
🌹 Happy Reading Bestie 😘
Brina yang saat ini sedang menikmati tidur siangnya, lantaran Hanna masih bersama dengan Aldo, karena tidak mau ikut pulang bersamanya. Tiba – tiba saja dikagetkan dengan suara orang tuanya yang terus saja meneriakinya.
“Brina!!! Gabrina Jonathan!!” Teriak suara Mario dari lantai bawah.
Pada siang hari, Brina memang terbiasa untuk membuka pintu kamarnya, agar memudahkan pelayan rumahnya untuk membersihkan kamarnya atau membutuhkan sesuatu, tanpa harus menganggunya.
“Brina!! Gabrinaaa, turun sekarang!!” Lagi – lagi teriakan itu, menganggu tidur nyenyaknya.
Karena merasa tidurnya terganggu, Brina yang kesal, terpaksa bangkit dari tidurnya, dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah pintu kamarnya.
Braaakkk. Suara pintu terdengar begitu nyring sekali, ketika dibanting oleh pemiliknya.
“Pulang – pulang malah membuat keributan saja.” Kesal Brina mengeluh, tanpa ada rasa bersalah sedikitpun karena sudah membanting pintu.
Dia kembali melangkah naik ke tempat tidurnya, untuk kembali melanjutkan tidur nyenyaknya.
Masih dengan perasaan kesalnya, Brina mencoba untuk memejamkan matanya, namun sepertinya rasa ngantuknya itu sudah menghilang entah kemana.
“Ahhhhhh, sangat menyebalkan sekali.” Umpatnya, lalu kembali terpaksa bangun dari tidurnya, untuk berjalan ke bawah menemui Mommy dan Daddnya.
Ketika Pintu lift terbuka, Brina mulai melangkahkan kakinya, keluar dari lift rumahnya, “kalian itu kenapa? Pulang – pulang, malah meneriaki Brina seperti itu?” Ucapnya kasar, pada Eden dan Mario ketika melihat ke dua orang tuanya itu sedang duduk di ruang keluarga, bersama dengan Brio, kakak laki – lakinya.
“Kamu ngapain di sini?” Tanya Brina pada Brio dengan menampilkan wajah kesalnya.
Brio yang sedang fokus pada Ipad miliknya, yang memperlihatkan jika dia sedang bermain game itu, memilih cuek dengan pertanyaan dari adiknya.
“Brina duduk!” Tegas Mario kepada putrinya.
Ketika Daddynya sudah berbicara tegas seperti itu, dengan perasaan malas, Gabrina duduk mengikuti perintah Daddynya.
Setelah semuanya terlihat diam, Mario kini menatap ke arah istrinya Eden, untuk berbicara lebih dulu, karena Mario khawatir, jika dia yang duluan bertanya, maka akan membuat emosinya itu naik.
“Brina, Mommy bertanya denganmu, dan please! Jawab ini dengan jujur!” Eden berkata dengan lembut, namun terdengar jelas, bahwa dia sedang meragukan anaknya saat ini. Membuat Brina yang sedang fokus pada layar ponselnya, kini menatap ke arah Eden dengan tajam.
“Maksudnya apa?” Tanya Brina dengan penuh kebingunggan.
“Maksudnya apa?” Sahut Brio yang mulai mengeluarkan suaranya, menegur adiknya.
“Apa kurang jelas, pertanyaan Mommy yang mengatakan, apakah ada yang kamu sembunyikan? Kenapa masih bertanya, maksudnya apa?” Seru Brio mulai jengah dengan sifat adiknya, yang tidak pernah serius dalam menaggapi masalah apa pun.
“Aku tahu inti dari kalimat Mommy apa, aku bukan manusia idiot, yang tidak mengerti apa yang sedang ditanyakan oleh Mom!”
“GABRINA JONATHAN!” Bentak Mario, tiba – tiba.
“What Daddy?! Brina di sini, tidak perlu teriak – teriak!” Balasanya tidak kalah keras.
Mario yang sudah kehabisan kesabaran kini, melemparkan sebuah dokumen ke atas meja yang ada dihadapannya.
“Bisa kamu jelaskan ini, Gabrina?” Tanya Mario, dengan tatapan mengintimidasi.
“Dari tadi, Mommy sudah ingin berbicara dengan lembut sama kamu, tetapi kamu sama sekali tidak mendengarnya.” Kini Mario bersuara membuat suasana menjadi hening dan penuh ketegangan.
Brina sangat ingat, dokumen itu adalah dokumen yang kemarin dia berikan kepada Aldo. Dia tidak mungkin salah mengenalinya, karena dia sendirilan yang memberikan amplop berlogo rumah sakit yang kemarin dia datangi bersama dengan Alica.
“Sial! Aku salah strategi.” Gumamnya dalam hati. Merasa bahwa semua rencanannya telah gagal total, karena tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan.
Bagaimana Daddy dan Mommynya bisa tahu tentang masalah ini? Memikirkannya saja sudah membuat Brina nyaris frustasi saat ini.
“Daddy sudah mengatakan kepadamu dengan tegas, setiap saat Gabrina! Jangan jatuh ke dalam lubang kesalahan yang sama!”
“Kenapa kamu lagi – lagi, tidak memberitahukan kalau kamu sedang hamil?” Mario sudah kehabisan kata – kata, untuk mendidik putrinya satu ini.
“Kalian ber dua ya, selalu saja membuat masalah, terutama kamu Gabrina,” tandas pria paruh baya yang sudah memiliki tiga anak itu.
“Seandainya kakak kalian Briell ada di sini, sudah Daddy pastikan kalau kalian tidak akan berani kepadanya, seperti kalian berani kepada Daddy dan Mommy.” Tatapan Mario melirik ke arah lain, memikirikan nasib dari putri bungsunya saat ini.
Tidak ada yang berani bersuara saat ini, ketika Mario sudah berbicara, apa lagi memarahi ke dua anaknya itu. Berarti kesalahan ke duanya sudah sangat fatal, sehingga Mario yang jarang sekali memarahi anak – anaknya, kini mulai bersuara.
“Daddy akan berbicara dengan Aldo, kamu tidak bisa menolak lagi, apa pun keputusan yang akan Daddy Ambil Gabrina!” Mario menegaskan hal itu kepada putrinya.
Sontak saja Brina menggelengkan kepalanya pelan, mendengar keputusan sepihak dari Daddynya.
“No, Daddy! No! Brina tidak mau! Ini hidup Brina, Brina berhak memutuskannya!” Tolaknya, pada keputusan Mario.
“Kamu pikir apa? Mau membuat ke dua anakmu hidup tanpa nama ayahnya, seperti itu?” Serkas Brio tidak henti – hentinya kepada adik perempuannya itu.
To Be Continue.
Hey teman - teman, jangan lupa ya, untuk Like, Komen, Vote dan jika berkenan memberikan Hadiahnya untuk Mimin. Agar mimin lebih semangat lagi updatenya, biar hak malas - malasan lagi.
Terima kasih 🙏🏻