
🌹 Happy Reading Bestie 😘
Hari ini, sesuai jadwal, Aldo, Code dan pelayan yang lain, akhirnya berkesempatan membawa Hanna pergi piknik di pinggir sebuah danau buatan yang begitu indah.
Aldo yang memang tidak pernah mengerti apa yang diinginkan putrinya, kini hanya diam saja dan memperhatikan gadis kecil itu dari jauh.
“Daddy, apakah Daddy dan Mommy bercerai?” Tanya Hanna dengan tiba – tiba, membuat Aldo sejenak menyeritkan keningnya bingung.
“Hem, Nona kec –“ suara Code terputus karena Hanna langsung menatapnya dengan wajah cemberut.
“Aku mau Daddy yang bicara, Code, Daddy tidak bisu kan. Kenapa sejak tadi hanya diam saja? Tidak seperti Uncle Erlan yang selalu menemaniku berbicara.” Cloteh Hanna, dengan menunjukkan rasa kesalnya.
Code tersenyum, mendengar anak dari Tuannya itu, begitu cerewet dan pandai sekali berbicara “Bisakah Anda menjawabnya Tuan?” Code, meminta Tuan mudanya itu, agar mau berbicara dengan putrinya. Karena sejak tadi, dirinya sama sekali tidak menanyakan apa pun kepada Hanna.
Sejenak Aldo masih terdiam dengan menatap Hanna dengan lekat, lalu di detik selanjutnya, dia memilih untuk memejamkan matanya guna memperbaiki perasaan kaget tadi.
“Apa yang sedang coba kamu katakan itu Hanna?” Tanya Aldo, yang berbalik memberikan pertanyaan pada putrinya.
Hanna kesal, karena Aldo yang tidak menjawabnya, malah mengganti pertanyaan yang dia ajukan. “Daddy.” Bentaknya, dengan berkacak pinggang di depan Daddynya.
“Semua teman aku mengatakan, jika Mommy dan Daddy tidak tinggal satu rumah, untuk berarti, Daddy dan mommy, sudah bercerai. Apakah itu benar?” Tanyanya dengan penuh tekanan.
Code yang melihat sifat yang dimiliki oleh Hanna ini, hanya bisa menggelengkan kepalanya, karena merasa bahwa cara yang diajarkan kepada Hanna itu semua salah, etitudenya sangat kurang sekali, sehingga dia berani berteriak di depan orang yang lebih dewasa
“Hanna, ada hal yang boleh kamu tahu dan tidak tahu, jadi lebih baik, kamu bermain dan berfikir selayaknya umurmu, dan jangan berfikir tentang masalah orang dewasa.” Tegas Aldo, dan lalu pergi begitu saja meninggalkan Hanna dan yang lainnya.
Hanna menatap kepada Daddynya kesal, sebelum ini belum pernah ada yang berbicara keras seperti kepadanya.
Sedangkan Code yang melihat Tuannya seperti tidak nyaman dengan pertanyaan dari Hanna, kini hanya bisa tertawa dengan terpaksa. Karena setelah ini, pasti dirinya harus berusaha membalikkan mood Dari Aldo dan juga Hanna.
***
Di dalam ruanganya, Aldo merasa sangat buruk sekali. Sebenarnya dia tidak suka berada di situasi seperti ini. Tetapi mau bagaimana juga, Hanna adalah putrinya, darah dagingnya, dan dia harus bisa menumbuhkan rasa kasih sayang itu, meskipun semuanya membutuhkan waktu.
Selama ini hidupnya memang kosong dan hambar, dia bahkan tidak pernah tahu arti dari bahagia itu apa. Setelah Tuhan mengambil ke dua orang tuanya secara paksa dengan insiden dulu.
Tokk,,tokkk,,tokkk,, suara ketukan pintu tedengar dari luar ruangnya. Aldo tahu bahwa itu adalah Code, dan dengan expresi datarnya Aldo menatap ke arah pintu.
