
🌹 Happy Reading 🌹
Mario menatap Pelayan itu dengan lekat, dia melihat seperti ada seberkas harapan untuknya mengakhiri rasa penasarannya.
“Siapa nama kamu?” Tanya Mario kepada pelayan paruh baya itu.
Eden menoleh kembali ke arah suaminya. Yang tiba – tiba saja, terasa sangat kepo sekali dengan nama seorang pelayan.
Pelayan yang ditanya itu pun, menoleh bingung ke arah Mario dan Eden. “Saya, Amardel, Tuan, Nyonya,” jawabnya pelan.
“Amardel, sudah berapa lama kamu kerja di sini?” Tanya Mario lagi.
“Sudah cukup lama Tuan, di saat mendiang, Raja dan Ratu terdahulu sebelum sekarang rumah ini di pimpin oleh Tuan Aberline.” Jawabnya dengan tenang.
“Kemana ke dua orang tua Aldo? Pasti kamu mengetahuinya?” Tanya Mario lagi. Benar – benar begitu ingin tahu semuanya tentang Aldo.
Begitu juga dengan Eden, dia yang sedari tadi tidak seberapa ingin tahu. Kini malah terdiam, dan juga ikut mendengarkan, cerita dari pelayan tersebut.
“Dulu, di saat Tuan Aberline masih berusia 7 tahun, terjadi kebakaran hebat di Istana ini. Kebakaran yang berhasil merenggut ke dua nyawa Tuan dan Nyonya, bahkan, Tuan Aberline sendiri, sempat mengalami koma selama dua bulan lamanya, karena luka bakar yang dia derita. Hingga akhirnya ketika dia tersadar, Tuan Code, langsung meminta Dokter melakukan operasi pelastik untuknya, agar bisa kembali normal tanpa bekas luka bakar.” Jelas Amardal, yang memang tidak pernah menutupi, ketika ada orang lain yang ingin mengetahui keadaan rumah itu terdahulu.
Baik Eden maupun Mario terlihat cukup terkejut mendengar cerita tentang masa lalu dari Aldo itu.
“Lalu, tentang bipolarnya?” Tanya Eden, langsung to the point saja.
Amardal seketika menyeritkan keningnya bingung. “Bipolar?” Gumamnya pelan. Tetapi masih jelas terdengar oleh Eden, hingga tanpa sadar ikut menganggukan kepalanya.
“Tetapi Tuan Aberline tidak mempunyai penyakit Bipolar, Nyonya,” jawabnya ragu. Dengan sedikit senyum yang begitu dipaksakan.
“Tidak mempunyai?” Tanya Mario kurang yakin. Pasalnya, dia begitu percaya bahwa putrinya tidak akan membohonginya.
“Kamu tahu tidak? Apa Biporal itu?” Mario, kembali bertanya, kepada pria paruh baya itu. Dia seperti merasa, bahwa mungkin saja pelayan itu tidak mengetahuinya.
Amardal tertawa pelan, dia masih bersikap sopan pada Mario, karena beliau adalah seorang tamu. Walaupun dia merasa bahwa harga dirinya sedang diragukan di sini.
“Saya sudah lama berada di sisi, Tuan Lion, dan sekarang, saya kembali berada di sisi Tuan Muda Aberline, jadi, sangat tidak mungkin, jika saya tidak mengetahui tentang sakitnya, Tuan Aberline.”
“Saya tahu, Bipolar itu adalah, penyakit yang membuat seseorang mempunyai dua perasaan atau bahkan dua kepribadian.” Terang Amardal.
“Jika sudah tidak ada apa – apa lagi, saya permisi, ingin ke belakang dulu, Tuan, Nyonya,” pamitnya, kepada Mario dan Eden, yang terlihat bengong mendengar jawaban dari pelayan tadi.
“Silahkan,” jawab Eden pelan.
Kini ke duanya menatap langkah pelayan itu, hingga menghilang dari pandangan. Dan kini barulah Eden, beralih menatap suaminya dengan tajam.
