
🌹 Happy Reading Bestie 🌹
Aldo yang sudah gelap mata, langsung menarik paksa Brina untuk masuk ke dalam kamarnya, Aldo sudah menyiapkan semuanya.
Dengan sedikit kekuatan dia membanting tubuh Brina ke atas tempat tidur, lalu merantai tangan gadis itu.
“Lepaskan aku!! Bastard,” teriak Brina meronta tidak ingin di rantai oleh Aldo.
“Apakah kamu masih ingin mengelak tentang Hanna?” tanya Aldo dengan nada yang begitu pelan. Dia mendekat ke arah Brina, untuk duduk di sebelah wanita itu.
“Aku akan membuatmu, kembali merasakan kenikmatan dulu, yang membuat kita sampai memiliki Hanna,” bisik Aldo, yang kini mulai mengelus paha mulus Brina.
“Sialan,” teriak Brina terputus karena Aldo langsung memasukkan obat kedalam mulutnya, lalu menuangkan air yang membuat Brina terpaksa harus menelannya.
“Gila kamu Aldo, sakit jiwa kamu!” ucap Brina lagi, dengan menatap pria itu dengan sorot kebencian.
Aldo tersenyum, lalu mulai menjalankan jarinya untuk mengitari dia benda kembar favorit miliknya yang ada di tubuh Brina, hingga wanita itu harus menahan sensasinya. Namun melihat ke dua bola mata Brin yang memacarkan pandangan nikmat, membuat Aldo tertawa melihatnya.
“Kamu milikku Brina,” batin Aldo yang merasa yakin, bahwa Brina akan menjadi miliknya kembali.
**
Di luar sana, terdapat seorang pria yang sedang berada di dalam mobil, Menatap apartemen milik Aldo dari seberang jalan.
“Tuan, jika Tuan besar Mario mengetahui ini semua, maka pasti –“
“Daddy tidak akan tahu rencana ini, karena aku sudah mengganti semua pengawal Bayangan Brina dengan orang – orangku,” tegas sosok itu, yang merupakan otak dari semua rencana Aldo itu.
“Aah iya, sebaiknya setelah ini aku akan meminta traktiran Caremel latte dari adikku yang bodoh itu,” gumam sosok itu lagi, yang membuat asistennya di depan merasa ngeri, ketika melihat seorang kakak yang malah menjerumuskan adiknya ke dalam situasi sulit.
“Ayo kita pulang, aku tidak mau Vita dan Daddy tahu bahwa aku berada di London saat ini!” perintahnya lagi.
“Selamat bersenang – senang, Brina,” ucap sosok itu lagi, bersamaan dengan hilangnya apartemen itu dari pandanganya.
****
“Aldo, jika kamu ketahuan Daddyku, dia bisa –“
“Bagus dong, kalau ketahuan, aku akan memgatakan semua kejujuran tentang hubungan kita di masa lalu,” bisiknya dengan suara berat yang mampu membuat tubuh Brina meremang seketika.
“Aku meminumkanmu obat perangsang tadi, sebanyak tiga butir, dan kamu harus tahu, bahwa obat itu adalah obat yang mempunyai efek paling tinggi,” jelas Aldo sambil bangkit untuk melepaskan seluruh kain yang melekat di tubuhnya.
“Berarti hari ini, kita akan bersenang – senang, sayang,” sambungnya lagi, namun, Brina memilih untuk mengalihkan pandanganya ke arah lain.
“Biar aku tebak, kamu pasti setelah berhubungan dengan aku dulu, tidak pernah lagi merasakan nikmatny pedang milik orang lainkan,” seru Aldo tanpa malu – malu.
“Sakit jiwa kamu Aldo!” tegas Brina lagi, berusaha menolak gejolak yang kini mulai bangkit menganggunya.
“Juniorku ini masih bersih Brin. Kau tenang saja, aku tidak pernah memasuki wanita lain, karena selama ini mereka hanya memberikan kepuasaan lewat mulut mereka saja,” Aldo menjelaskannya, seakan itu sangatlah perlu untuk Brina.
Aldo yang mendapatkan Brina sama sekali tidak meresponnya, kini mulai mengetahui bahwa efek obat itu sudah sangat naik, sehingga membuat gadis itu memilih bungkam dari pada mengeluarkan suara erangan.
Kembali duduk di sebelah Brina, jemari Aldo kini kembali menari di sekitaran benda kembar nanti indah milik Brina.
“Keluarkan saja suaranya sayang, kenapa harus di tahan,” ucap Aldo dengan gemas.
Sejujurnya, Aldo seperti ini, karena lebih dulu dirinya meminum obat peranggsang yang diberikan oleh Brio secara diam - diam kepadanya tadi, di saat mereka bertemu di restoran.
Dan bahkan obat yang diminum Aldo itu, memiliki dosis yang lebih tinggi dibandingkan obat yang di minum oleh Brina.
Sreeekkkkk, suara robekan baju kini membuat tubuh bagian atas Brina terlihat begitu jelas, Brina yang sudah seperti kehilangan akal, kini mulai membiarkan Aldo untuk meminum susunya dengan begitu ganas.
Tetapi Aldo merasa tidak menyukai permaianan tanpa perlawanan, sehingga dia memilih untuk membukakan rantai yang mengikat tangan Brina.
Akhirnya suara indah Brina keluar, ketika Aldo memasukkan jemarinya ke inti tubuh milik Brina.
Aldo turun ke bawah, dan melihat dengan jelas, dan meIihat perut Brina yang terdapat garis bekas operasi sewaktu mengeluarkan Hanna dari perutnya, dia menciumi bekas itu, lalu menyikap rok yang dikenakan oleh Brina, untuk segera memulai permainan mereka.
Suara nikmat yang saling bersahutan, membuat pagi itu menjadi milik mereka, bahkan sangking kuatnya efek obat itu, tanpa sadar mereka melakukannya sampai siang mendatang.
Brina yang tidak sanggup lagi, langsung terlelap, ketika permainan ke lima mereka berakhir. Benar – benar sangat gila, Aldo menunggangi Brina tiga jam tanpa henti.
Aldo yang melihat Brina terlelap, kini menatap ke arah jam yang ada di dinding, “Sudah waktunya Hanna pulang,” lirih Aldo pelan, lalu dia bergegas untuk membersihkan tubuhnya, agar bisa menghilangkan sisa – sisa efek dari obat itu.
Setelah selesai, sejenak Aldo menatap wajah manis Brina, dan menuliskan pasword pintu apartemennya, agar ketika wanita itu bangun, dia bisa langsung keluar dari sana.
Aldo melihat ke arah ponselnya, terdapat pesan masuk dari Brio yang telah menyiapkan Jet pribadi khusus untuknya.
“Calon kakak iparku ini memang sangat baik,” gumam Aldo, yang tersenyum ketika ada seseorang yang bisa membantunya kabur dengan menghilangkan jejak yang tak bisa dilacak.
To Be Continue.
**hei Bestie, jangan lupa untuk Like, Komen, Vote dan Hadiahnya ke karya Mimin ini ya, Agar Mimin lebih semangat lagi untuk Update dan nulisnya.
Terima Kasih**.