
🌹 Happy Reading Bestie 😘
Di saat Aldo melihat Brina yang sudah masuk ke dalam kamar mandi, terdengar suara ketukan pintu dari luar.
“Ya, sebentar,” sahut Aldo, agar orang tersebut berhenti untuk mengetuk pintu kamarnya.
Ckleekkk, suara pintu terbuka, dan menampilkan sosok Code yang sedang menundukkan tubuhnya hormat kepada Aldo.
“Maafkan saya, karena terlambat mengurus Anda Tuan Muda, karena saya tadi masih mengurus beberapa berkas dengan Tuan besar Mario,” ucapnya dengan pelan, membuat Aldo hanya merespon dengan helaan nafas pelan.
“Masuklah, aku perlu mandi sekarang!” Pinta Aldo, yang sudah terlihat begitu lelah.
Code segera menganggukan kepalanya, dan mulai mengikuti langkah Aldo untuk masuk ke dalam kamar.
Di dalam kamar, Code selalu melakukkan rutinitasnya, yaitu melayani Aldo, seperti membukakan pakaian, menyiapkan air untuk mandi, lalu membantu pria itu untuk mengenakan pakaian tidur, dan memastikan jika Tuan Mudanya itu benar – benar tidur, barulah dia bisa menyatakan bahwa pekerjaanya sudah selesai.
“Menurutmu, apa yang sedang direncanakan oleh Tuan Mario? Kenapa sampai dia memberikan sebagian sahamnya kepadaku? 25% itu sangat banyak.” Aldo, selalu saja berdiskusi dengan Code tentang seluruh masalahnya.
“Tuan, sepertinya –“
“Ahhhhhhhhh,” teriak suara perempuan, yang pastinya Brina.
“Ada apa?” Tanya Aldo, dengan begitu santai, sedangkan Code, masih terus fokus membukkan pakaian milik Tuannya satu persatu.
“Code keluar!!” Perintah Brina dengan begitu memperlihatkan kemarahaanya.
“No! Brina!” Tekan Aldo, karena jika bukan Code yang membantunya di sini, dirinya tidak bisa menyiapkan apa pun.
“No, Code keluar sekarang! Aku punya privasi! Dan kamu Aldo, kalau kamu tidak mau Code keluar dari sini! Lebih baik kamu yang keluar!” Titahnya tegas, membuat Aldo lagi – lagi harus menghela nafasnya kasar.
“Code, keluarlah lebih dulu, biar Brina yang akan mengurusku nanti.” Ucapnya pelan, namun tidak menyadari raut wajah Brina yang terkejut mendengar kalimatnya itu.
Dia memang meminta untuk Code keluar, tetapi bukan berarti dia mau mengurus pria yang sudah menjadi suaminya itu.
Code yang diusir menatap sekilas ke arah Brina, sebenarnya mungkin memang benar, jika suami istri sudah mempunyai Privasinya sendiri, tapi saat ini dia masih belum yakin, jika istri Tuannya itu, mampu mengurus semua kebutuhan Aldo, yang tak ayal seperti mengurus anak kecil.
“Code,” tegur Aldo lagi, karena tahu bahwa pelayannya itu ragu, ketika ingin meninggalkan dirinya.
“Tuan Muda saya -,”
Code menghela nafasanya kasar, terlihat dari wajahnya raut kekecewaan. “Baiklah Tuan, selamat malam.” Pamit Code, pada Aldo.
“Malam Code, beristirahatlah.” Balas Aldo.
Setelah Code keluar dari kamar mereka, Brina langsung menatap Aldo dengan tajam.
“Usia kamu sudah berapa? Kamu masih meminta orang lain untuk melayani kamu?!” Sentaknya, dengan penuh kekesalan.
“Apa lagi –“ sambungnya terputus, ada jeda menghela nafas dari kalimatnya.
“Aku baru selesai mandi, dan kamu tidak ada kepekaan sama sekali untuk mengetahui hal itu!”
“Kamu suka tubuhku dilihat orang lain? Ha?” Brina rasanya sudah begitu lelah marah – marah sedari pagi. Tapi sepertinya pria dihadapannya ini sama sekali tidak mengerti apa yang dia maksud, terbukti Aldo hanya menatapnya saja tanpa mau membuka suaranya.
“Kamu itu tidak capek apa? Brina? Marah – marah terus sedari tadi?” Tanya Aldo, setelah beberapa menit terjeda, mendengarkan omelan Brina yang tidak ada henti.
“Tidak!! Selama kamu masih jadi suami aku!” Tekan Brina, dengan tatapan yang begitu tajam mengarah pada pria itu.
Aldo kembali terdiam sejenak, lalu menatap Brina, dengan tatapan yang sulit diartikan.
Lalu di detik kemudian dia terlihat mendekat ke arah Brina, “suka atau tidak suka, terima atau tidak terima, aku tetaplah suami kamu! Mau cerai? Aku sih bisa aja kabulkan,” ucapnya dengan serius.
Dan sesaat kemudian dia mendekat ke arah telinga Brina, “Tetapi, kamu harus siap – siap kehilangan saham dari dari perusahaan Daddy kamu,” bisiknya dengan pelan, membuat Gabrina langsung menolehkan pandanganya seketika.
“Sial! Ini semua gara – gara Daddy, pria ini jadi mempunyai ancaman untuk aku!” Batin Brina.
“Pokoknya aku harus cari cara, agar Daddy mau mengubah keputusannya, karena aku tidak mau selamanya terjebak pernikhaan dengan pria ini.”
“Lebih baik jangan melakukkan apa pun, Brina, karena semuanya percuma aku juga sudah menandatangi surat keputusan itu!” Seru Aldo, seakan tahu apa yang berada di dalam otak licik Gabrina.
“Sial!!” Umpat Brina, lalu memilih pergi dari hadapan Brio, dan kembali masuk ke dalam kamar mandi, untuk menyegarkan pikirannya.
To Be Continue.
Hey teman - teman, jangan lupa ya, untuk Like, Komen, Vote dan jika berkenan memberikan Hadiahnya untuk Mimin. Agar mimin lebih semangat lagi updatenya, biar hak malas - malasan lagi.
Terima kasih 🙏🏻