
❤️ Happy Reading Bestie ❤️
Seperti yang mereka bilang tadi, kini Aldo dan Brina sudah terlihat kembali pulang ke rumah. Karena Aldo tidak ingin berlama - lama di rumah sakit.
Di rumah, Aldo dan Brina sudah di sambut dengan baik oleh Mario dan juga Eden. Mario yang baru pulang dari Thailand, itu, tadi di beri tahu oleh Eden, tetang apa yang sudah terjadi pada Aldo, dan juga tak lupa dirinya sudah menegur Erlan, agar tidak berbuat seperti itu lagi.
Mereka berdua terlihat duduk di sofa ruang keluarga, untuk membicarakan tentang semua masalah yang ada.
“Brina, Daddy sudah mendengar semuanya dari Mommy kamu.” Ucap Mario yang paham dengan kata - kata istrinya, menceritakan semua tentang kejadian kemarin.
Di tambah lagi, Mario mendapatkan laporan dari anak buahnya tentang masalah Brina memberikan pelajaran pada Marina.
“Daddy tidak menyalahkan tentang semua ini, atas semua yang terjadi, antara kamu dan juga suami kamu.” Ucap Mario, memberitahukan pada anak dan juga menantunya.
“Tapi, kalian berdua sudah sama - sama dewasa, kalian tahu, bahwa sebuah rumah tangga ini sangatlah tidak bermain - main!” Tekan Mario lagi. Dan Brina hanya mampu menganggukan kepalanya pelan, ketika Daddynya sudah berbicara seperti itu.
Mario menatap sejenak ke arah Aldo, “seperti yang kamu minta pada Daddy kemarin, apakah kamu siap menerima konsekuensinya?” Tanya Mario, yang sepertinya sudah mendapatkan hasil dari pencarian Aldo selama ini.
Aldo terdiam, dia bahkan belum menyiapkan dirinya untuk masalah itu.
“Daddy akan beritahu apa yang Daddy tahu, nanti!” Ucap Mario lagi, lebih memilih diam terlebih dahulu.
“Tapi kenapa Dad?” Tanya Aldo bingung. Pasalnya dia sudah mencari pelaku pembunuhan orang tuanya itu selama berpuluh - puluh tahun ini. Lalu sekarang, ketika mertuanya sudah mengetahuinya, dia malah memilih untuk kembali menyembunyikannya.
“Daddy belum mau memberitahukannya kepadamu, karena Daddy masih butuh bukti yang kuat, agar bisa meyakinkan Daddy bahwa benar dialah orang yang menyebabkan semua ini.” Jelas Mario, yang akhirnya membuat Aldo kembali pasrah, untuk menahan rasa penasaraan untuk mengetahui identitas pelakunya.
“Tapi -“ ucap Mario lagi.
“Daddy dan Mommy, mau mengirim kamu dan Brina ke Singapore, untuk mengurus perusahaan Daddy di sana!” Tegas Mario, tidak ingin di bantah sama sekali.
“Kamu, dan Brina, akan tinggal di rumah Kakak kamu Brio dulu,” timpal Mario lagi.
Brina tersenyum sinis mendengar hal itu. “Tapi kenapa Dad? Kenapa kita harus ke Singapore? Brina tidak menyukai Negara kecil itu Dad.” Brina mulai memprotes keputusaan Daddynya. Dia tidak suka apa lagi harus tinggal di rumah Brio.
Mungkin dia memang tidak pernah ke rumah kakaknya itu, tapi yang dia tahu, rumah Brio itu sangatlah kecil. Hanya ada 3 kamar, ruang tamu yang bercampur ruang makan, dapur yang kecil dan juga balcony.
“Kamu harus belajar hidup bersama dengan keluarga kecilmu Brina!” Kini suara Eden yang terdengar, agar putrinya itu bisa mengerti, bahwa Daddynya tidak akan pernah salah dalam mengambil keputusan.
Brina menggelengkan kepalanya pelan. “Tinggal di rumah sekecil itu? Rasanya aku tidak bisa bernafas Dad, Mom.” Tolak Brina, membuat Mario dan Eden semakin bersih keras untuk mengirim Brina, Aldo dan Hanna belajar hidup sulit di negara itu.
“Besok pagi kalian berangkat!” Ucap Mario, tidak ingin di bantah lagi.
“What?” Brina menatap Daddy dan Mommynya secara bergantian.
“You can’t do this with me! Dad, aku bahkan belum memberikan keputusan apa - apa.” Ketusnya, merasa sangat kecewa dengan apa yang sedang dipertimbangkan oleh orang tuanya.
