
🌹 Happy Reading Bestie 😘
“Kamu pikir apa? Mau membuat ke dua anakmu hidup tanpa nama ayahnya, seperti itu?” Serkas Brio tidak henti – hentinya kepada adik perempuannya itu.
“Jangan egois Gabrina, Mommy dan Daddy juga masih ingin berusaha meminta Aldo untuk bertanggung jawab, tanpa adanya sebuah tekanan dari siapa pun, dan kamu -.” Belum sempat Eden menyelesaikan kalimatnya, terlihat dari luar, Aldo yang baru saja datang.
Rupanya, ketika tadi dikabarkan oleh Brio tentang kehamilan putri bungsunya, Mario langsung bergegas menghentikan pekerjaannya di Jepang, untuk segera pulang ke London, tak lupa juga dia meminta Brio untuk memanggil Aldo ke rumahnya.
Pria paruh baya itu, sebenarnya tidak begitu menyukai Aldo. Mengingat, sosok Aldo dulu sempat menolak putrinya secara terang - terangan di hadapannya.
“Duduklah, Aldo.” Pinta Eden dengan begitu lembut, mempersilahkan pria itu duduk bergabung bersama mereka di ruang keluarga.
Aldo yang sudah paham dari awal, jika hal sedemikian rupa, pasti akan terjadi cepat atau lambat. Sebenarnya entah dikatakan beruntung atau tidak.
Tetapi, Aldo merasa keluarga Jonathan ini adalah keluarga yang baik, terbukti, mereka tidak memaksa dirinya untuk bertanggung jawab ketika mengetahui bahwa dialah ayah biologis dari Hanna.
Tetapi, saat ini, meskipun tidak dipaksa, tetap saja, sebuah rasa tanggung jawab itu, harus Aldo terapkan di sini. Sehingga dia memilih diam terlebih dahulu, untuk mendengarkan dengan baik, apa keputusan dari orang tua Gabrina.
Tentu saja, sosok Aldo sedari tadi tidak lepas dari pandangan wanita yang saat ini sedang terpojok, tanpa satupun ada yang mendengar suaranya.
Begitu juga dengan Mario, dan Eden yang terlihat menatap ke arah Aldo dan Brina secara bergantian.
“Saya sebagai Mommy dari Brina, benar – benar kecewa pada kamu Aldo. Saya kecewa atas kejadian yang menimpa putri saya ini. Kecewa dengan kamu yang memaksa putri saya untuk melayani nafsumu itu kembali, sehingga terjadi hal sedemikian rupa.” Ungkapan rasa kecewa yang disampaikan oleh Eden itu, benar – benar sampai ke dalam hati Aldo.
Dia sangat mengerti jika orang tua Brina sangat kecewa dengan tindakannya kemarin, yang menyebabkan putrinya hamil untuk yang ke dua kali.
Kehamila Brina yang pertama saja, dia belum pernah mengucapkan kata maaf pada Mario dan Eden, apa lagi di tambah kesalahannya kali ini.
Aldo sendiri, sangat mengecam dirinya atas tindakan bodoh yang dia lakukkan.
“Maafkan saya nyonya, maafkan saya, saya benar – benar menyesal melakkukan hal ini. Saya hanya terbawa amarah dan nafsu karena perpisahan saya dengan Brina yang sangat meninggalkan luka.” Aldo menundukkan kepalanya di hadapan Mario dan Eden.
“Maafkan saya, karena saya sudah dua kali melakukkan kesalahan dan pastinya mencoreng nama keluarga kalian. Saya lepas tanggung jawab terhadap Hanna selama bertahun – tahun, dan lalu ketika kembali saya malah menghamili Gabrina lagi.”
“Saya, tidak tahu lagi harus mengungkapkan seperti apa rasa penyesalan ini. Kalian mau marah dengan saya, itu sangat Wajar, Tuan Mario, Nyonya Eden.”
“Apa pun yang kalian ingin lakukkan kepada saya, kalian mau pukul saya atau apa pun hukumannya saya akan terima. Tetapi saya sungguh tidak bisa melihat kesedihan dari kalian atas perbuatan hina dan bodoh yang saya lakukkan terhadap putri kalian.” Ungkap Aldo, dengan mencurahkan semua rasa penyesalannya.
