
🌹 Happy Reading Bestie 😘
Aldo paham akan situasi ini, dia juga tidak marah atas penghinaan yang diberikan Mario kepadanya. Itu sudah sangat wajar, ketika seorang Ayah yang mendapatkan anak perempuannya mendapatkan penolakan seperti itu.
Aldo yang sudah merasa situasi mulai panas, memilih untuk beranjak dari tempatnya itu.
“Mau kemana kamu?!!” Bentak Brina, yang lebih dulu menahan tangan pria yang hendak melarikan diri itu.
Aldo menghela nafasnya berat, lalu menatap ke arah Code yang berdiri di belakangnya. “Aku hanya ingin melihat, anak aku, hanya ingin bertanggung jawab padanya, tanpa harus menikahi Brina.” Ungkapnya dengan tegas.
“Dia sendiri yang meminta hal itu, maka akan terjadi seperti itu juga.” Tekannya tanpa ada pembatahan. Sebelum akhirnya dia benar – benar meninggalkan meja makan itu.
“Aldo!!” Pekik Mario, tanpa diperdulikan sama sekali oleh pria muda itu.
“Aldoo!! Saya belum selesai bicara!” Teriaknya lagi, dengan kembali menaikkan oktaf suaranya.
“Sudah – sudah,” tahan Eden, yang melihat suaminya ingin mengejar Aldo, yang sudah pergi entah kemana.
“Sudah apanya?! Kamu lihatkan betapa kurang ajarnya dia,” bantah Mario, yang benar – benar sudah naik pitam.
“Sudahlah Dad, percuma Daddy marah – marah sama dia, tidak akan pernah diperdulikan Dad.” Seru Brina yang ikut membantu Mommynya untuk menghentikan Amarah Daddynya.
“Aku sudah bilangkan, dia itu sakit jiwa Dad, dia adalah orang yang paling bahagia jika dibenci orang, jadi sudah, jangan Daddy buang tenaga, hanya untuk memarahinya, apa lagi mendapatkan jawaban darinya.” Terang Brina, yang sudah begitu hafal dengan sikap Aldo.
‘Dan itu juga yang membuatku pergi darinya, karena tidak adanya jawaban dari kejujuran, selain perbedaan derajat.’ Batin Brina, yang menoleh ke arah langkah di mana Aldo menghilang.
Tidak ada yang pernah tahu, sebenarnya apa yang ada di dalam pikiran pria itu. Hidupnya terlalu misterius untuk di selami. Dalam hubungan lalu yang mereka jalani, tidak sedikitpun Brina mengetahui apa pun tentang Aldo, selain sosok dirinya yang yatim piatu dan bahkan seorang anak angkat.
****
Di dalam mobil, Code melihat Aldo yang duduk termenung di kursi penumpang, dengan pandangan yang mengarah keluar, serta tangan yang sedang menopang kepalanya.
“Apa Anda yakin, mengatakan hal seperti itu Tuan?” Tanya Code kepada Aldo.
“Anda, menculik Nona kecil Hanna, saya pikir Anda ingin –“
“Lebih baik seperti ini keadaanya Code, karena lebih baik tidak ada yang terikat hubungan denganku, dan teruntuk Hanna, dia tetaplah anakku, aku tidak akan lepas tanggung jawab darinya, sekali dua kali, dia boleh bertemu denganku, tapi tidak baik jika terlalu sering.” Terang Aldo, yang membuat Code, hanya bisa terdiam dan mencerna baik – baik, apa yang diucapkan oleh Tuan mudanya itu.
‘Hidup dalam kesendirian selama puluhan tahun, ternyata bisa membuatmu begitu dingin Tuan.’ Batin Code, sembari terus melirik sedikit – sedikit ke arah Aldo yang tidak merubah posisinya.
***
Sudah dua minggu berlalu, saat ini Mario dan Eden, tengah berada di Jepang untuk perjalanan bisnis.
Sudah dua minggu juga, Gabrina pusing, dengan permintaan Hanna yang terus memintanya untuk menemui Aldo.
Dan di sinilah akhirnya dia berada, di perusahaan milik Aldo. “Katakan kepada Bos kalian, jika Brina dari Amo’s grup ingin bertemu,” ucap Brina, pada seorang resepsionis di bawah yang dia temui.
“Maaf Nona, apakah telah membuat janji?” Tanya wanita itu.
“Aku tidak membutuhkan janji untuk bertemu bos kalian itu!” Jawabnya penuh tekanan.
Wanita di balik meja resepsionis itu mendadak bingung, apa yang harus dia lakukaan saat ini. Karena prosedur kantor ini, siapa pun itu, walaupun dia adalah seorang klien, bos mereka pasti akan menitipkan pesan terlebih dahulu untuk mengizinkan siapa pun masuk.
Brina, yang terlalu muak menunggu lama, akhirnya langsung mengeluarkan id Card ( KTP ) yang dia miliki. “Aku adalah Gabrina Jonathan, kalau aku mau, aku bisa menghancurkan perusahaan ini, sampai kamu tidak memiliki pekerjaan lagi.” Ancamnya, menggunakan kekuasaanya.
Jelas saja, siapa yang mau berurusan dengan keluarga Jonathan. Ke – aroghanan pemiliknya Mario, serta sepak terjangnya dalam melawan musuh, sudah sangat tidak diragukan lagi.
Bahkan semua bawahan – bawahan perusahaan bisa sampai mengetahui kekejaman pria itu. Yang mengartikan bahwa mereka tidak boleh bermain – main.
Dengan wajah pucat, wanita itu berulang kali, berusaha menelpon ke ruangan sekertaris Aldo, tapi sama sekali tidak diangkat. Entah apa yang dilakukan oleh wanita itu di sana, sampai tidak mau mengangkat telpon sepenting ini.
“Mommy, Hanna sudah lelah sekali duduk di sana.” Ucap Hanna, yang baru saja menghamipiri Brina.
Brina tersenyum kepada putrinya, “sebentar ya sayang, Mungkin sedikt lagi.” Sahut Brina, yang sebenarnya juga sedang menahan kesabaraanya.
Wanita resepsionis itu akhirnya, memberanikan diri, untuk menelpon langsung ke ruangan Aldo. Dia tidak ingin kehilangan pekerjaanya, hanya karena sebuah ancaman dari Nona Jonathan yang berbahaya ini.
“Hallo, Aldo berbicara.” Sahut suara di seberang telpon, yang akhirnya mengangkat panggilan emergency tersebut.
To Be Continue.
Hey Teman - Teman, jangan lupa ya, untuk, Like, Komen, Vote dan Hadiahnya untuk Karya Mimin ini. Agar mimin lebih semangat lagi untuk updatenya.
Dan Jangan lupa juga untuk mampir ke karya mimin yang lainnya ya.
Terima Kasih.