
🌊 KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹
💐 HAPPY READING 💐
Setelah dua jam mencari, Hanna masih belum bisa mereka menemukan Hanna.
Brina sudah menjerit menangis histeris dan bahkan Aldo sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi saat ini.
“Uncle Mario.” Panggil Alson yang baru saja tiba, setelah menyisiri semua pantai.
Semua orang yanv melihat wajah panik dari Alson, kini langsung mengikuti pria itu yang berjalan keluar.
Di luar, terlihat salah satu bodyguard Mario, menyeret dua mayat yang di duga keras adalah suster dan bodyguard yang tadi bersama dengan Hanna.
“Di mana kamu mendapatkan mayat mereka?” Tanya Mario pada Arnon suami Stella yang baru saja tiba.
“Di pesisir pantai, sekitaran 1 km dari sini.” Jawab Arnon dengan menatap Alson, yang di respon dengan anggukan kepala pelan.
“Apakah selain ini tidak ada tanda - tanda yang lainnya?” Tanya Mario lagi, dan Arnon hanya bisa menggelengkan kepalanya saja sebagai jawaban.
Eden yang sejak tadi mengikuti Mario, kini memeluk tubuh suaminya itu. Dia juga tidak bisa tenang saja kalau sudah seperti ini.
“Dua mayat ini? Dua mayat ini?” Gumam Aldo pelan. Sepertinya di otaknya sedang memikirkan sebuah kejadian yang sangat negatif.
“Dua mayat ini, Papah,” Aldo merasa trauma melihat mayat - mayat di hadapannya yang pasti mengingatkannya pada masa lalu.
L’Arc yang baru tahu jika anaknya memiliki trauma langsung memeluk dan menenangkan anaknya. “Dua mayat ini, pasti menandakan bahwa keadaan tidak baik - baik saja.” Ucap Brio yang baru saja tiba. Dari dirinya yang bersama dengan Aiden bersemayam di dalam ruang Cctv.
Briell yang melihat adiknya datang membawa laptop, langsung merampas laptop itu, untuk melihat hasil apa yang di dapatkan oleh Brio selama dua jam ini.
“Dia masih di sini,” seru Briell, yang di jawab dengan anggukan kepala oleh Brio.
“Tapi kami sudah berkeliling Briell, dan kami tidak menemukan apa pun.” Bantah Alson, yang merasa kalimat Briell itu salah.
“Kak Briell benar, Pah,” sahut Brio, yang langsung melihatkan Laptopnya pada semua orang.
Terlihat dalam Cctv salah satu kedai yang sepertinya tersembunyi. Code membujuk Hanna untuk ikut bersamanya.
Suster dan bodyguard memang tidak tahu tentang permasalahan keluarga bersama dengan Code, makanya ketika Code datang dan mendekati Hanna, mereka sama sekali tidak curiga.
Namun, siapa sangka, di perjalanan tiba - tiba saja ada dua orang yang masing - masing menutup wajahnya dengan kain, dan mengikatnya dengan keras. Sehingga keduanya kesulitan bernafas lalu pingsan.
Ada adegan yang sepertinya Code sedang berkomunikasi dengan dua orang itu. Lalu dia terlihat mengeluarkan pisau, dan menyem belih leher dari Suster dan bodyguard itu.
Dan terlihat sangat jelas, bahwa di CCTV itu, Hanna seperti berteriak dan meronta. Namun, Code menamparnya dan membawanya dengan paksa masuk ke dalam hutan yang tak jauh dari tempat Alson dan Arnon menemukan ke dua mayat itu.
Tubuh Mario bergetar, dia mengepalkan tangannya terlihat sekali dia sangat marah.
“Hahahahahahhaaha, siapa dia? Siapa dia berani memukul cucuku?” Mario tertawa dengan begitu kencang.
Namun, Eden yang merasa tubuh suaminya mengeras, langsung melepaskan pelukannya dan lalu memeluk Briell putrinya.
Dia takut, dia takut Mario yang seperti ini. Seumur dia bersama Mario, belum pernah dia melihat urat tubuh suaminya keluar seperti itu.
Kurang lebih begini ya Gengs 😅
Mario masuk ke dalam Vila, lalu masuk ke dalam ruang kerja yang memang sudah dia sediakan sejak lama.
Mario memakai rompi anti peluru, dan mengisi semua pistolnya dengan peluru. Sedangkan L’Arc, terlihat pergi ke kamarnya, dan mengambil Pedang kebanggannya.
