The Mejesty It’S Husband

The Mejesty It’S Husband
Arti Rasa Kebencian



🌹 Happy Reading Bestie 😘


“Di Lesham grup, kamu juga memiliki 35% saham, Cyberaya kamu memiliki 60% saham. Kapan kamu akan mulai memimpin tiga perusahaan besar ini Griffin?” Ucap Arnon, suami dari Stella, yang merupakan salah satu pemegang saham terbesar di Lesham Grup.


Sontak saja, semua tatapan kini mengarah pada Griffin, yang terlihat masih diam tanpa mau berkata apa pun.


“Griffin,” tegur Brio, sosok Paman yang masih berkomunikasi dengannya, walaupun itu sangat jarang sekali.


Mendengar teguran dari Unclenya, Griffin terlihat mulai mengatur nafasnya, “Aku tidak ingin memimpin perusahaan, aku tidak ingin memiliki semua saham itu, jika kalian mau, lebih baik kalian bagikan kepada anak – anak kalian.” Ucapnya tegas, membuat semua orang yang berada di sana terkejut dengan apa yang dikatakan anak itu, termasuk Alson.


“Kamu tidak bisa seperti itu, Griffin, kamu memikul tanggung jawab besar!” Sentak Aiden, mulai tidak bisa mengontrol emosinya pada pria itu.


“Aku tidak ingin apa pun, itu saja!” Balasnya lagi.


“Ketika aku kecil, aku diasingkan, aku dibiarkan hidup berjuang sendiri,” ungkap Griffin yang membuat semua orang diam untuk mendengarnya.


Sudah beberapa tahun ini, mereka tidak pernah mengetahui ataupun mendengar apa yang diinginkan oleh anak itu. Dan mungkin inilah saatnya mereka mendengarnya.


“Kalian semua, menjadikan aku alat untuk membalas dendam kepada orang yang mengancam keluarga kalian, kalian menyegel kematian ke dua orang tuaku, agar tidak ada satupun yang bisa melihatnya termasuk aku.”


“Dan setelah kalian membuangku, kalian ingin aku memimpin dan mematuhi keinginan kalian semua.” Griffin menampilkan senyum iblisnya.


“Kalian semua tidak lain hanyalah sampah!” Pekiknya dengan penuh emosi.


“Mereka menjadikan orang tuaku dan aku sebagai target untuk balas dendam, karena dosa kalian di masa lalu.” Timpalnya lagi, dengan tatapan penuh kebencian.


“Bukan seperti itu, Fin, dengarkan kami berbicara.” Ujar Mario, yang merasa begitu lelah untuk memberitahukan alasan pengasingan itu pada cucunya.


Griffin memilih untuk menundukan kepalanya, dengan jemarinya yang menjadi tumpuan. “Jika kalian mau menghinaku, dan menganggap aku seperti anak kecil yang terpengaruh oleh emosi dan dendamnya sendiri, maka silahkan saja.”


“Alasan yang kalian berikan kepadaku, keinginan orang tuaku yang kalian bilang ingin aku selamat dari kejaran musuh, itu semua hanya tak ayal bagiku hanyalah sebuah kata – kata indah saja.”


“Bagiku, kalian semua ini hanyalah orang – orang bodoh saja yang tidak mengerti arti dari sebuah kebencian!”


“Griffin,” panggil Eden pelan, dia sudah terlalu lelah, melihat drama keluarga ini.


Seharusnya hari ini menjadi hari bahagia mereka, tapi karena ini semua, mereka akhirnya bisa mendengar isi hati yang sudah lama terpendam dari pria muda itu.


“Jika ada yang tidak terima dengan pilihan jalan hidupku, maka aku akan membalasnya dengan membunuh atau menyakiti keluarga yang mereka sayangi, agar mereka bisa sedikit memahami –“ Griffin menghentikan kalimatnya, lalu di detik selanjutnya dia baru membuka matanya dan memperlihatkan tatapan tajam itu.


“Arti rasa Kebencian yang aku bawa sejak lahir.” Lanjutnya, membuat suasana semakin menegang.


“Ketika aku mengetahui, bagaimana ke dua orang tuaku bisa mati, maka dari saat itu juga, aku menanggung semua dendam mereka, dan menjadikannya sebuah kebencian dari jalan kegelapan.” Merasa sudah selesai mengungkapkan isi hatinya. Griffin terlihat beranjak dari duduknya, lalu pergi begitu saja meninggalkan meja makan tersebut, tanpa berpamitan dengan siapa pun.


Tentu saja, suasana di meja makan itu menjadi sedikit kikuk, terlebih lagi, sepupu – sepupu Griffin seperti Khali dan Khale yang berada di sana, harus terdiam dan melirik ke arah Alson, papah mereka.


