The Mejesty It’S Husband

The Mejesty It’S Husband
Perang antara Perasaan



🌹 Happy Reading Bestie 😘


Sejak mengetahui putri bungsunya hamil untuk ke dua kali, sikap Mario perlahan mulai berubah menjadi dingin seperti sedia kala.


Pria paruh baya itu, terlihat lebih banyak diam dibandingkan harus membuka suarnya untuk hal – hal yang tidak penting.


“Aku ingin kamu memberitahu Alson, Aiden, Brio dan Aldo serta Griffin untuk menemuiku setelah pesta ini selesai. Mumpung keluarga kita sedang berkumpul, aku ingin memanfaatkan momen ini, untuk mengatakan keinginan yang seharusnya aku ungkapkan sejak dulu.” Pintanya pada Eden, yang masih duduk di sebelahnya.


“Sayang, mungkin aku bisa memanggil yang lainnya, tetapi aku tidak berani jika harus memanggil Griffin, aku takut.” Lirih Eden pelan.


Bukan karena tanpa Alasan dia takut dengan cucunya sendiri, Eden takut pada Griffin karena akhir – akhir ini, cucunya itu, lebih sering mengeluarkan aura kegelapan dari dirinya yang terihat sangat menyeramkan.


Mario menganggukan kepalanya pelan, dia memahami ketakutan istrinya. “Baiklah, untuk Griffin biar aku saja yang memanggilnya.” Seru Mario, yang sontak membuat perasaan Eden menjadi sedikit legah.


Sebenarnya Eden ingin sekali bertanya, apa niat suaminya mengempulkan semua orang seperti ini, terlebih lagi, ketika dirinya menatap wajah Mario, sepertinya tersirat beban yang cukup berat yang ditampilkan ke dua bola mata itu.


Tapi hal itu, langsung dia urungkan, karena tahu, bahwa suasana hati suaminya sedang tidak baik saat ini.


***


Sedangkan di lain sisi, Aldo dan Brina yang baru saja berada di dalam kamar yang memang disediakan untuk mereka, kini saling memandang penuh arti.


Brina yang sedang menatap Aldo dengan tatapan intimidasi, sedangkan Aldo terlihat menampilkan tatapan biasa saja.


Lelah, terlibat dalam aksi saling diam, kini Brina memilih untuk beranjak, mendekat ke arah meja kecil yang berada di sana.


“Entah kenapa, semua orang tari di pesta, mengira bahwa kita adalah pasangan yang saling mencintai.” Ucap Brina pelan, sembari menuangkan tea ke dalam cangkir kecil untuk Aldo.


Meskipun sudah lama berpisah, Brina masih begitu ingat jika Aldo sangat menyukai Tea buatannya.


Dengan perasaan tenang, Aldo menerima Tea yang diberikan olej Brina itu. Tanpa ada rasa khawatir jika wanita itu akan memasukkan racun ke dalam minumannya.


“Hal seperti itu, bukankah sudah sangat wajar? Kita menikah, sudah pasti banyak orang yang akan berpikir seperti itu, lebih baik abaikan saja,” sahut Aldo dengan tenang, dia malah sengaja memejamkan matanya, sembari menghirup aroma wangi Tea yang sudah lima tahun ini tidak dia rasakan.


“Apakah kamu yakin, kita harus mengabaikannya begitu saja?” Tanya Brina, memancing Aldo untuk mengatakan hal yang dia inginkan.


“Aku dan Gabrina saling mencintai? Dasar orang – orang bodoh, yang membicarakan hubungan cinta yang sangat konyol dan mengira yang bukan – bukan seperti ini.” Gumamnya dalam hari, namun masih dengan sikapnya yang begitu tenang.


“Tapi tunggu dulu!”


“Jika Brina memaksa aku untuk mencintainya, mungkin aku bisa saja mempertimbangkan perasaanya itu,” pikir Aldo masih di dalam hati.


“Aku begitu yakin, jika wanita sombong ini pasti sangat mencintaiku, tinggal masalah waktu saja. Cepat ata lambat, Brina pasti akan membuka topeng yang membuatnya menjadi eanita sempurna, lalu memohon – mohon kepadaku untuk menerima cintanya.” Aldo tersenyum tipis, dengan apa yang sedang ada di dalam pikirannya, dia bahkan terlihat menganggukan kepalanya pelan seperti yakin dengan pikirannya itu.


Brina yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik dari Aldo, seakan tahu apa yang sedang dipikirkan oleh pria yang baru saja menjadi suaminya itu. “Astaga pria bodoh ini, kamu pikir siapa aku ini?” Ucap Brina dalam hati.


“Aku adalah putri dari keluarga Jonathan, yang merupakan pengusaha terkaya nomor tiga dunia, dan juga termasuk jantung negara ini. Lancang sekali dia berpikir jika aku akan tunduk kepadanya.”


“Tetapi, mungkin saja aku akan mempertimbangkan untuk menerima cintanya, apa lagi jika dia bersujud dan memberikan jiwa raganya itu kepadaku, maka mungkin saja aku mau melatihnya untuk menjadi pria yang cocok denganku, meskipun aku tahu, tidak ada satupun pria yang covok denganku di dunia ini.”


Selama mereka tengah berhalusinasi memikirkan perasaan mereka masing – masing.


Terdengar suara ketukan pintu yang sontak menyadarkan mereka berdua dari lamunan imajinasi gila mereka masing – masing.


“Sial! Ada apa denganku? Bukannya memarahinya, kenapa aku malah sibuk dengan pikiran hatiku sendiri.” Batin Brina, yang merasa kesa sendiri dengan dirinya yang tidak jadi memarahi Aldo, seperti niatnya tadi.


Terdengar suara ketukan berulang kali, membuat Brina langsung berdiri untuk melihat siapa yang berani menganggunya.


“Ada apa?” Tanya Brina, ketika baru saja membuka pintu kamarnya, dan melihat sosok Bili yang merupakan asisten pribadi Daddynya dari bertahun – tahun lamanya.


“Tuan Mario, meminta Nona Brina dan juga Tuan Muda Aldo ikut berkumpul dengan keluarga yang lain, untuk membahas hal penting di sana.” Pinta Bili pada Brina.


“Oke, aku akan pergi.” Balas Brina, dan langsung menutup pintu kamar itu, tanpa mendengarkan pria paruh baya itu lebih lanjut.


To Be Continue.


Hey teman - teman, jangan lupa ya, untuk Like, Komen, Vote dan jika berkenan memberikan Hadiahnya untuk Mimin. Agar mimin lebih semangat lagi updatenya, biar gak malas - malasan lagi.


Terima kasih 🙏🏻