
❤️ Happy Reading Bestie ❤️
Setelah kejadian semalam, kini Aldo dan Brina terlihat baik kembali. Meskipun Brina masih dengan sikapnya yang dingin. Tapi Aldo sudah berjanji, bahwa dia akan membuat istrinya itu bisa mencairkan sikap dinginnya, dan menerimanya seutuhnya.
“Aku sudah menyuruh Code untuk mengantar Marina kembali ke apartemennya, dan juga mengatakan padanya kalau ada masalah lagi suruh lapor polisi saja, bukan kepadaku.” Jelas Aldo pada Brina yang terlihat sedang melihat penampilannya di depan kaca.
Brina menganggukan kepalanya pelan, namun Aldo langsung memeluknya dari belakang. “Mau kemana pagi ini? Kenapa kamu sudah terlihat sangat rapi?” Tanya Aldo, menatap bayangan istrinya dari kaca.
“Aku ada rapat pagi ini, Daddy sedang tidak ada di London, jadi aku yang bertugas mengantikannya.” Jawab Brina, menjelaskan tugasnya kepada Aldo.
Tidak tahan dengan kondisi seperti itu, Brina melepaskan tangan Aldo yang sedang melingkar di perutnya. “Aku mau pergi sekarang,” pamitnya pada Aldo.
“Secepat ini? Bahkan kamu belum sarapan dan ini juga belum jam 8 pagi.” Protes Aldo, karena Brina yang pergi sepagi ini, dan tidak mengatakan apapun kepadanya dari semalam, kalau dia harus pergi sepagi ini.
“Iya, maafkan aku, memang aku baru ingat subuh ini, tadi ada remainder di ponsel.” Balas Brina, meminta pengertian Aldo untuk tugasnya ini.
“kamu bisa tolong antar Hanna ke sekolah yah, jam 8 lewat 15, kamu bisa turun ke bawah untuk bangunkan Hanna. Oke.” Timpalnya lagi, menitip pesan pada suaminya untuk bisa mengurus anak mereka terlebih dahulu.
Aldo menganggukan kepalanya dengan lesuh, “baiklah, jam berapa kamu akan pulang?” Tanya Aldo pada Brina.
Brina diam lalu melihat jam tangan yang melingkar di pergelangannyaZ “Mungkin jam 3 atau jam 4 sore,” jawab Brina, dengan senyum tipisnya.
Cuuppp, Brina mengecup pipi Aldo singkat. “Aku pergi ya, titip Hanna, Bye.” Pamitnya lagi, sembari melangkahkan kakinya keluar dari kamar, dengan Aldo yang menatap langkahnya.
“Apakah nanti aku bisa menahannya untuk tidak bekerja lagi?” Tanya Aldo pada dirinya sendiri, mengingat bahwa Brina juga salah satu pewaris tahta Amo’s group.
Aldo sendiri tidak tahu jawabannya, dia hanya bisa berharap, jika suatu saat nanti, Brina akan benar - benar menjadi miliknya, dan tidak lagi menjadi milik orang tuanya.
Sembari menunggu waktu yang baru menunjukkan jam 8 pagi, Aldo terlihat juga sedang bersiapa untuk pergi ke kantor. Namun sebelum itu, dia harus membangunkan putrinya untuk berangkat ke sekolah.
“Masih 15 menit lagi,” gumamnya, lalu melihat ponselnya, untuk melihat apa saja schedulenya hari ini.
Aldo menghelas nafasnya, di awal pagi saja dia sudah memiliki banyak jadwal, padahal rencananya dia ingin mengajak Brina untuk makan siang bersama.
“Nanti aku akan mengatur saja, mungkin bisa kalau aku keluar dua atau tiga jam saja.” Ucapnya lagi, lalu bangkit dari duduknya lalu memasukan ponselnya ke dalam saku jasnya.
“Sebaiknya aku membangunkan Hanna terlebih dahulu, lalu aku akan memulai pekerjaanku dengan cepat, agar selesainya juga akan lebih cepat.” Ucap Aldo, lalu melangkahkan kakinya untuk ke kamar putrinya. Karena seperti biasa, susternya Hanna tidak akan pernah bisa masuk ke kamar Hanna, kalau tidak salah satu anggota keluarga yang membukakannya.
Tetapi pada saat dia turun, terlihat Hanna yang sudah lebih dulu duduk di meja makan. “Loh Hanna kok sudah di bawah?” Tanya Aldo, ketika melihat putrinya duduk di meja makan, dari lantai 2 kamar Hanna.
“Tadi Nyonya besar yang membangunkan Nona Hanna, Tuan.” Jelas pelayan yang sedang membersihkan kamar putrinya.
