The Mejesty It’S Husband

The Mejesty It’S Husband
Perdebatan Keluarga



🌊 KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹


💐 HAPPY READING 💐


Saat ini Brina sedang berada di dalam kamar, dia menidurkan Hanna yang terlihat sangat lelah sekali.


Tadi juga luka - luka memarnya sudah di obati, tetapi luka yang berbekas di pergelangan tangan dan kakinya, mungkin Mario akan mencarikan dokter kulit terbaik agar bisa menghilangkan luka - luka berbekas itu.


Sedangkan yang lainnya, kini kembali kumpul di ruang tamu. Dan sama - sama saling terdiam tanpa bisa mengutarakan perasaan mereka masing - masing.


“Semoga ini adalah tragedi terakhir untuk keluarga ini, aku berharap tidak ada lagi penculikan - penculikan.” Gumam Mario, berbicara pada semua keluarga yang ada di situ.


Kecuali, Keluarga Albert mereka ber4 terlihat duduk di meja makan. Karena Albert dan Griffin belum mendapatkan makan malamnya.


“Di usia kita yang sudah sangat senja ini, rasanya sangat lelah sekali jika kita harus terus berurusan sama kegelapan, terutama kita yang sebentar lagi akan mendapatkan Cicit.” Ujar Stella, yang berbicara dengan Mario, Eden, Jenni dan juga Arnon.


Jenni menghela nafasnya, di antara semua hanya dialah yang sakit - sakitan. Keluar masuk rumah sakit dengan penyakit yang tidak bisa di obatin.


“Aku sudah mempunyai Cicit yang lahir dari Vita, jadi aku rasa kalaupun aku pergi cepat, aku tidak akan pergi dengan penyesalan karena sudah melihat anak dan cucuku bahagia.” Tandas Jenni, membuat Alson menatap Mamahnya dengan sedih.


Alson mengingat bahwa adiknya Albert belum mengetahui tentang penyakit Mamahnya. Mungkin nanti akan mereka bicarakan.


“Apa planning ke depan?” Tanya Mario pada L’arc dan Aldo.


L’Arc terlihat diam sejenak, lalu dia mulai menegakkan tubuhnya. “Aku masih Raja di istanaku, dan Renovasi Kastil Isatanaku sudah mulai rampung. Dan sudah pasti aku akan membawa Aldo, Brina dan Hanna untuk mendiami istana sebagai penerus kerajaan.” Jawab L’Arc dengan begitu yakin.


“Bagaimana dengan kalian?” Tanya L’Arc balik pada Mario.


“Awalnya aku tidak pernah berpikir jika anak bungsuku akan keluar dari rumah dan datang dengan keluarga baru.” Jawab Mario, lalu menatap ke arah istrinya.


“Namun, aku di ingatkan kembali jika wanita yang sudah menikah adalah tanggung jawab suaminya.”


“Jadi, aku titip Brina untuk kalian sayangi, sebagai Daddy dari Brina, aku hanya meminta dan memohon, jaga anak bungsuku dengan baik, jangan sakitin apa lagi khianati dia. Karena setiap tetes air mata yang dia jatuhkan karena sebuah kesakitan, aku tidak akan pernah memaafkan di setiap bulirnya.” Jelas Mario lagi, yang sebenarnya tanpa dia katakan, sudah jelas bahwa L’Arc dan Aldo akan menjaga Brina dengan baik.


“Dan untuk keluargaku sendiri, Albert, Briell, Griffin dan Historia, mereka akan dan harus tinggal bersama kami di Paris, karena Briell adalah anak perempuan yang paling tidak akan kami lepaskan.” Timpalnya lagi, yang di jawab dengan anggukan kepala dari Eden.


“Loh, kalau mereka di Paris, terus Perusahaan di Italia peninggalan Papah bagaimana?” Sahut Alson, yang berharap jika Albert adiknyalah yang akan jadi penerus keluarga.


“Kamu saja yang urus, kamu kerjanya apa?” Tanya Mario balik. Dia merasa sedikit kesal dengan Alson yang sama sekali tidak mau urus peninggalan orang tuanya.


Dia hanya sibuk mengurus anak dan istrinya yang dia rasa selalu mengintil kemana - mana.


“Tapi -“ Alson berniat untuk protes, namun Stella melarangnya.


“Semuanya sudah balik saat ini, dan sesuai dengan apa yang kita katakan, kamu memounyai dua anak laki - laki, gunakan mereka untuk meneruskan perusahaan Arvan, tetapi kalau dua anak laki - laki itu tidak berguna maka buang saja mereka ke maut!” Tegas Mario pada Alson.


