
🌹 Happy Reading Bestie 🌹
Di saat keluarga besar Jonathan tengah membahas hal besar, terlihat sesosok pria yang datang dengan auranya yang begitu dingin.
“Griffin,” ujar Mario pelan, melihat kedatangan cucunya itu.
Tadi siang, sewaktu Mario tidak bisa mendapatkan informasi apa pun, dia akhirnya meminta Griffin untuk menolong mencari informasi tentang semua masa lalu dari Tantenya Brina dan juga posisi Hanna saat ini.
Jangan tanyakan kenapa harus Griffin, karena Mario sudah meminta kepada putranya Brio, tetapi anak kurang ajar itu malah berpura – pura sakit hingga tidak bisa membantunya sama sekali.
Griffin yang merasa susana benar – benar sangat tidak baik, kini memilih duduk di sebuah sofa single, dan meletakan sebuah berkas di atas meja.
“Griffin apakah kamu sudah mendapatkan semua infromasinya?” tanya Mario langsung to the point.
“Fin, bantulah Auntymu untuk mendapatkan Hanna Fin,” Eden memohon kepada cucunya itu, namun yang di tanya hanya diam saja, dan bahkan terlihat menggaruk kepalanya bingung.
“Aku tidak bisa membantu kali ini,” tegas Griffin tanpa ingin bertele – tele.
Ke dua bola mata Mario terlihat membesar mendengar perkataan dari cucunya ini, “Griffin!! Hanna adalah sepupu kamu,” ucap Mario penuh penekanan.
“Aldo Athala Dahlan adalah Aberline Phantominve, seorang anak dari kerajaan Phantominve yang merupakan budak dari Ratu Inggris,” jelas Griffin dengan menatap wajah Auntynya Brina.
Dia bahkan sampai harus menghela nafasnya kasar, mengingat kebodohan dari adik mamahnya ini.
“Kakek tahu keluarga itu adalah keluarga bangsawan yang sangat berpengaruh pada pemerintahan inggris bahkan pada negara lain, dan bahkan dia mampu mensejajarkan perusahaannya dengan milik Arvan, tetapi tidak mau untuk masuk ke daftar dunia,” sahut Mario yang lebih menerangkan secara terperinci tentang siapa keluarga Phantominve ini.
Sedangkan Brina yang sejak tadi terduduk di samping Mommynya, kini hanya mampu menggigit jarinya, dengan pandangan kosong ke depan.
“Dan Aberline ini adalah Ayah kandung dari Hanna, sosok yang menculik gadis kecil itu,” ungkap Griffin lagi.
Sontak saja, tatapan Mario kini berubah lebih tajam ke arah putrinya, “Brina?” lirih Eden pelan, mengerti arti dari tatapan suaminya.
“Hisskkkk,,,,hissskkkk,huawaaaa, Daddy, Brina tidak tahu Dad, Brina –“ isaknya terdengar begitu pilu. Dia sangat tidak mengerti keadaan ini.
Bagaimana bisa, dalam sehari dunianya benar – benar hancur tak tersisa. Rahasia yang sudah begitu lama dia pendam, kini terbongkar di dalam waktu yang sangat tidak tepat.
Mario bahkan sampai harus memijat keningnya pusing, dengan kejadian hari ini, seharian mereka merasa marah dan khawatir dengan keadaan putri dan cucunya, bahkan untuk makan saja mereka sudah melupakannya.
Griffin sengaja tidak memberitahu keluarga ini jika pamannya Brio ikut terlibat dalam kasus ini. Dia merasa kasihan dengan adik dari mamahnya itu.
Griffin terlihat bangkit dari duduknya, dan melangkah meninggalkan ruang keluarga untuk masuk ke dalam kamar Mamahnya Briell yang sekarang menjadi kemarnya.
“Griffin, Nenek akan menyediakan –“
“Tidak perlu,” tolaknya mentah – mentah.
“Masalah ini sebenarnya sudah terpecahkan jika Aunty menikah dengan Ayah Hanna,” sambungnya lagi, lalu pergi Meninggalkan mereka yang masih pusing di ruang tamu.
Mario menghela nafasnya dalam, memang benar yang dikatakan oleh Griffin, Aldo atau Aberline itu, pasti tidak akan melukai putrinya sendiri, ini hanya tentang masa lalu dari Brina.
“Daddy butuh kamu menceritakan dengan jelas, bagaimana kamu bisa berhubungan dengan Aldo ini?” tanya Mario, yang kini suaranya mulai merendah.
Sebenarnya keluarga itu bukanlah tandingan untuknya, tetapi, Mario menghargai mereka karena gelar bangsawan yang keluarga Phantominve miliki. Dan keterlibatan putrinya dengan pria itu? Dia ingin mengetahui semuanya.
Eden yang melihat situasi sudah mulai tenang, kini memilih pindah dan menggenggam tangan suaminya, “Jangan tanyakan tentang itu sekarang, kita harus memikirkan mental putri kita juga,” Eden mengucapkan kalimat dengan penuh penekanan.
Sebagai seseorang yang masa lalunya juga menyembunyikan keberadaan anaknya dari ayah kandungnya, Eden paham pasti putrinya itu memiliki alasan untuk melakukannya.
Brina yang saat ini sudah seperti cangkang kosong, terlihat bangkit dan segera berlari masuk ke dalam kamarnya.
Mario yang mengejar putrinya, langsung ditahan oleh Eden, “Kasih dia waktu,” pinta Eden lagi, dan kali ini mampu membuat Mario harus menutup wajahnya dalam.
“Maafkan aku,” lirihnya pelan, sambil menatap tulus kepada Eden.
“Tidak ada yang perlu dimaafkan,” balas Eden, dengan memalingkan wajahnya enggan menatap wajah suaminya.
Impian untuk membuat kehidupan masa depan anak – anaknya menjadi baik, semua hancur tak tersisa.
Setiap masalah yang menimpa anak – anak mereka, seperti menjadi sebuah cermin dari perbuatan mereka di masa lalu.
**To Be Continue.
Hey Teman - Teman, cuman mau ingatin, untuk Like, Komen, Vote dan Hadiah untuk Karya mimin ini ya. agar mimin terus semangat updatenya.
Dan jangan lupa untuk mampir ke karya Mimin yang lainnya ya.
Terima Kasih 🙏🏻😘**