Dia menyesal, karena sudah terbawa nafsu dan amarah, hingga dirinya termakan jebakan Brio yang mengatakan Brina akan mencintainya jika mereka melakkukan itu kembali. Tetapi pada kenyataanya, semua hasilnya malah nihil, dan membuat masalah menjadi lebih besar.
Tetapi, di saat seperti ini dia jelas saja tidak bisa mengakuinya. Dia benar – benar takut pada Daddy dan Mommynya. Belum lagi dia pasti akan membuat Ke dua orang tuanya itu merasa lebih kecewa dengan kelakuaan buruknya yang mampu menjebak orang lain demi ke egoisannya.
“Pokoknya ini adalah salah Aldo! Kenapa juga dia tidak menghubungiku dan berdiskusi dulu kepadaku. Padahal aku sudah menunggu saat – saat itu, agar aku bisa mengancamnya.” Ucap Brina dalam hati, merasa marah karena salah mengira jika Aldo akan menghubungi dirinya duluan.
Tetapi pada kenyataanyanya, pria itu malah lebih dulu menghubungi Brio dan lebih – lebih, kakaknya yang terlalu ember itu akhirnya memberitahu kepada Mommy dan Daddynya.
Brina menatap tajam ke arah Aldo, sembari menggelengkan kepalanya pusing. Siapa sangka niatnya untuk bermain – main dan mengerjai Aldo agar bisa bertekuk lutut kepadanya, malah berbalik menjadi boomerang dan menjebaknya dalam situasi ini.
Eden yang sedari tadi lebih memperhatikan putrinya itu, sepertinya tahu bahwa putrinya sangat tidak suka dengan keadaan ini.
“Jangan hanya memikirkan diri kamu saja Gabrina Jonathan, ingat! Ada dua anak yang membutuhkan kasih sayang utuh dari ke dua orang tuanya.” Eden kembali memberikan nasihat kepada putri bungsunya, dan berharap kali ini Brina mau mendengarkan dirinya.
“Sudah dewasa! Jangan berpikir seperti anak – anak lagi!” Sahut Brio dengan ketus, yang menujukannya khusus pada adiknya.
Brina memutar bola matanya malas, ketika mendengar kalimat dari kakaknya. “Gara – gara kamu, semua ini terjadi! Pasti kamu juga kan yang mengadukan masalah ini sama Mommy dan Daddy.” Tandasnya dengan nada tidak suka pada Brio.
“Iya, memang aku. Kenapa? Mau tidak terima? Pria itu menantang adiknya yang seperti tidak terima dengan sikapnya.
Tentu saja Brina langsung terdiam mendengarkan kalimat serkasan yang keluar dari mulut kakak laki – lakinya itu. Walaupun terkadang dia ketus terhadap Brio, tetapi sebenarnya dia sangat takut, apa lagi dia sangat tahu sepak terjang kakaknya itu.
“Terselah kalian mau berbuat apa. Yang jelasnya aku tidak mau menerima pernikahaan yang kalian rencanakan ini!” Tegas Brina, sebelum akhirnya dia melangkahkan kakinya menuju lift rumahnya, agar dirinya bisa cepat - cepat masuk ke dalam kamarnya dan tidak lagi mendengar ocehan – ocehan orang – orang di luar.
“Brina!! Mau kemana kamu?! Daddy belum selesai bicara!” Teriak Mario, ingin menghentikan langkah dari putri bungusnya yang sudah masuk ke dalam lift tanpa memperdulikkan panggilannya itu.
Aldo, Eden dan Brio yang masih berada di situ, hanya bisa mengehela nafas mereka dengan kasar, ketika harus melihat sikap aroghan dari Brina.
“Oke, never Mine, mau tidak mau, terima atau tidak terima, kalian tetap harus menikah sebagai bentuk pertanggung jawaban.” Ucap Mario yang mulai melembutkan suaranya.
Sebagai pria yang telah mengahamili Brina, Aldo sudah sangat menyiapkan hatinya untuk hidup bersama dengan wanita itu sebagai bentuk pertanggung jawaban. Dia sudah tidak mempunyai alasan apa pun untuk menghindari pernikahaan ini.
Karena biar bagaimanapun buruknya sikap Brina, wanita iyu tetaplah ibu dari anak – anaknya.
To Be Continue.
Hey teman - teman, jangan lupa ya, untuk Like, Komen, Vote dan jika berkenan memberikan Hadiahnya untuk Mimin. Agar mimin lebih semangat lagi updatenya, biar gak malas - malasan lagi.
Terima kasih 🙏🏻