Dia tidak perduli dengan Vika yang di samping Alson, apakah ibunya tersinggung dengan kata - kata dari Mario atau tidak.


“Itu benar Alson, kamu mempunyai anak laki - laki yang hanya menumpang dengan hidup di keluarga, tapi kamu sama sekali tidak berniat mendidik mereka sebagai penerus, kamu terlihat sama sekali tidak perduli dengan kerja keras kakak aku selama ini.” Kini giliran Stella yang bersuara menasehati Alson.


“Ingat! Jika bukan karena harta kakak aku, mamah kamu tidak akan menerima pengobatan yang terbaik di Dunia, kalau cuman berharap dengan hasil kerja kerasmu di perusahaan sekecil itu di Indonesia, sudah lama kamu kehilangan Mamahmu.” Timpalnya lagi.


Dan kali ini Alson hanya bisa diam, karena di serang dari segela arah. Karena memang benar, kalau dia fokus di perusahaan dia tidak akan memiliki banyak waktu untuk anak dan istrinya.


Albert yang mendengar ribut - ribut dari ruang keluarga, kini menatap ke arah Griffin. “Kapan kamu akan menyelesaikan masalah ini Fin?” Tanya Albert, sembari mengunyah makanannya.


“Secepatnya Pah.” Jawab Griffin dengan singkat.


“Tampan banget sih.” Ucap Briell lagi, dan Albert hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan mendengar istrinya terus memuji anaknya.


“Oh iya, untuk masalah Lyla, apakah kamu sudah meminta maaf?” Tanya Albert lagi. Dan itu membuat Griffin terganggu mendengarnya.


“Buat apa?” Tanya Griffin lagi, merasa dia tidak ada melakukkan kesalahan apapun pada Lyla.


“Untuk permasalahan di masa lalu.” Sahut Briell dengan tegas.


Griffin yang mendapatkan jawaban itu hanya bisa menghela nafasnya pelan. “Nanti.” Jawabnya singkat.


“Histo, untuk kehamilan ini, apakah sudah pergi periksa?” Tanya Briell pada Menantunya.


Historia menganggukan kepalanya pelan, sebenarnya sedari kemarin dia mempunyai rasa keraguan di dalam hatinya tetapi dia tidak mengatakan apa pun pada Griffin dan pada yang lainnya.


Griffin menatap istrinya yang terlihat hanya diam saja dan tidak ada selera untuk berbicara. Dan mungkin dia akan menanyakan tentang penyebab itu.


****


Setelah selesai berdebat, Aldo kini kembali melihat keadaan istri dan anaknya.


“Sayang.” Panggil Aldo, pada Brina yang tengah mengelus pipi putrinya.


“Stttt,” Brina menegur suaminya agar tidak bersuara nyaring, karena bisa membangunkan putrinya.


“Apakah Hanna baik - baik saja?” Tanya Aldo, dengan suara yang berbisik.


Brina menggelengkan kepalanya pelan, dia juga tidak yakin dengan keadaan putrinya. Dia khawatir jika putrinya akan menderita Trauma berkepanjangan.


Aldo menghela nafasnya, lalu perlahan mendekati putri dan istrinya. “Maafkan aku ya, maaf karena aku sebagai seorang ayah tidak bisa melindungi Hanna dan juga kamu, maafkan aku karena aku termasuk pria yang sangat tidak berguna.” Ucapnya penuh penyesalan.


Dia sangat sedih, karena tidak bisa menjadi tameng untuk Hanna dan Brina. Dia menjadi laki - laki yang gagal di lihat dari antara semua anggota keluarga.


Brina tersenyum mendengar penuturan suaminya, dia menatap ke arah suaminya dengan tatapan yang sangat mendalam.


“Tidak ada yang bilang jika kamu adalah laki - laki lemah, menurut aku dan Hanna kamu adalah ayah yang baik. Jangan dipikirkan apa kata orang, fokuslah dengan keluarga kita ini.” Balas Brina, yang lalu beralih mengelus pipi suaminya.


Cuuupppp, Aldo mengecup bibir Brina dengan lembut. “Terima kasih ya.” Ucap Aldo, lalu menurukan tubuhnya memeluk Brina dengan begitu erat.


Dia akan menikmati setiap momen yang ada, akan dia rekam dan menjadi kenangan indah di masa tua nanti.


To Be Continue. *


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.


Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎


*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭


Terima kasih🙏🏻🙏🏻