
❤️ Happy Reading Bestie ❤️
Setelah mengantar Hanna dan Brina untuk pergi ke kamar. Kini Aldo terlihat turun kembali untuk mencari Mertuanya yang katanya tadi ada di ruang kerjanya.
Tokkk,,tok, ketuk Aldo, mencoba untuk mengetuk sejenak, takut di dalam Mertuanya sedang mengerjakan sesuatu yang sangat rahasia, atau ada seseorang di dalam.
“Masuk,” Sahut Mario mempersilahkan Aldo untuk masuk ke dalam ruangannya.
“Dad,”
“Apakah Daddy sedang sibuk?” Tanyanya, karena perasaan takut menganggu.
Mario menoleh ke arah pintu, dan melihat Aldo yang masuk ke dalam ruanganya. “Tidak, ada apa Do?” Tanya Mario balik.
“Hemm, Dad aku ingin membicarakan sesuatu, apakah Daddy bersedia mendengarnya?” Tanya Aldo dengan ragu.
Mario yang masih fokus dengan layar laptopnya, kini terlihat melirih sejenak ke arah Aldo yang masih berdiri tidak jauh dari meja kerjanya.
“Tentu saja Daddy bersedia, sekarang Daddy juga adah orang tuamu Aldo,” jawab Mario, sembari beranjak berdiri dan mendekat ke arah menantunya itu.
“Duduklah, dan ceritakan apa yang sedang menganggumu sampai kamu ingin mengatakannya pada Daddy.” Mario mempersilahkan Aldo untuk duduk terlebih dahulu, barulah mereka bisa saling bertukar pikiran.
Dan mungkin saja Mario mempunyai saran untuk membantu Aldo lepas dari masalahnya.
“Katakanlah Aldo, Daddy mendengarkanmu, apakah ini masalah pekerjaan?” Timpal Mario lagi.
Aldo terlihat memejamkan matanya, merasa sangat tertekan saat ini. Tetapi sudah begitu lama dirinya sendiri masih belum mampu menyelesaikan tugasnya. Dan kini dia butuh seseorang agar bisa membantunya mencari dalang dari kematian orang tuanya ini.
“Dad, aku ingin bercerita tentang kisah masa laluku, apakah Daddy mau mendengarnya?” Tanya Aldo sekali lagi, ragu kalau Mario mau mendengar kisah masa lalunya.
Mario menganggukan kepalanya pelan, dengan senyum yang merekah di wajahnya.
“Ceritalah Aldo, Daddy akan mendengarkannya!” Pinta Mario lagi, dia tahu bahwa Aldo merasa jika dirinya tidak mau mendengar ceritanya sama sekali.
“15 tahun yang lalu, terjadi kebakaraan hebat di istanaku, pada saat itu Papah masih memimpin dan aku masih berusian 12 tahun.”
“Aku sedang berlatih pedang dengan salah satu pengawal Papah,”
“Aku melihat seseorang yang sedang berlari dengan tergesa dan mencurigakan, aku berusaha mengejarnya tetapi aku tidak bisa.”
“Dan ketika aku terlalu fokus dengan orang itu, tiba - tiba saja dari dalam semua orang berteriak karena ada sebuah api yang menyambar dengan begitu kuatnya dari dalam, di susul dengan suara ledakan seperti Bom yang membuat semua orang yang masih berada di dalam istana meninggal,”
“Masih teringat jelas diingatanku, bahwa ada seseorang yang menggedongnku keluar, agar bisa menjauh dari api yang terus menjalar.
“Tetapi, orang - orang itu tidak menolong orang tuaku, hingga ke dua orang tuaku meninggal di makan api bersama dengan staff kerajaan yang lainnya.” Aldo mengungkapkan semua kisah masa lalunya pada Mario, dari awal tragedi kematian orang tuanya, sampai dirinya bisa kembali bangkit seperti sekarang ini.
Mario mendengarkan semuanya secara saksama, mengambil inti dari cerita yang Aldo ceritakan itu.
“Dad, sudah lima belas tahun ini, hidupku merasa penuh dengan dendam Dad, aku ingin tahu siapa yang menyebabkan kebakaraan itu? Dan kenapa dia mau membunuh ke dua orang tuaku, apakah Daddy bisa membantu aku untuk memecahkan kasus aku ini Dad?” Tanya Aldo, dengan memohon pada Mario, agar mertuanya itu bersedia membantunya untuk mengungkapkan dalanga kematian orang tuanya.
