
🌊 KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹
💐 HAPPY READING 💐
Setelah sampai di Hawai, mereka semua turun dari pesawat dengan perasaan yang berbeda - beda, jika Aldo, Hanna dan Brina terlihat bahagia.
Lain halnya dengan L’Arc dan Griffin terlihat sepertinya biasa saja dengan keadaan itu.
Jika di tanya Historia, wanita itu sejak tadi terlihat tidur saja, dan kali ini Griffin harus menggendongnya turun dari pesawat supaya bisa beristirahat di dalam kamar yang sudah di sediakan.
“Yeyyyy, Mommy, Hanna mau berenang Mom.” Pintanya dengan antusias, ketika melihat pantai yang bewarna biru yang sangat menyejukan.
“Yey, Hanna ay -“ kalimat Aldo berhenti, ketika mendapatkan tatapan tajam dari istrinya.
“Ayo Hanna, kita masuk dulu makan siang, baru istirahat nanti sore baru bisa berenang.” Aldo memperbaiki kalimatnya, agar Brina tidak jadi mengeluarkan tanduknya.
Hanna merengut karena dia tidak diperbolehkan berenang saat ini. “Anak belum makan siang belum tidur istirahat, mau di ajak berenang, kalau tidak aku hajar kamu!” Tegas Brina, mengancam suaminya agar tidak berani macam - macam dengannya.
Aldo menghela nafasnya, lalu dia mengajak putrinya untuk masuk ke dalam Vila.
Di ikuti oleh yang lainnya, Griffin yang merasa lelah, langsung meletakan tubuh Historia di sofa terlebih dahulu, agar istrinya itu tidak merasakan sakit ketika bangun nanti, karena tanganya sangat tidak enak.
“Griffin,” panggil Mario, membuat pria muda itu menoleh sedikit.
“Vila ini sangat menyimpan banyak sejarah tentang kelahiranmu.” Ucap Mario memberitahukan cucunya, bahwa Vila inilah yang menyimpan seribu kenangan tentang malam pembantaian itu.
“Oh iya kah?” Hanya itulah yang bisa Griffin berikan sebagai responnya.
“Oh ya, mana yang dibilang mau bertemu denganku?” Tanya Griffin pada Mario.
“Nanti kamu juga akan bertemu dengannya.” Jawab Mario dengan senyumannya. Karena dia sudah tidak sabar mempertemukan Griffin dengan Briell dan Albert.
Brina sejak tadi memperhatikan intraksi antara Daddynya dan juga keponakannya. Tapi dia juga merasa penasaraan sebenarnya siapa yang mau bertemu dengan keluarga mereka.
“Mommy,” panggilnya pada Eden yang sedang membantu pelayan menyiapkan makan siang.
“Ada apa sayang?” Tanya Eden, merasa bahwa ada yang ingin di tanyakan oleh putrinya.
Namun, lagi - lagi Brina terpaku dengan banyaknya ragam makan siang, “sudah lama kita tidak makan Bihun goreng ini dengan Kare India ini Mommy, inikan makanan kesukaan -“ ucapannya terhenti, dan seakan dirinya tahu jawaban apa yang sedari tadi ada di otaknya.
“Mommy.” Panggilnya lagi, namun kali ini dengan tangan yang menutup mulutnya.
“Mommy tahukan apa yang ada di dalam pikiran aku?” Tanya Brina, seakan Mommynya itu adalah seorang peramal yang bisa membaca pikirannya.
Tapi Eden bukan tidak tahu apa yang sedang di pikirkan putrinya, karena sedari kemarin juga suaminya sudah memberikan sebuah Clue Clue yang sangat mudah bisa di pecahkan.
Eden tersenyum sambil menganggukan kepalanya, “seriously Mommy?” Tanyanya sengan antusias.
“Seriuslah, buat apa Mommy siapkan semua ini kalau gak beneran?” Eden bertanya balik pada Brina, yang sepertinya tidak percaya dengan hal ini.
“But How?” Brina bertanya kembali, karena menurutnya ini tidak masuk di akalnya jika menggunakan sebuah logika yang lazim.
Eden terdiam sejenak, karena dirinya juga masih belum mengerti tentang bagaimana caranya ke dua anaknya itu bisa hidup kembali dari sebuah kematian, karena otaknya benar - benar sangat tidak sampai untuk berpikir tentang itu.