Sudah lama sekali pedang itu tidak mendapatkan tetasan darah di ujungnya. Dan untuk ketajamannya. Jangan di ragukan lagi, pedang itu bahkan bisa memotong paku yang masih baru.
Dua puluh menit, waktu yang di butuhkan oleh para tetua menyiapkan diri.
Grandpa Mario
***
Yang lainnya takjub melihat keduanya yang sudah sangat siap untuk menyelamatkan Hanna cucu mereka.
“Kalian mau kemana?” Tanya Stella yang melihat Mario dan L’Arc sudah siap dengan senjata mereka masing - masing.
“Kita mau menyelamatkan Hanna,” jawab Mario tegas. Dan menurutnya pertanyaan itu sudah tidak perlu lagi harus dipertanyakan kepadanya.
“Memangnya kalian sudah tahu mereka di mana?” Tanya Stella, yang merasa bahwa ke dua kakek itu sangatlah tledor.
“Aku sudah berhasil mendapatkan lokasinya Dad.” Seru Brio, yang kembali memperlihatkan sebuah Maps pada Mario.
“Bagaimana bisa kamu mengetahuinya?” Tanya Stella lagi pada Brio.
“Itu adalah Hal mudah bagi kami Aunty,” jawab Brio dengan begitu santai.
“Di saat Hanna lahir, kami menanamkan sebuah alat pelacak di jantungnya. Namun, lemahnya alat ini, kalau Hanna tidak merasakan cemas dan terdesak. Maka alatnya tidak akan berfungsi.“
“Namun, tiba - tiba saja alat ini menyala otomatis, yang mengartikan bahwa Hanna sedak terdesak dan membuat kerja jantungnya semakin cepat.” Jelasnya, memperlihatkan gambar alat yang pernah dia ciptakan. Dan meminta Daddnya untuk menanamkan alat itu pada Hanna, dan bahkan dia juga menanamkan alat itu untuk Michel putranya.
Stella tersenyum mendengar hal itu. “Kalian sangat gila, itu adalah alat yang kalian tempelkan di jantung, kalian benar - benar bermain dengan Nyawa!” Tegas Stella, yang merasa adalah lagi orang gila pengikut kakaknya yang menciptakan barang - barang yang sangat tidak masuk di akal.
“Sudahlah, untuk saat ini alat itu berguna, dan alat itu sama sekali tidak akan membahayakan. Yang penting sekarang kita sudah tahu, di mana Hanna di sekap.” Seru Mario, yang tidak mau memperpanjang masalah itu.
Brio menganggukan kepalanya pelan, dan kembali memperlihatkan Papahnya lokasi Hanna saat ini.
“Jaraknya sekitar dua kilo meter.” Gumam Mario.
“Aku ikut Uncle.” Seru Aiden yang ingin ikut. Namun, tangan Mario menahannya.
“Tidak, kamu berjaga di sini! Saat ini Albert dan Griffin sedang tidak ada, jadi kamu di sini menjaga semua orang yang ada di sini!” Tegas Mario pada Aiden.
“Lah, tapikan kami ada di sini Dad?” Tanya Brio, mempertanyakan kegunaan mereka sebagai laki - laki kalau Daddynya hanya menganggap Aiden saja yang berguna.
“Sepertinya, Daddymu lupa kalau kita adalah laki - laki.” Sahut Arnon, yang terkesan jarang bicara namun kali ini mulutnya gatal ingin menyahuti.
“Kalau begitu aku -“ Aldo juga ingin bersuara, namun kali ini L’Arc lah yang menahannya.
“Kamu di sini saja Aldo, Papah tidak bisa bergerak sambil melindungimu.” Tegas L’Arc yang sangat paham kalau putranya sama sekali tidak bisa bela diri apa lagi menggunakan senjata.
“Kalau begitu, pergilah cepat! Dan bawa pulang Hanna ke sini! Aku tidak mau semakin dia lama di sana, pria itu akan semakin menyiksa cucuku!” Usir Eden, yang merasa bahwa suaminya harus segera pergi menyelamatkan Hanna.
Sedangkan Brina, sama sekali sudah tidak bisa berbicara apa - apa lagi. Dia hanya bisa menyerahkan semuanya pada Daddynya, dan berharap Daddnya itu akan menyelamatkan putrinya segera.
To Be Continue. *
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎
*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