“Kenapa kamu tanyakan masalah itu? Hem?” Tanya Eden, dengan suara yang ditekan. Memperlihatkan rasa geramnya kepada suaminya.
Seketika Mario menelan Salivanya kasar. “Aku hanya bertanya saja, salahnya di mana?” Tanyanya balik. Seperti tidak merasakan perasaan bersalah sama sekali.
Eden tahu, bahwa Brina ini memang sangat – sangat mengikuti sifat dari Mario suaminya.
Sifat yang sama sekali tidak bisa menghargai orang lain, apa lagi, seseorang yang lebih tua darinya.
“Sudahlah, percuma bicara sama kamu, Daddy sama anak, sama aja.” Keluh Eden, sembari beranjak dari posisinya.
“Sayang mau kemana?” Tegur Mario, dengan menahan tangan istrinya, yang baru saja ingin melangkah.
“Aku mau ke kamar tidur, besok pagi – pagi kita akan pulang, setelah menyidang dua orang itu.” Balasnya final.
Dia tidak suka berlama – lama menginap di tempat seseorang yang tidak begitu dikenali. Ini karena dia begitu terpaksa, karena kondisi Hanna cucunya yang masih belum memungkinkan untuk di bawa pulang. Jadi terpaksa Brina memintanya untuk tinggal terlebih dahulu, sampai besok kondisi Hanna kembali baik.
Merasa tangannya sudah tidak di rahan lagi, kini Eden, kembali melangkahkan kakinya pergi, meninggalkan suaminya yang masih begitu nyaman duduk di taman itu.
***
“Mommy dari mana?” Tegur Brina yang tiba – tiba saja muncul dibelakang Eden, yang baru saja masuk ke dalam Rumah.
Eden terkejut, dengan tatapan kesal kesal putrinya. “Kamu itu, bikin kaget saja.” Omel Eden, yang dibalas tawa ringan oleh Brina.
“Hehehe, habisnya, Mommy jalan begitu serius sih, sampai tidak melihat kanan kiri seperti itu,” sahutnya dengan bermain – main.
Eden menggelengkan kepalanya sejenak, sembari menghela nafasnya berat. “Sudahlah, Mommy mau ke kamar dulu, Mommy mau istirahat, Dan Mommy harap, besok kamu sudah memberikan jawaban kepada Mommy dan Daddy.” Tegas Eden, lalu kembali melanjutkan langkahnya.
“Mom, tapi? Jawaban apa Mom?” Tanya Brina dengan suara yang sedikit berteriak.
Tetapi Mommynya itu sama sekali tidak menjawab pertanyaanya, melainkan terus saja melangkahkan kakinya. “Jawaban apa sih?” Gumamnya bingun, dengan ekpresi yang menggaruk kepalanya.
Dengan raut wajah yang bingung, Brina berlalu ke Taman belakang, untuk menemui Daddynya. “Ada apa sayang?” Tanya Mario, ketika melihat wajah anaknya yang bingung.
“Mommy tadi meminta jawaban Dad, katanya aku harus memberikanya besok, tetapi pertanyaanya saja aku tidak tahu apa? Lalu bagaimana bisa memberi jawaban?” Jawabnya, yang membuat, Mario hanya bisa tersenyum kikuk, dengan sedikit mengedikan bahunya pelan.
“Kita tunggu besok saja, paling besok Mommy bilang sama kamu,” balas Mario. Dan dijawab dengan anggukan kepala pelan oleh Brina.
“Oh, okey,” lirihnya pelan. Entah kenapa Brina merasa perasaannya tidak enak saat ini. Pasti besok Mommynya akan merencanakan sesuatu, yang tidak dia ketahui.
To Be Continue.
Hey Teman - Teman, jangan lupa ya, untuk, Like, Komen, Vote dan Hadiahnya untuk Karya Mimin ini. Agar mimin lebih semangat lagi untuk updatenya.
Dan Jangan lupa juga untuk mampir ke karya mimin yang lainnya ya.
Terima Kasih.