“Hemmm, gimana ya? Nanti kamu tanya langsung saja sama Daddy, karena Mommy tidak mengerti dengan penjelasan Daddy kemarin.” Jawab Eden, membuat Brina menyeritkan keningnya bingung, dia melihat ke arah Mommynya denhan perasaan malasnya.
“Mommy tidak mau tahu bagaimana caranya kakak kamu hidup kembali, yang Mommy syukuri adalah, mimpi buruk yang selama ini Mommy jalani, kini semua telah berlalu dan Tuhan kembali memberikan mimpi indah pada kehidupan keluarga kita.” Ucap Eden pada putrinya, membuat Brina yang mendengarnya merasa terharu dan langsung memeluk tubuh Mommynya yang sudah terlihat rentah namun masih tetap cantik.
“Mommy, Brina sangat mencintaimu Mommy, terima kasih karena sampai detik ini Mommy masih tidak bosan dengan merawat Brina dan membimbing Brina dengan tulus dan sabar.” Ucapnya, karena tahu setelah ini pasti Mommynya akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengan kakaknya Briell.
“Sama - sama sayang, tidak perlu ada rasa terima kasih antara anak dan orang tua, Kamu, Briell dan juga Brio semua adalah anak Mommy, tidak akan mungkin Mommy membeda - bedakan kasih sayang antara kalian, karena Mommy sayang sama kalian semua.” Balas Eden, dan semakin memperat pelukkanya dengan putri bungusnya.
“Haduh, haduh, apa ini? Mommy dan putrinya sedang berpelukan tetapi Daddynya tidak di ajak ya?” Sindir Mario, ketika melihat istri dan putri bungsunya berbahagia pelukan seperti itu.
Brina dan Eden tersenyum, lalu Brina beralih memeluk Daddnynya. “Sudah, jangan sedih - sedih, sekarang waktunya kita bahagia.” Ucapnya, karena tahu jika putrinya ini pasti terharu karena kedatangan kakaknya yang sudah lama dia rindukan.
Brina menganggukan kepalanya pelan, lalu melihat ke arah pintu masuk, di mana di sana terdapat Brio, Vita dan Michel yang baru datang. “Yuhhuuu, sudah pada berkumpul ya, aku ketinggalan gak?” Tanya Brio dengan ekpresi bahagianya, dia menggendong putranya itu untuk mendekat ke arah Hanna.
“Hallo kakak Hanna,” sapa Brio mewakilkan putranya yang berusia 4 tahun.
“Sini - sini sama Grandpa,” panggil Mario, meminta cucu laki - lakinya itu datang ke pelukannya.
Brio menurukan Michel dari gendongannya dan membiarkan putranya itu berjalan sendiri. “Michel sini, sini sama Grandpa.” Panggil Mario lagi, namun Michel sama sekali tidak perduli karena dia sibuk melihat Hanna yang sedang memakan snacknya.
“Hanna, kasih adiknya satu Nak,” pinta Brina, meminta putrinya memberikan sebagian snacknya pada Michel adiknya.
“No, no. This is Mine,” Hanna menolak untuk memberikan snacknya itu, namun Michel semakin mendekatinya dan ingin mengambil makanan milik Hanna.
“Sayang, Sharing is fun honey.” Brina kembali memberikan pelajaran untuk putrinya.
Namun Hanna tetap tidak mau berbagi dengan adik sepupunya. “Ya ampun kasihannya anak aku sudah mengunyah gitu.” Seru Vita, ketika melihat putranya sudah mengunyah seperti sedang memakan mengikuti mulut Hanna.
“Gemes banget sih.” Ucap Mario, langsung menggendong cucunya.
“Nanti biar Grandpa belikan yang banyak ya.” Timpalnya lagi, namun itu berhasil membuat wajah Hanna cemberut mendengarnya.
“Grandpa tidak mau membelikan Hanna, tapi Grandpa memberikan Michel. Grandpa sudah tidak sayang Hanna.” Tuduhnya pada Mario. membuat semua orang yang ada di situ tertawa mendengarnya.
Semua gurauan mereka berhasil membuat Historia bangun dari tidurnya “huwwaa, kita sudah sampai ya, kenapa tidak membangunkanku!” Tanyanya, dengan perasan yang masih mengantuk.
“Kamu mengantuk, jadi tidak aku bangunkan.” Jawab Griffin dengan singkat.
Namun ke dua mata Historia menangkap sosok yang menurutnya sangat tidak asing baginya.
“Mereka?
To Be Continue. *
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎
*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