Aldo menganggukan kepalanya pelan. Lalu dia ikut menyusul ke bawah, untuk mendapatkan Breakfast bareng putrinya.
“Selamat pagi sayang.” Sapa Aldo, ketika dirinya sudah sampai di bawah.
“Good morning Daddy.” Sahut Hanna, yang kini sedang fokus dengan mainan barunya.
“Wihhh, mainan baru,” seru Aldo, dengan senyum manisnya diperlihatkan pada putrinya.
“Iya Dad, Tadi di saat Hanna banget, aku melihat mainan ini di sampingku. Dan tulisannya dari Mommy,” jelas Hanna pada Daddynya.
Entah mengapa, semenjak pertengkarannya semalam bersama dengan Brina, dan nyaris kehilangan istrinya itu. Aldo rasanya tidak ingin melewatkan setiap momen kebersamaannya bersama dengan Hanna dan istrinya.
Dia ingin selalu mendengar ke dua suara wanitanya, agar dia bisa tahu, bahwa Hanna dan Brina masih bersama dengannya.
“Tadi Hanna membaca pesan dari Mommy, katanya Mommy memberikan ini kepada Hanna, untuk sebagai permintaan maaf Mommy, karena tidak bisa mengantar Hanna ke sekolah pagi ini Dad.” Jawab Hanna, lagi - lagi membuat Aldo tersenyum mendengarnya.
“Tuhan, betapa indahnya moment - moment ini, jangan biarkan semua ini hilang ya Tuhan, aku ingin bersama dengan anak dan istriku selamanya.” Batin Aldo mengucapkan pengharapannya pada Tuhan.
Memikirkan kata - kata Brina semalam dan juga sikap dingin Brina kemarin. Bukan tidak mungkin jika dia sekali lagi salah bertindak dia akan kehilangan semuanya.
“Daddy.” Panggil Hanna pada Aldo.
“Yes Sweety,” sahut Aldo, sembari mengusap lembut puncak kepala putrinya.
“Ayo kita berangkat Dad,” ajak Hanna, ketika dia sudah siap dengan makan siangnya.
Aldo mengangguk kepalanya lalu tersenyum. “Baiklah Tuan putri Daddy, kita berangkat sekarang.” Ucapnya, lalu menggendong Hanna.
“Uhuh, putri Daddy sudah besar,” pujinya, dengan senang hati melihat wajah ceria Hanna.
“Iyalah Dad, Hanna sudah besar, Hanna sudah lima tahun Dad, sebentar lagi Hanna akan Birthday Dad.” Ujarnya pada Aldo.
“Oh ya? Memangnya -“ kalimat Aldo terputus, karena dia tidak mau mengecewakan putrinya dengan bertanya kapan putrinya itu akan berulang tahun.
“Memangnya apa Dad?” Tanya Hanna, penasaraan dengan kalimat Daddynya yang tak berkelanjutan.
“Memangnya Hanna mau Daddy hadianin apa sayang?” Aldo menganti topiknya, agar Hanna bisa memberitahukan apa yang sebenarnya sangat di sukainya.
Hanna terlihat diam untuk sejenak, sembari berpikir hadiah apa yang ingin diminta dari Daddynya.
“Apa ya Dad, mungkin Hanna ingin mainan baru.” Ucapnya, meminta pada Aldo.
“Baiklah sayang, Daddy akan memberikan sebuah mainan baru yang terbaik se dunia untuk putri Daddy yang cantik ini.” Balas Aldo, menjanjikan kepada putrinya untuk Kado yang terbaiknya.
“Yeyy, terima kasih Daddy, Hanna begitu mencintaimu.” Seru Hanna, dan tak lupa dia memberikan kecupan singkat di pipi Aldo sebagai tanda terima kasihnya.
Lagi - lagi, Aldo merasa bahwa inilah yang dinamakan sebuah kebahagian sejati. Tidak perlu harta, tidak perlu sebuah tahta, tetapi kebahagian sejati itu datangnya dari sebuah keluarga yang bahagia. Aldo berharap, Brina juga bisa merasakan apa yang dia rasakan saat ini, dan mau berjuang untuk keluarga kecil mereka.
Agar anak - anaknya tidak seperti dirinya yang tumbuh tanpa kasih sayang dari orang tuanya.
Mungkin memang Hanna masih memiliki Mommy dan juga Ke dua orang tua Brina, tetapi tidak akan pernah lengkap jika Mommy dan Daddy tidak bersatu visi dan misi.
To Be Continue.
Hey teman - teman, jangan lupa ya, untuk Like, Komen, Vote dan jika berkenan memberikan Hadiahnya untuk Mimin. Agar mimin lebih semangat lagi updatenya, biar gakmalas - malasan lagi.
Terima kasih 🙏🏻