
🌹 Happy Reading Bestie 🌹
Matahari yang mulai menurun, kini suasana redupnya mampu menyusuri cahaya di dalam sebuah kamar berdindingan kaca di di sebuah apartemen.
Suara ponsel yang terus menerus berdering, kini mulai mengganggu tidur dari sosok wanita cantik yang masih betah menikmati tidurnya.
Drrttttt,,ddrrttttt,dddrrttt, suara ponsel yang benar – benar sangat mengusiknya, kini memaksanya untuk mulai meraba dan mencari ponselnya, meskipun ke dua matanya masih tertutup rapat.
“Ya,” ucapnya, setelah dia merasa sudah mengangkat panggilan itu.
“GABRINA JONATHAN!!!!!DI MANA KAMU SEKARANG???????” teriak seseorang, yang mampu membuat wanita itu langsung membuka ke dua matanya besar.
“Daddy,” gumamnya, lalu menyadari bahwa langit telah menampilkan warna semburat jingga yang menandakan turunnya waktu.
“Astaga, ini?” lirihnya lagi pelan, ketika melihat waktu yang sudah menunjukkan pukul 7.25 Pm.
“GABRINA, DADDY TANYA SEKALI LAGI SAMA KAMU! DI MANA POSISI KAMU SEKARANG? DAN APAKAH KAMU TAHU KALAU HANNA DI CULIK HAAAAAAA,” suara Mario yang sudah bagaikan sebuah petir, mampu mbuat jantung wanita itu rasanya ingin berhenti seketika.
“Hanna,” gumamnya lagi pelan, tidak tahu bagaimana mau merespon.
Saat ini kesadarannya belum sepenuhnya pulih, Namun, perasaan seorang ibu tidak akan pernah salah.
Dengan melihat air matanya yang tiba – tiba menetes, terlihat jelas bahwa Brina mulai takut saat ini.
“Hanna,” lirihnya lagi pelan, dan langsung segera bangkit untuk pulang ke rumahnya.
“Aldo breeng**sekk, akan aku kejar kamu biar sampai di ujung dunia,” batin Brina, yang sangat tahu bahwa Aldolah yang pasti membawa putrinya.
Tapi Brina merasa, harus mengetahui lebih dulu kronologi hilangnya putrinya, agar dia tahu ke mana Aldo membawanya.
*****
Sesampainya di rumah, Brina telah disambut dengan tatapan kemarahan dari Daddynya, hingga dirinya mematung tidak bisa berkata apa pun.
“Sudah Pulang kamu?” tanya Mario, dengan sedikit sindiran, melangkah mendekati putrinya.
“Daddy, Brina –“
Plaaaakkkkk, satu tamparan yang cukup keras berhasil mendarat di pipi mulus wanita itu, bahkan sangking kerasanya Brina sampai terduduk, karena tidak bisa menahan keseimbangannya.
“Di saat anak kamu diculik, kamu malah enak – enakkan, Melemparkan dirimu kepada seorang pria, untuk mendapatkan kepuasaan, BRINNAAAA,” pekik Mario, yang tidak habis pikir dengan kelakuan putrinya ini.
Dia begitu hafal, dengan tanda merah yang berada di leher putrinya, sepertinya Brina lupa untuk menyembunyikannya karena terlalu panik tadi.
Mario sendiri juga bingung, kenapa keberadaan cucunya sangat sulit sekali dilacak, bahkan sudah beberapa jam ini, anak buahnya masih saja belum mendapatkan hasil apa pun.
“Daddy, aku tidak melempar tubuhku kepada pria itu Dad, tetapi dia yang memaksaku untuk melayaninya, dan aku yakin dia juga yang sudah menculik Han –“
“Atas dasar apa Brina?” putus Mario, yang menyela penjelasan alibi dari putrinya.
Mendapatkan pertanyaan itu, mulut Brina rasanya langsung terkatup, tidak bisa atau lebih tepatnya tidak berani mengatakan hal yang sebenarnya.
“Karena apa Brina?? JAWAB DADDY!!!” bentak Mario lagi, dia sudah benar – benar habis kesabaran dengan keadaan ini.
Cucunya yang diculik, baby sister yang dibunuh, putrinya yang baru saja pulang, dan baru mengetahui jika anaknya di culik, apa lagi Brina pulang dengan kondisi tubuh yang memperlihatkan kenikmatan yang dia dapatkan.
“Mommy, di Mana Elly? Pasti dia tahu bagaimana kronologinya Mom?” tanya Brina beralih ke Eden, yang berdiri di belakang Mario.
“Brina!!!” Mario tidak habis pikir, Brina yang ditanya, kenapa malah bertanya tentang yang lain.
“Dad, dia adalah orang yang aku bayar untuk menjaga Hanna! Dan sekarang aku hanya bertanya dia ke mana? Dan kenapa penjaganya bisa lepas? Ke mana semua bodyguard yang Daddy bayar ? Ke mana Dad?” tanya Brina yang balik bertanya ke Mario. Dia begitu hafal jika Daddynya yang begitu posesif kepadanya dan Hanna, tidak pernah lengah untuk memberikan keamanan untuk mereka.
“Brina, mereka semua telah dibunuh,” jawab Eden, yang lebih dulu menjelaskan pada putrinya.
Mendengar hal itu, hati Brina semakin di remuk, dia tidak menyangka jika Aldo akan berani melakukan hal ini.
“Padahal dia belum mengetahui jelas jika Hanna adalah putrinya, tetapi kenapa dia begitu berani melakukan hal ini???” Brina dengan keadaan yang tidak sadar, mengatakan dan bahkan menyebut hal yang paling pantang dia katakan.
“Brina,” panggil Eden, mengguncang tubuh Brina, karena merasa terkejut mendengar kalimat putrinya yang barusan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
“Brina, kamu mengatakan pada Mommy dan Daddy, jika pria yang menghamili kamu itu telah meninggal dan bahkan kamu tidak bisa lagi menemui mayatnya, lalu sekarang –“
“Dia membohongi kita, itu kesimpulannya sekarang,” sahut Mario yang menatap Brina dengan penuh kecewa.
Masa remaja, masa di mana Mario dan Eden begitu percaya pada putrinya ini, hingga bahkan membebaskan putrinya tanpa pengawalan ternyata benar – benar menjadi sebuah boomerang bagi keluarganya.
Eden, sudah tidak bisa berkata apa – apa lagi saat ini, kecewa itu yang Dia rasakan sekarang. Apa lagi mendapatkan putrinya sama sekali tidak melakukan pembelaan atas apa yang dituduhkan oleh Daddnya itu.
To Be Continue.
**hei Bestie, jangan lupa untuk Like, Komen, Vote dan Hadiahnya ke karya Mimin ini ya, Agar Mimin lebih semangat lagi untuk Update dan nulisnya.
Dan jangan lupa untuk mampir ke karya Mimin yang lainnya ya.
Terima Kasih 🙏🏻🙏🏻*.