“Benarkah Dad?” Tanyanya dengan atusias, seperti anak kecil yang mendapatkan janji akan dibelikan sepeda baru oleh Ayahnya jika mendapatkan nilai bagus.
“Tetapi semua ini tidak gratis, membuat Aldo menyeritkan keningnya bingung.
“Bayar berapa Dad? Apakah Daddy ingin mengambil semua hartaku?” Tanya Aldo begitu polosnya. Karena memang sejak tadi dia berpikir bahwa meminta bantuan dunia gelap itu pastilah sangat mahal.
“Hahahahah,” Mario tertawa ketika mendengar Aldo yang mengira bahwa dia akan mengambil seluruh Harta Milik Aldo.
“Aldo, untuk apa Daddy mengambil Hartamu? Kalau harta yang Daddy miliki juga tidak akan pernah habis 10 turunan.” Jelas Mario lagi, membuat Aldo merasa malu mengucapkan hal tadi.
“Maaf Dad,” balasnya lagi.
Mario kembali menatap Aldo dengan begitu lekat, ketika dirinya mendengar semua kisah masa lalu Aldo, jujur saja dia merasa kasihan padanya. Lima belas tahun hidup dengan semua rasa traumannya. Wajar saja dulu ketika bertemu dengan dirinya, Aldo bersikap seperti kurang etika dan bahkan selalu menjauh dari yang namanya keluarga.
“Aldo, ketika kamu masuk ke dalam keluarga besar Jonathan, berarti kamu juga adalah anak Daddy, mau kamu suami Brina atau siapapun, kalau kamu sudah masuk ke dalam keluarga ini, berarti itu semua tanggung jawab Daddy sebagai kepala keluarga untuk memberikan perlindungan untuk setiap anggota keluarganya.”
“Dan bayaran yang Daddy minta darimu adalah, Jadilah kepala keluarga yang baik untuk istri dan ke dua anak - anakmu, karena kalau kamu menyakati mereka, itu berarti kamu menyakiti juga kepala keluraganya yaitu Daddy.” Ungkap Mario pada Aldo.
Siapa saja yang mendengar kalimat itu, tentu saja merasa terharu, apa lagi Aldo yang notabennya adalah seorang anak yatim piatu. Ketika dia mendapatkan sebuah keluarga yang mau menerimanya dan menganggapnya sebagai anak, itu adalah sebuah hadiah yang indah dari Tuhan.
“Dad,” panggil Aldo dengan pelan.
“Bolehkah aku memelukmu?” Tanya Aldo, dengan sangat berhati - hati, dan bahkan dirinya sudah menyiapkan hatinya, jikalau Mario menolak pelukan darinya.
Mario berdecit kecil, memasang senyum sinisnya, sedangkan Aldo terdiam menunggu jawaban dari Mario.
“Peluk, ya tinggal peluklah,” seru Mario, yang lebih dulu mengambil alih untuk mendekap tubuh Aldo menantunya.
Tentu saja, Aldo yang mendapatkan pelukan secara tiba - tiba seperti itu, terkejut dan bahkan sampai terdiam sejenak, tidak tahu mau merepon seperti apa.
Ini kali pertama dia mendapakan lagi sebuah pelukan setelah 15 tahun lamannya dia kehilangan ke dua orang tuanya.
“Kalau ada - apa, perlu apa - apa langsung cerita saja, kita sekarang keluarga, mau peluk ya peluk, aku juga Daddymu sekarang, tidak perlu harus Izin.” Ujar Mario, yang membuat Aldo tanpa sadar meneteskan air matanya, bukan karena dia cengeng.
Tapi ini karena kebesaraan hati keluarga besar mertuanya yang menerimanya dengan tangan terbuka. Membuat dirinya yang sejak dulu berusaha mengeraskan hatinya, kini berubah menjadi lembut, hingga dirinya gampang tersentuh dengan sedikit kebaikan.
“Terima kasih Dad, Terima kasih.” Aldo akhirnya kembali sadar, dan membalas pelukaanya untuk Mario.
“Sama - sama,” balas Mario lagi.
To Be Continue.
Hey teman - teman, jangan lupa ya, untuk Like, Komen, Vote dan jika berkenan memberikan Hadiahnya untuk Mimin. Agar mimin lebih semangat lagi updatenya, biar gakmalas - malasan lagi.
Terima kasih 🙏🏻