The Mejesty It’S Husband

The Mejesty It’S Husband
Rencana Buruk Gabrina



🌹 Happy Reading Bestie 😘


Sedangkan di luar sana, Brina yang telah berhasil menitipkan Hanna kepada Aldo, terlihat berjalan perlahan dengan sebuah senyum kelicikan di wajahnya.


“Ahhh, saatnya untuk bersantai ria, menikmati penderitaanmu Aldo,” gumamnya perlahan, sembari menggunakan kaca mata hitamnya yang akan menunjang penampilannya.


Brina terlihat berjalan ke arah Starbucks yang berada tidak jauh dari kantor milik Aldo.


“Hey, Alica,” panggilnya, kepada sahabatnya lamanya yang terlihat duduk membelakangi pintu masuk.


Alica menoleh ke arah pintu masuk dan melihat Brina yang sedang melambaikan tangannya.


Mata Alica tak lepas menatap Brina, yang terlihat begitu bahagia sejak pertama kali memasuki Coffe shop itu.


“Kenapa kamu terlihat bahagia sekali?” Tanyanya, ketika melihat Brina yang baru saja ingin duduk di hadapannya.


Brina kembali tersenyum bahagia, namun tidak menjawab pertanyaan sahabatnya itu. “Aku pesan minum dulu kali ya, haus banget, tadi jalan kaki ke sini.” Ujarnya, dengan tangan yang mulai mengangkat sedikit guna memanggil waiters untuk mencatat pesanannya.


Ke dua alis Alica mengerut, karena mendengar sahabatnya itu berjalan kaki. “Tumben banget jalan kaki, memangnya mobil kamu kemana?”


“Aku tinggal di kantor tadi, terus aku ke kantor depan situ, di antar sama sama driver tadi.” Seru Brina, menunjuk sebuah bangunan megah, yang berhadapan dengan Starbucks itu.


“Astaga Brina, jalan dari Kantor itu ke sini mungkin hanya dua belas langkah, dan kamu bilang itu capek?” Protes Alica, yang tidak habis pikir dengan keluhan gadis manja di depannya ini.


“Untuk orang yang jarang berolahraga –“


“Bukan jarang tapi memang tidak pernah,” umpat Alica, ketika mendengar kalimat dari Brina.


“What ever itu, yang jelasnya menurut aku itu jauh.” Tegas Brina, yang membuat Alica hanya memutar ke dua bola matanya malas.


“Anywa, aku ajak kamu bertemu di sini bukan mau membahas soal aku yang berjalan kaki,” tandas Brina dengan wajah yang mulai serius. Lalu di detik selanjutnya, Gabrina menoleh kembali kearah bangunan megah, yang berada di depan Coffe shop tersebut.


“Kamu lihat kantor itu!” Perintahnya pada Alica.


“Terus?” Tanya Alica.


“Bagus tidak?” Tanya Brina.


“Bagus,” jawab Alica malas.


“Kamu tahu itu kantor milik siapa?” Tanya Brina lagi.


“Ya enggaklah, Brina, ahhhh,” balas Alica begitu malas.


“Brina, aku itu tinggal di Korea, dan ke sini jauh – jauh ninggalin suami dan anak aku, cuman karena mendengar ocehanmu yang tidak jelas itu tahu,” keluhnya kesal.


“Ah elah, lagian juga sih, kamu nikah sama orang korea, kenapa tidak cari orang sini saja sih.” Tandas Brina yang selalu bicara seenaknya.


“Jodohnya dari sana, mau bagaimana lagi?” Alica menghela nafasnya berat, sejak dulu Brina memang tidak pernah menyukai suaminya karena berasal dari negara lain, yang menyebabkan mereka harus berjauhan.


Tetapi, beruntungnya, suami Alcia mau mengerti akan keadaan, dan selalu mengizinkan Alica ketika ada panggilan mendadak dari Brina seperti ini.


“Di depan itu, adalah kantor milik Aldo, kamu masih ingat Aldo kan?” Jelasnya pada Alica.


“Aldo yang mantan kamu itu? Ayahnya Hanna kan?” Yakin Alica, yang memang tahu dari awal ketika sahabatnya itu hamil.