“Brina, sayang, kamu sabar dulu -“
“Diam!” Brina menghentikan kalimat Aldo, karena dia tidak ingin mendengar siapapun untuk berkomentar saat ini.
“Dad,” mohonya pada Mario, agar tidak mengirimnya ke Singapore.
“Oke, kalaupun aku ke Singapore, aku mau tinggal di Rumah Daddy, bukan rumahnya Brio Dad.” Tawarnya lagi, namun sepertinya Mario dan Eden, sama sekali tidak akan tergoyang dengan keputusaanya.
“Brina, Mommy dan Daddy sudah cukup memanjakan kamu selama ini! Tidak hanya kamu, semua anak Daddy, pasti Daddy lakukkan seperti ini!”
Siapa yang bisa melupakannya, Briell yang hanya bekerja sebagai seorang dokter, serta mempunyai usaha restoran kecil - kecilan di Indonesia, membuatnya di jebak oleh seseorang yang berpikir bahwa dia hanyalah seorang pelayan restoran. Dia di nikahi oleh seorang pria, yang di dalam keluarga pria itu hanya memandang harta dan juga tahta.
Sedangkan Brio? Ketika semua fasilitasnya di tarik, dia harus menjual mobilnya dan juga kepintaraanya agar bisa membangun sebuah kehidupan yang layak. Berdomisili di Singapore, dengan gaji yang hanya mendapatkan $10.000 setiap bulannya, membuat Brio dan Vita belajar bagaimana sulitnya mencari uang.
Dan kini, sudah waktunya giliran Brina, agar anak bungsunya itu bisa mengerti, bahwa tidak semua yang ada di dunia ini di ukur dengan uang.
Mario serta Eden juga berpikir, mungkin saja setelah ini, Brina dan Aldo akan bisa merasakan cinta yang sesungguhnya. Hingga kalimat cerai itu akan jauh dari pernikahan mereka.
Mendengar kata - kata dari Daddnya, tentu saja, Brina hanya bisa diam, sembari mengusap wajahnya kasar. Tidak pernah dia bayangkan sebelumnya, bagaimana dia menikah dan mengurus keluarga.
“Oke, aku akan pindah ke Singapore, tapi aku harus membawa 10 pelayan.” Tawar Brina lagi, namun kembali Mario menggelengkan kepalanya pelan.
“Tidak, kamu hanya boleh membawa satu, yaitu susternya Hanna, selain itu tidak ada pelayan! Kamu harus melayani suamimu sendiri!” Tekan Mario.
Dia tahu, mungkin di awal hal ini akan sulit untuk putrinya. Tetapi di usia Brina, ini sudahlah saatnya bagi anak itu tahu, bagaimana mengatur keuangan serta pekerjaan rumah tangga. Setidaknya dia harus bisa masak untuk suaminya.
“Dad, you know I can’t do this, with out maids,” protes Brina lagi.
“Daddy Belive, you can do it!” Balas Mario, dengan senyum yang merona di wajahnya, begitupun dengan Eden.
Dia sudah lama merasa bahwa ini saatnya Brina diberikan pelajar untuk memahami makna kehidupan yang sederhana.
Sedangkan Aldo, sejak tadi lebih memilih diam, karena dia merasa tidak enak ikut campur dalam urusan kelurga Brina.
“Aldo, sejak tadi kamu diam? Apakah kamu tidak masalah dengan keputusaan Daddy ini?” Tanya Mario dengan lembut pada Aldo.
Sontak saja, ke dua mara Brina, ikut menyorot pada Aldo, menanti jawaban dari suaminya itu.
“Ehmm, saya ikut Brina saja Dad.” Jawab Aldo, memilih jawaban yang mengamankan dirinya.
“Tetapi, kalau saya pindah, saya berarti harus membawa -“
“Code.” Seru Mario, sudah tahu siapa yang akan di bawa oleh Menantunya itu.
“Tidak perlu lah, biarkan Code mengurus perushaanmu di sini, sekarang tugasmu hanya perlu menjadi suami dan ayah yang baik, untuk Brina, Hanna dan juga calon anak kalian nanti. Mengerti?!” Tutur Mario pada Aldo.
Tentu saja, apa lagi yang bisa Aldo katakan selain Iya, kalau istrinya yang kepala batu saja bisa terdiam tanpa memberikan jawaban sama sekali, maka begitu juga dengan dirinya, yang harus mengikuti apa yang diinginkan oleh mertuanya.
To Be Continue. *
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎
*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