
❤️ Happy Reading Bestie ❤️
Setelah adegan berpeluk - pelukan itu, kini Mario kembali menatap Aldo dengan lekat. “Tetapi jangan dulu membicarakan hal ini kepada Code.” Pinta Mario pada Aldo.
“Code? Kenapa Dad?” Tanya Aldo bingung.
Pasalanya Code adalah orang yang paling setia, terlebih waktu orang tuanya masih hidup. “Daddy hanya ingin menutup kemungkinan jika orang yang menjadi dalang ini adalah orang yang dekat dengannya. Semua itu bisa terjadi.”
“Dan jika kamu mau semua masalah ini cepat terbongkar, ya kamu juga harus mempercayakan semuanya Pada Daddy dan jika Daddy mengatakan untuk jangan memberitahukan kepada orang lain termasuk Code, maka itu berarti ada yang Daddy curigai.” Jelas Mario pada menantunya.
Dan kini Akhirnya Aldo paham, dari mana bisa kesuksesaan Mario berasal. Ternyata dengan tidak mempercayai orang lain, dan juga menajamkan pengheliatannya serta pendengarannya, itu membuat Mario bisa dengan cepat bisa menyelesaikan kasus - kasusnya.
Mario menatap ke arah Aldo yang hanya terdiam sedari tadi. “Percayalah Aldo, bahwa jika ini semua sudah selesai, barulah kamu bisa memberitahunya.” Tambah Mario lagi. Dan akhirnya barulah Aldo menganggukan kepalanya pelan, mengerti bahwa niat mertuanya ini sangat baik.
***
Setelah berkonsultasi dengan mertuanya, barulah Aldo kembali menuju kamar putrinya, mengecek apakah istrinya masih berada di sana atau sudah masuk ke kamar.
Cekleeekkk, Aldo perlahan membuka pintu kamar putrinya dan melihat Hanna yang sudah tertidur dengan lelap.
Aldo mendekati putrinya itu, lalu mengelus rambut Hanna dengan lembut. Cuuuppp, dia mendaratkan sebuah kecupan singkat di kening putrinya. Lalu menatap wajah Hanna yang begitu tenang ketika di dalam tidurnya.
“Cantik sekali putri Daddy,” bisiknya pelan, dan pastinya itu sudah tidak bisa di dengar oleh Hanna.
Setelah itu barulah Aldo perlahan pergi dari kamar Hanna, untuk menuju kamarnya beraama dengan Brina.
Cklekkk, Aldo kembali membuka pintu dan tidak sama sekali mendapatkan Brina di sana.
“Sayang,” panggil Aldo, mencari sosok istrinya.
“Huekkk,huekkk,,hueekk,” suara Brina terdengar di kamar mandi. Membuat Aldo yang panik, langsung berlari masuk ke kamar mandi untuk melihat keadaan istrinya.
“Brina?” Aldo terkejut melihat istrinya yang sudah terduduk di kamar mandi.
“Aldooooo, huehuehue,” Brina menangis, kesal karena rasa mual yang sejak tadi tidak mau hilang. Dan malah makin parah.
“Kamu kenapa?” Tanya Aldo sambil membangu istrinya itu untuk bangkit masuk ke dalam kamar.
“Mual banget dari tadi,” adunya pada Aldo, yang kini menatapnya penuh dengan rasa khawatir.
Aldo memeluk tubuh Brina, sambil mengusap punggung belakang istrinya. “Iya - iya, sabar ya,” ucap Aldo, lalu melepaskan pelukannya untuk berdiri mencarikan minyak angin untuk Brina.
“Waktu itu dari dokter ada obat anti mualnya gak?” Tanya Aldo pada Brina.
Sontak saja Brina membulatkan bola matanya besar, karena dia sama sekali tidak mempunyai obat apa pun, karena memang dia tidak hamil dan merasa obat - obat itu sangat tidak perlu.
Brina memutar otaknya, apa yang harus dikatakan agar Aldo tidak curiga kepadanya. “Kemarin aku tidak mual, dan merasa obatnya tidak perlu, dan sekarang aku sama sekali tidak tahu obatnya ditaruh di mana.” Jawabnya begitu asal di campur dengan sedikit emosi. Agar Aldo tidak kembali menanyakannya.
“Aduhh, okelah kalau gitu, biar besok kita ke dokter saja, dan mendapatkan obat baru.” Ucap Aldo, dan sontak saja Brina semakin terkejut mendengarnya.
“What? Dokter?” Batin Brina, merasa kalang kabut sendiri.
“Tapi, aku -“
“Tidak ada tapi - tapi, besok setelah mengantar Hanna ke sekolah, kita akan pergi ke dokter untuk memeriksa keadaanmu, dan meminta obat anti mual dari dokter!” Tekan Aldo, dan kembali mengusap punggung Brina, karena istrinya itu kembali mual.
“Tidurlah, aku akan mengusapmu dari sisiku.” Ucap Aldo lagi.
Brina hanya menurut saja, dan berbaring di sisi sembari membelakangi Aldo. Tetapi dia bukan tertidur, dia hanya sedang berpikir bagaimana cara dirinya mengklabui Aldo besok.
Jika di membayar semua dokter Obygn yang dia kenal, bagaimana jika Aldo mengantarmya ke dokter yang tidak dia kenal.
Tetapi, sekarang semua Atm, Debit dan Kreditnya, semua itu atas nama Aldo. Karena Daddnya sudah memberhentikan miliknya pribadi, karena merasa dirinya sekarang adalah tanggungan suaminya.
