
🌹 Happy Reading Bestie 😘
Brina merasa sangat gelisah, ketika mendengar laporan dari putrinya. Dan semua gerakannya itu tak lepas dari pantauan mata Alica.
“Kenapa? Hanna bilang apa? Kenapa kamu seperti panik begitu?” Tanya Alica penasaraan.
Brina menoleh sekilas kea rah Alica, lalu dia mulai menggigiti kukunya tipis. “Aku gak panik, cuman lagi mikir aja gitu.” Elaknya dari tuduhan Alica.
Tapi, Alica bukan orang bodoh yang bisa dibohongi begitu saja, dia sudah berteman dengan Brina selama sepuluh tahun lamanya, jadi dia sudah sangat tahu, gerak gerik Brina ketika dalam keadan gelisah.
“Sial banget! Aku tidak akan membiarkan si Marina – Marina itu merebut tempatku,” gumamnya dengan rasa kesal.
Alica tertawa pelan, mendengar gumaman dari sahabatnya ini. “Sudahlah, aku mau pulang saja, kasihan anak dan suamiku, aku tinggal demi urusanmu yang tidak penting ini.” Seru Alica, yang membuat Brina langsung membelakkan matanya tajam.
“Alica No! Aku butuh hasil tespack positif dari kamu sekarang!” Pintnya yang terdengar seperti kalimat perintah.
Ya, memang saat ini Alica tengah mengandung anak ke dua, dan itu membuat Brina berpikir akan memanfaatkan hasil urine positif milik Alica, untuk membohongi Aldo.
“Brina!” Tegur Alica dengan tekanan.
“Come on lah, kalau kamu sudah tidak mau bersama dengan Aldo, kenapa kamu harus berbuat sampai sejauh ini?” Lama – lama Alica merasa kesal juga, dengan pemikiran labil gadis itu.
“Kamu sahabat aku bukan sih Alica?”
“Of course dan makanya aku di sini untuk bantu kamu! Aku rela loh, jauh – jauh dari Korea, ninggalin suami aku dan anak aku, dalam keadaan hamil muda, naik pesawat datangin kamu ke sini, hanya karena keputusan egoismu itu.” Alica, mulai berbicara serius kepada Brina.
“Kamu berubah tau, semenjak kamu menikah dengan pria asia itu, kamu sudah tidak pernah mendukung aku lagi.” Brina berkata dengan perasaan kecewanya pada Alica.
“Tentu saja aku berubah Brina! Aku sudah dewasa, aku sudah menjadi seorang istri dan ibu. Aku bukan lagi anak kuliah yang masih berpikir untuk mementingkan keegoisan dan rasa gengsi, dibanding keadaan yang baik – baik saja.”
“Come on, Gabrina Jonathan, kita sudah sama – sama dewasa, sudah sama – sama memiliki anak. Ubah pemikiranmu yang gila itu menjadi waras.” Alica mencoba untuk menasehati sahabatnya itu, untuk yang ke sekian kalinya. Entah bakal didengar atau tidak, tetapi yang jelas Alica sudah menyerah saat ini. Dia sudah sangat capek menghadapi sikap Brina yang seperti ini terus.
“Kalau kamu masih mau sama dia, kejar, yakinkan dia, minta maaf karena kamu kemarin ninggalin dia. Tetapi kalau kamu memang sudah tidak mau, ya sudah lepaskan, tidak perduli mau dia atau kamu yang menolak pernikahaan tersebut, intinya sama – sama menolak.!”
“Sudah! Karena tidak akan ada habisnya seperti ini.” Sambungnya lagi.
Brina menundukkan kepalanya, ketika mendapatkan Alica mulai memarahinya.
“Aku hanya –“
“Hanya apa?” Sahut Alica dengan tergesa.
“Aku hanya tidak mau harga diriku dijatuhkan oleh orang seperti Aldo. Cuman aku yang boleh nolak dia, dia gak boleh nolak aku.” Lirihnya pelan, dengan bibir yang sudah manyun karena ulah Alica yang memarahinya.
Alica mencoba mengatur nafasnya, “lupakan Aldo kalau memang kamu tidak mencintaimya, masih ada Erlan, bukankah kalian sudah menerima perjodohan itu. Maka lanjutkanlah.”
Namun dengan cepat Brina menggelengkan kepalanya pelan. “Sudahlah, Brina aku lelah berbicara denganmu.”
“Baiklah cukup terakhir kali ini aku menolong ide gilamu. Setelah itu jangan memanggilku ke sini lagi, jika itu bukan urusan penting.” Tegas Alica kepada Brina.