****


Setelah kejadian tegang tadi, baik Mario maupun Stella sama sekali tidak ada niat untuk melanjutkan makan malam keluarga itu.


Sehingga di sinilah Aldo dan Brina yang sedang ber dua di dalam kamar.


Aldo mengira, bahwa ketika mereka memasuki kamar, Brina akan memaki – makinya atau bersuara panjang kali lebar seperti biasanya.


Tetapi ternyata dia salah, karena di saat mereka berdua berada di dalam kamar, ke duanya malah terlibat perang dingin, tanpa tahu siapa dari mereka yang mau membuka suara duluan.


“Apa liat – liat?” Sentak Brina, yang akhirnya kembali ke mode asli.


Sontak saja, Aldo menggelengkan kepalanya pelan, karena salah menduga bahwa diamnya Brina adalah perubahan besar. Karena ternyata sejak tadi wanita itu diam, sebenarnya sedang mengumpulkan tenaganya untuk memulai perang mereka.


“Tidak, aku tidak melihatmu,” elak Aldo dengan begitu santai.


“Tidak – tidak, nyatanya sedari tadi kamu melihatku!” Brina memberikan tatapan lebih tajam lagi ke arah Aldo.


“Aku tahu kamu mau meminta nomor ponselku kan,” tuduh Brina, ketika melihat Aldo yang sedang memegang ponselnya.


Aldo terdiam seketika, dirinya memang belum mempunyai nomor ponsel Brina, pertama kaki dia menghubungi Brina, dia menggunakan ponsel Hanna putrinya.


Tetapi, kalau dia meminta duluan, itu berarti tandanya Aldolah yang membutuhkan Brina, dan kalau dirinya yang selalu terus menghubungi Brina, nanti wanita itu akan mengira bahwa dirinya yang akan menyatakan cinta lebih dulu.


“Tidak perlu, aku tidak perlu nomor ponselmu.” Sahut Aldo, dengan lugas.


Membuat Brina yang tadinya masih dalam mode biasa, kini mulai mengeluarkan tanduknya. “Kamu bilang tidak perlu?” Tanyanya lagi, dengan sedikit menaikan oktaf suaranya.


Aldo yang merasakan aura mengerikan itu, hanya merespon dengan anggukan kepalanya pelan.


Tentu saja Brina tidak terima dengan jawaban itu, langsung merampas ponsel Aldo dengan kasar.


“Brina! Kembalikan ponseku!!” Aldo, berusaha merebut ponselnya kembali.


“Terlambat,” ucap Brina, lalu membanting ponsel itu ke lantai.


Brakkk, kreekkk,,kreekk, layar ponsel itu rusak, karena di injak – injak oleh Highhells yang digunakan oleh Brina.


“Berani macam – macam, kamu akan Mati!” Ancam Brina, dengan raut wajah serius, lalu beralih melangkahkan kakinya pergi ke kamar mandi.


Aldo masih tidak menyangka dengan aksi wanita yang baru saja menjadi istrinya ini. Bayangkan saja, baru beberapa jam menjadi istrinya saja, ponsel yang dia miliki sudah hancur, apa lagi kalau seminggu? Aldo menghela nafasnya berat karena memikirkan nasib dia ke depan.


“Wanita gila,” lirihnya pelan, dan memilih untuk mengabaikan saja masalah ponsel itu.


“Aldoooo!” Teriak Brina, mengejutkan Aldo yang baru saja ingin memejamkan matanya.


“Apa? Jangan teriak – teriak bisa tidak? Aku hanya di sini saja.” Ucap Aldo dengan suara yang terdengar begitu lelah.


“Aku tidak bisa membuka reseleting bajuku,” ujar Brina, dengan memperlihatkan punggung belakangnya.


Aldo begitu pusing, sampai dia terlihat mengacak – acak rambutnya frustasi. “Kalau kamu minta tolong sama orang, apa yang harus kamu katakan?” Aldo masih berusaha bersikap lembut pada istrinya ini.


“Aku bukan Hanna! Cepat bukakan! Jangan banyak tanya!” Respon Brina benar – benar di luar dugaan, membuat Aldo kembali menelan pil kesabaran yang sudah mulai menipis.


Mau tidak mau dia beranjak, untuk mendekat ke arah Brina, untuk membantu wanita itu melepaskan gaun pernikahaan mereka.


“Sudah,” ucap Aldo,


To Be Continue.


Hey teman - teman, jangan lupa ya, untuk Like, Komen, Vote dan jika berkenan memberikan Hadiahnya untuk Mimin. Agar mimin lebih semangat lagi updatenya, biar hak malas - malasan lagi.


Terima kasih 🙏🏻