Dan jika Brina menggunakan semua uang Aldo untuk membayar Dokter, pasti itu akan semakin membuat suaminya merasa curiga.
“Apa yang harus aku lakukkan?” Batin Brina lagi, merasa sudah tidak ada jalan lagi sekarang.
Dan kalau misalnya besok dia ketahuan bahwa dirinya tidak hamil, maka ya sudahlah, dia hanya akan tinggal meminta maaf pada suaminya.
“Belum,” jawab Brina singkat.
Aldo kembali menganggukan kepalanya pelan, dan akhirnya perlahan dia lebih dulu tertidur di bandingkan Brina yang masih sibuk dengan pemikiraanya.
****
“Hueekkk,,hueekkkk,” pagi harinya Brina kembali mual - mual, dan membuat Aldo terbangun dari tidurnya, untuk segera membantu Brina.
“Masih mual?” Tanya Aldo, yang dijawab dengan anggukan kepala pelan oleh Brina.
Aldo hanya bisa menghela nafasnya, dan kembali berusaha menggendong istrinya keluar dari kamar mandi.
Setelah menidurkan Brina di tempat tidur, Aldo keluar kamar mencari pembantu yang ada. “Pelayan!!!! Pelayaaaannn,” teriak Aldo, agar salah satu pelayan mendengarnya.
Dengan cepat, salah satu pelayan datang ke depan Aldo. “Ya Tuan,” jawab mereka dengan menundukkan kepala mereka hormat.
“Siapkan tea panas! Cari dan Minta Code untuk membuatkannya! Dan antarkan segera ke sini!” Perintah Aldo dengan tegas pada pelayan tersebut.
“Baik Tuan,” jawab mereka, dan lalu segera berlalu pergi dari hadapan Aldo.
Setelah memanggil pelayan tadi, kini Aldo kembali ke dalam kamar untuk melihat keadaan istrinya. “Bersiaplah, karena sebentar lagi kita akan mengantar Hanna dan juga ke dokter.” Pintanya pada Brina, lalu dia bergegas masuk ke dalam kamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya, agar juga bisa cepat bersiap.
Brina menganggukan kepalanya pelan, lalu berusaha bangkit untuk turun ke lantai dua melihat apakah putrinya sudah bangun apa belum.
Dengan keadaan lunglai, Brina melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar putrinya. “Sus,” sapa Brina, melihat Nurse/ baby sister Hanna ada di depan pintu dan belum masuk ke dalam kamarnya Hanna.
Memang seperti ini setiap paginya, baby sister Hanna tidak akan pernah berani masuk ke dalam kamar Hanna, jika belum Brina ataupun Eden yang membuka kamar Hanna untuk pertama sebelum dirinya.
Brina membuka kamar Hanna, dan lalu masuk ke kamar putrinya itu. “Good morning, My Angle,” sapa Brina, yang lalu menarik selimut putrinya dan menciumi wajah putrinya agar terbangun.
Sedangkan suster yang mengikuti Brina tadi, kini terlihat membuka Gorden dan jendela kamar Hanna.
“Siapkan air mandi untuk Hanna Sus, dan jangan lupa Acnya di matikan.” Pinta Hanna pada susternya Hanna.
“Baik Nyonya,” jawabnya dan lalu bergegas mengerjakan apa yang disuruh oleh Brina.
Hanna masih setia di dalam tidurnya dan enggan untuk bangun, “sayang, bangun, sudah waktunya berangkat sekolah, my lovely cuppp,” Brina terus saja menciumi wajah putrinya itu sampai terbangun.
“Mommy, nanti dulu, Hanna masih ngantuk Mom.” Tolaknya, dan kembali memejamkan matanya.
“Hayo, anak Daddy rupayanya tidak mau bangun ya,” suara Aldo tiba - tiba terdengar membuat Beina menoleh ke arahnya.
“Kamu sudah siap?” Tanya Brina, melihat suaminya yang sudah rapi dengan setelan santainya.
Aldo menganggukan kepalanya pelan, dan kembali fokus melihat putrinya yang masih tertidur. Cuppp,, cupppp,, cuppp,, cuppp, “bangun sayang, hari ini Daddy dan Mommy yang antar sekolah loh.” Ujar Aldo membangukan putinya.
“Huwaaaaaaa,” Hanna merasa tidurnya benar - benar terganggu, dan mau tidak mau dia bangun dari tidurnya yang nyenyak.
“Good morning, Daddy, Good Morning Mommy,” sapanya lalu berusaha mengumpulkan nyawanya agar bisa bangun dengan normal.
“Good morning My sweety,” sapa Aldo balik lalu mengecup kembali pipi gemoy putrinya.
Hanna yang bangkit lalu mengecup kembali pipi Daddnya dan juga pipi Mommynya.
“Airnya sudah siap Sus?” Tanya Aldo pada susternya Hanna.
“Sudah Tuan,” jawab Suster itu.
“Oke, Hanna sekarang Mandi dulu ya, Mommy dan Daddy tunggu di sini.” Pintanya pada Hanna.
“Baik Daddy.” Jawab Hanna. Dan langsung pergi ikut dengan suster untuk mandi.
To Be Continue.
Hey teman - teman, jangan lupa ya, untuk Like, Komen, Vote dan jika berkenan memberikan Hadiahnya untuk Mimin. Agar mimin lebih semangat lagi updatenya, biar gakmalas - malasan lagi.
Terima kasih 🙏🏻