Brina menganggukan kepalanya pelan, berbeda dengan Alica yang seketika membulatkan matanya besar. “Bukannya dia anak pungutkan? Orang miskin kata kamu juga? Dan keluarga yang memungutnya itu tidak punya apa – apa, jadi bagaimana bisa dia punya kantor sebesar itu?” Alica mulai begitu penasaraan, apa yang telah terjadi di saat dirinya jauh.


Brina menyipitkan ke dua matanya, menunjukkan rasa kekesalan pada Alica. “Makanya, tinggal itu di London, jangan di Korea, lagian juga aku sudah meminta suamimu tinggal dan bekerja di perusahaan Daddyku, malah tidak mau.”


“Sudah, jangan bahas suamiku, sekarang jelaskan! Bagaimana bisa Aldo memiliki Kantor sebesar itu?” Tegas Alica, yang meminta penjelasan dari Brina.


“Dia itu selama ini menyembunyikan identitas aslinya, yang merupakan keturunan bangsawan, dia adalah anak dari keluarga Phantominve yang dulu merupakan seorang perdana mentri Queen Elizabeth. Tetapi aku juga tidak mengerti kenapa dia menyembunyikan identitasnya seperti itu. Tapi bagi aku, siapapun aslinya dia, tetap saja dia adalah anak Yatim piatu kan.” Brina menjelaskan dengan secara detail kepada Alica.


“Berarti, tadi kamu dari sana?” Tanya Alica. Yang mendapatkan anggukan kepala dari Brina sebagai jawaban.


“apa yang kamu lakukkan di sana?” Tanya Alica lagi.


“Menitipkan Hanna,” jawabnya singkat.


Alica mengekspresikan wajah yang tidak percaya. “Wahhh, wahh, ternyata setelah beberapa tahun menyembunyikkan identitas Hanna, akhirnya terbongkar juga. Lalu buat apa kamu menyembunyikkan selama ini? Kalau akhirnya bakal semudah itu kamu menitipkannya.” Omel Alica, yang selalu saja memarahi Brina, karena tidak pernah berpikir setiap mengambil sebuah tindakan.


“Ceritanya panjang Alica sayang, yang jelas sekarang, aku harus membuat Aldo kembali jatuh cinta sama aku.” Tegasnya, dengan tatapan yang penuh dengan semangat.


Sedangkan Alica menanggapi dengan gelengan kepalanya pelan. “Berani sekali dia menolak menikahiku,” umpatnya, yang membuat Alica harus memijat kepalanya pelan.


‘Bagaimana tidak ditolak, kalau kamu yang menjahati dia dari awal,’ batin Alica, yang sudah malas memberi tahukan alasan yang pastinya tidak akan diakui oleh wanita itu.


“Lalu apa rencanamu sekarang?” Tanya Alica.


“Aku?”


Brina sejenak menghela nafasnya, dan menyandarkan tubuhnya ke kursi di belakangnya. “Aku akan membuat pria itu sekali lagi, merasakan sakit karena sudah berani terang – terangan menyatakan tidak mau menikahiku.” Serunya penuh dengan kobaran api amarah.


“Kalau kamu marah dia menolak menikahimu, berarti sebenarnya kamu maunya dia menikahi –“


“Tidak, kamu salah dalam mengambil peresepsi dan inti dari penjelasanku.” Tolak Brina dalam penjelasaanya.


“Lalu kenapa kamu seperti tidak terima kalau Aldo menolak menikahimu?!!!” Sentak Alica dengan emosi. Alica sudah kehabisan batas kesabaran menghadapi Brina yang selalu saja licik dalam berpikir.


Tetapi, bukannya ikut marah dengan sahabatnya itu, Brina malah tersenyum, dengan menyilangkan tanganya di depan dada. “Karena hanya aku yang boleh menolaknya, dia tidak boleh menolakku.” Ucapnya, dengan penuh penekanan di setiap kalimatnya.


To Be Continue.


Hey Teman - Teman, jangan lupa ya, untuk, Like, Komen, Vote dan Hadiahnya untuk Karya Mimin ini. Agar mimin lebih semangat lagi untuk updatenya.


Dan Jangan lupa juga untuk mampir ke karya mimin yang lainnya ya.


Terima Kasih.