanpa ragu.
“Kamu harus mengerjakan semua tugas kampusku, kamu harus jadi guru aku tanpa dibayar dan juga –“ Brina menghentikan kalimatnya sejenak, karena dia sendiri tidak yakin dengan permintaanya ini.
“Juga apa?” sahut Aldo, tidak ingin bertele – tele lagi.
“Kamu harus mau jadi kekasihku, Final no debat,” tegasnya penuh dengan penekanan.
“Tidak, kalau syarat yang awal itu semua aku masih mau, tapi dengan syarat akhir aku gak.” Respon Aldo sama sekali di luar perkiraan Brina.
“Kenapa? Harusnya kamu itu bersyukur karena aku wanita paling cantik dan bahkan kaya, mau menjadikanmu pria dengan kasta terendah bahkan anak pungut untuk menjadi kekasihku.” Jelasnya tanpa memikirkan perasaan orang lain sama sekali.
Aldo tertawa mendengar semua kalimat yang keluar dari mulut Brina, “Kamu menganggap aku kasta rendah, tetapi kamu mau aku menjadi kekasihku, bahkan sepertinya hidupmu itu terlalu ingin tahu tentang asal usulku, sebegitu terpesonanya kah kamu denganku?” balasnya memojokan posisi Brina yang sepertinya sudah kalah telak dengan kalimatnya saat ini.
“Aku tidak perlu banyak menjelaskan ya, tetapi semua tergantung kamu, jadi pacar aku, dan setelah aku bosan dengan kamu Maka kita akan putus, lalu vidio itu akan hilang.”
Aldo kembali menimbang – nimbang permintaan Brina, dan bukan dirinya tidak tahu jika Brina adalah sosok playgirl yang suka gonta ganti pasangan dalam beberapa hari saja.
“Ahh, sudahlah lebih baik kamu terima saja dulu Do, mungkin saja kamu hanya jadi pacar seharinya,” batin Aldo, yang begitu yakin, jika Brina akan bosan dengannya dalam beberapa hari saja.
“Baiklah, jadi pacar kamu,” jawab Aldo, yang akhirnya tidak sengaja mengambil keputusan yang akan merubah segalanya.
“Bagus, jadi mulai sekarang, sebagai pacar yang baik kamu harus mau jyga menjadi sopir aku,” mata Aldo kembali membulat sempurna ketika mendengar ucapan Brina barusan.
“Pindah,” tegasnya dengan raut wajah yang begitu tertekan.
Brina begitu senang, dan langsung memberikan ruang untuk Aldo agar bisa menjadi supirnya mulai sekarang dan sampainya dia bosan.
“Kenapa tidak sekalian kamu menjadikanku babu mu saja,” umoat Aldo, yang tidak henti – hentinya ngedumal.
“Ide bagus, nanti aku akan pikirkan ya,” sahut Brina, dengan begitu santainya, tanpa perduli tatapan Aldo yang sudah siap ingin memakannya saat ini.
To Be Continue.
Hallo semuanya, Mimin hanya mau mengingatkan, Jangan lupa untuk Like, Komen, Vote dan hadiahnya untuk Mimin ya, agar Mimin lebih semangat lagi untuk updatenya.
Terima Kasih.