“Aku akan membeli perusahaan suamimu agar, kamu tidak pergi – pergi lagi.” Serunya pelan, namun secepat kilat mendapatkan tatapan tajam dari Alica.
“Jangan macam – macam kamu! Sampai perusahaan suamiku dalam masalah, aku tidak maul lagi berteman sama kamu!”
“Ingat, nasib anak – anakku kelak ada di perusahaan itu!” Tekan Alica, yang membuat nyali Brina menciut.
Sontak saja, Brina langsung memasang wajah masamnya, ketika Alica balik mengancamnya.
Kalaupun memang lebih, nanti dokter pasti akan memberikan penjelasaan yang bisa meyakinkan Aldo kalau Brina benar – benar sedang hamil.
****
Sudah tiga hari berlalu, dari hasil diagnosa kehamilan palsu dari Brina. Dan hari ini, dia berniat untuk menjalankan rencananya.
Dia berjalan dengan tergesa, masuk ke dalam ruangan Aldo, untuk memberitahukan bahwa dirinya sedang hamil saat ini.
Tetapi, betapa mengejutkannya, ketika dia baru saja ingin keluar dari lift, dia melihat Aldo sedang bergandengan tangan dengan seorang wanita cantik, namun terlihat lebih dewasa dari umur mereka.
“Brina.” Tegur Aldo lebih dulu.
Marina adalah wanita yang saat ini sedang menggandeng tangan milik Aldo itu, akhirnya tersenyum ketika melihat kedatangan Brina di kantor milik Aldo.
“Aldo, apa – apaan –“
“Hallo, Brina, saya Marina, teman dekat dari –“ kalimat Marina terputus ketika Brina malah menepiskan tangan wanita itu dengan kasar.
“Kamu pikir aku mau gitu, menyentuh tanganmu yang penuh dengan kuman ini?” Ucapnya dengan begitu kasar.
Aldo menghela nafasnya berat, lalu menatap ke arah Marina yang dibalas senyuman manis dari wanita itu.
“Aku tidak apa – apa kok, Aldo.” Lirihnya, yang sepertinya tahu jika Aldo sedang mengkhawatirkannya.
Brina menyeritkan keningnya kesal, “bisa – bisanya mereka bertatapan mesra seperti itu, ketika ada aku di sini.” Batinya merasa marah dengan keadaan ini.
Mendengar kalimat dari Marina, akhrinya Aldo kembali menatap Brina dengan tajam. “Aku tidak mau ribut di sini, Gabrina Jonathan!”
“Aku juga tidak mau,” jawab Brina dengan begitu enteng.
“Sekarang kamu pulanglah, nanti Code akan mengantar Hanna pulang ke Mansionmu.” Ujar Aldo, yang lalu kembali menggandeng tangan Marina masuk ke dalam Lift.
“Aldo, tapi –“ Marina sempat ragu, mengikuti langkah Aldo yang melewati Brina begitu saja.
“Tidak apa – apa, wanita ini bisa pulang sendiri kok, dia tidak pernah menginginkan bantuanku.” Jelasnya pada Marina, dengan arah tatapan tajam kea rah Brina.
“Bukan begitu Gabrina Jonathan?” Tanyanya penuh dengan tekanan.
Gabrina ingin sekali rasanya berteriak TIDAK. Tetapi lagi – lagi, rasa gengsi mengalahkan tindakannya. Sehingga dirinya hanya mampu memutar bola matanya malas. “Of courselah, memangnya siapa juga yang mau berlama – lama di dalam kantor laki – laki rendahan seperti kamu.” Balasnya dengan mada khas sombongnya.
“Lihatkan Marina,” sahut Aldo, yang memperlihatkan kepada wanita yang sedang dekat dengannya itu, tentang sifat kesombongan dari Gabrina.
Tetapi, tetap saja Marina merasa tidak enak pada Gabrina. Meskipun Aldo sudah menjelaskan bahwa ke duanya tidak ada hubungan apa pun.
Dan di detik selanjutnya tidak ada lagi pembicaraan dari mereka, hingga akhirnya Aldo memilih untuk menutup Pintu Lift begitu saja, membiarkan Brina menatap mereka penuh dengan amarah.
To Be Continue.
Hey Teman - Teman, jangan lupa ya, untuk, Like, Komen, Vote dan Hadiahnya untuk Karya Mimin ini. Agar mimin lebih semangat lagi untuk updatenya.
Dan Jangan lupa juga untuk mampir ke karya mimin yang lainnya ya.
Terima Kasih.