“Tuan Muda, maaf menggangu, tetapi, Nona Hanna kini sedang menangis di dalam kamarnya, dan tidak ingin saya untuk berbicara kepadanya Tuan.” Lapor Code pada Aldo.
Bahu pria itu terlihat bergerak, menandakan bahwa dia baru saja menghela nafasnya berat. “Saya akan melihatnya Code, saya tahu bahwa kalimat yang tadi saya ucapkan itu sangatlah keterlaluan untuknya yang baru berusia kecil.” Ucap Aldo pada Code, yang dijawab dengan anggukan kepala oleh pelayan itu.
Dan detik selanjutnya, Aldo bergegas untuk melihat keadaan putrinya yang katanya sedang menangis.
Dan benar saja, sesampainya di kamar, Aldo melihat jika putrinya sedang menutupi eajahnya dengan boneka besar yang tadi sempat dia belikan. “Hanna.” Panggil Aldo dengan pelan.
Mendengar kalimat yang dikeluarkan oleh putrinya, Aldo sadar bahwa tadi dia sudah sangat melukai hati gadis kecil itu.
“Hanna, Daddy minta maaf, Daddy tidak bermaksud melukai hati Hanna, Daddy hanya ingin memberitahu bahwa apa yang dipertanyakan Hanna tadi itu salah. Just that.” Lirih Aldo selembut mungkin berbicara dengan putrinya.
“Tidak, Hanna tidak mau memaafkan Daddy, hisk,,hiskk,” tangis Hanna menolak permintaan maaf yang Aldo berikan.
Aldo kembali menghela nafasnya berat, dia hanya sedang berfikir, jika Hanna mengadukan hal ini kepada Brina. Mungkin bisa saja wanita itu akan memaki – makinya menggunakan kalimat kasar. Dia tidak takut, hanya dia begitu malas saja menghadapi ocehan gadis itu.
“Oke Hanna, bagaimana jika Daddy mengajak Hanna ke sebuah toko mainan dan Hanna boleh memilih mainan apa saja yang Hanna suka, tetapi sebagai gantinya, Hanna harus mau memaafkan Daddy, bagaimana?” Tawarnya pada gadis kecil itu.
Dan sepertinya, itu menjadi senjata paling mujarap karena berhasil membuat tangis Hanna meredah seketika.
“Benar Dad? Hanna boleh memilih apa pun yang Hanna mau?” Tanya Hanna lagi, dan dijawab dengan anggukan kepada oleh Aldo.
“Kalau begitu ayok kita pergi sekarang Dad.” Ajaknya pada Aldo
“Let’s go, sweety,” sahut Aldo, dengan merentangkan tanganya ingin menggendong tubuh mungil putrinya.
Tetapi, baru saja ingin mendekati Aldo, tiba – tiba tangis Hanna kembali pecah. “Huwaaaa,huwaaaa,hiskk,,hiskkk,” jeritnya seperti orang ketakutan.
“Ada apa sayang? Kenapa Hanna menangis lagi? This Nothing Happened girl.” Tegur Aldo, yang sepertinya mulai bingung.
“I need to wipe my tears Daddy, i need to wipe my tears.” Pintanya pada Aldo.
“Code, pinta Denna ambilkan tissue lalu, bersihkan wajah Hanna dengan lembut, lalu pinta juga dia untuk menggantikan pakaian untuknya, karena kita akan pergi keluar.” Pintanya pada Code. Dia sudah benar – benar pusing saat ini, dengan sikap Hanna yang masih harus dia pelajarin dan pahami.
“Baik, Tuan Muda, akan saya laksanakan.” Jawab Code dengan lugas.
Hanna sudah Siap keluar sama Hot Daddynya 😘
To Be Continue.
Hey Teman - Teman, jangan lupa ya, untuk, Like, Komen, Vote dan Hadiahnya untuk Karya Mimin ini. Agar mimin lebih semangat lagi untuk updatenya.
Dan Jangan lupa juga untuk mampir ke karya mimin yang lainnya ya.
Terima Kasih.