The Mejesty It’S Husband

The Mejesty It’S Husband
Nasihat Aldo untuk Brina



❤️ Happy Reading Bestie ❤️


Setelah pusing dengan sidang tadi, kini Brina terlihat masuk ke dalam kamar dengan perasaan kesalnya.


Tidak pernah dia bayangkan sebelumnya kalau dia akan tinggal di Singapore, di rumah sekecil itu.


“Sayang, sabar, tidak perlu marah - marah juga dong.” Tegur Aldo, ketika Brina sedang ada di depan kaca riasnya dengan wajah yang terlihat sangat menahan emosi.


“Kamu bisa diam gak!” Brina kali ini membentak Aldo, karena tidak mau mendengar siapapun saat ini.


“Jaga bicara kamu Brina! Aku suami kamu.” Bentak Aldo balik. Jika Brina saja tidak suka di begitukan, maka sama dengan Aldo yang juga tidak suka dibegitukan.


Brina memijat keningnya pusing, dia sedang berpikir bagaimana caranya agar dia bisa menggagalkan niat Daddy yang akan mengirimnya pergi ke Luar Negara.


Aldo yang tidak bisa berkata apa - apa lagi, kini sekarang memilih untuk duduk di pinggir kasur tempat tidurnya. “Brina, aku dulu pernah mengajakmu untuk tinggal di Mansion milik orang tuaku, tapi kamu menolaknya, dan sekarang Daddy kamu sudah menyuruh kita untuk membangun keluarga kita secara mandiri. Apa yang kamu kahwatirkan dalam hal ini?”


“Semuanya,” jawab Brina tegas, tanpa membiarkan Aldo melanjutkan kalimatnya.


Lagi - lagi Aldo hanya mampu menghela nafasnya, dia sulit memberitahukan istrinya ini, apa lagi mau mengajarinya.


Karena merasa tidak bisa berkata apa - apa lagi, Aldo memilih untuk bangkit dari tempat tidur dan segera masuk ke dalam kamar mandi. “Mau ngapain kamu?” Tanya Brina, ketika melihat Aldo masuk ke dalam kamar mandi.


“Mau mandilah, mau ikut?” Tanya Aldo balik.


Brina menghela nafasnya, lalu menggelengkan kepalanya pelan, sebagai jawaban.


“Ya sudah kalau gitu aku mandi sendiri saja.” Sahut Aldo, yang tidak mendapatkan respon apa - apa dari Brina.


Di saat Aldo sedanc mandi, kini Brina kembali mondar mandiri untuk mencari solusi akan masalahnya. Dia sama sekali tidak pernah tahu kalau hal buruk ini terjadi dengannya.


“Ahhhhhh,” erangnya, merasa frustasi sendiri dengan pikirannya. Bagaimana tidak, selama hidupnya tidak pernah dia bayangkan bagaimana dirinya harus hidup di rumah kecil dan bahkan hanya dengan satu pembantu saja, tetapi sekarang, Daddnya malah memintanya untuk hidup seperti itu.


Lama Brina berpikir, namun dia sama sekali tidak menemukan jawabannya. Bahkan sampai Aldo keluar dari kamar mandi dengan mengenekan handuk yang melingkar di pinggangnya, Brina masih juga berpikir bagaimana bisa dia mencari jalan agar bisa membujuk orang tuanya itu.


Karena istrinya terlihat masih pusing, Aldo memilih untuk menyiapkan kopernya sendiri. Mario mengatakan kalau pagi ini mereka akan berangkat, dan karena waktu sudah menunjukkan angka setengah 7, dan pada tepat jam 7, mereka akan mendapatkan makan malam mereka.


“Kamu gak mandi? Ini sudah mau jam makan malam loh.” Tegur Aldo, pada istrinya yang masih melamun di sofa sana.


Brina melirik ke arah Aldo, dan melihat suaminya itu sedang mempersiapkan keperluannya dan memasukannya ke dalam koper.


“Apa yang kamu lakukkan?” Tanya Brina dengan suaranya yang lantang, lalu dia berdiri dari duduknya untuk segera mendekat ke arah Aldo.


“Apa yang aku lakukkan? Aku ya jelas sedang merapikan pakaianku, kamu tidak mau menyiapkannya.” Jawab Aldo, dengan begitu santai, tanpa dia perduli jika di sebelahnya itu istrinya sedang marah dan menatapnya bagaikan seorang mangsa yang begitu mantap di santap.


“Aku tidak berpikir, kalau kamu setuju dengan semua ini.” Brina tersenyum sinis, mengetahui ternyata suaminya setuju seperti itu saja dengan keputusan orang tuanya.


“Pilihan dan keputusan orang tua itu tidak akan pernah salah Brina,” ucap Aldo, kembali mencoba memberikan nasihat untuk istrinya.


“Kamu beruntung karena masih memiliki orang tua, dan juga orang tuamu masih perduli dengan kamu. Sedangkan aku -“ Aldo membandingkan hidupnya dengan hidup Brina yang jauh lebih beruntung.


Mungkin kalau orang tuanya masih ada sampai saat ini. Aldo bisa saja bahagia dengan kehidupannya sekarang.


Bahkan mendengar kalimat yang di katakan oleh Aldo tadi. Brina langsung terdiam, merasa jika dia kembali mengingat bagaimana suaminya tidak mempunyai orang tua.


“Aku hanya berusaha untuk Hanna, apapun akan aku lakukan agar kita selalu bersama. Aku tidak mau sampai Hanna tidak merasakan kasih sayang ke dua orang tuanya. Itu saja.” Ungkap Aldo memberitahukan isi hatinya.


“Mungkin saja, dengan keputusan ini, Daddy dan Mommy mau yang terbaik untuk keluarga kecil kita, mengingat apa yang sedang terjadi dengan kita belakang ini. Bagaimana hubungan kita nyaris rusak karena banyaknya orang yang tidak menyukai kita.” Tuturnya lagi, dan kali ini berhasil membuat Brina terdiam mendengar semua kata - kata yang keluar dari mulut suaminya.


“Mendengar apa yang dikatakan oleh Mommy dan Daddy tadi, aku bahkan bisa menyimpulkan, jika ke dua kakak kamu melakukkan pelajaran hidup ini, dengan seorang diri. Sedangkan kamu masih ada aku, masih ada Hanna dan calon bayi kita. Jadi apa yang harus kamu takutkan?” Seru Aldo lagi. Dan itu semakin membuat Brina bungkam tanp bisa membalas kata - kata Aldo.


“Aku hanya khawatir jika kita tidak akan nyaman tinggal di tempat kecil itu.” Ujar Brina, dengan suaranya yang lemah.


Sebenarnya dia sendiri juga tahu, mau sekeras apa pun dia berpikir, kalau sudah orang tuanya yang memutuskan, maka dia sudah tidak bisa berkata apa pun, apa lagi untuk membantahnya.


Dan sekarang bertambah lagi Aldo yang sepertinya sangat menuruti perintah ke dua orang tuanya, membuat dirinya semakin mati langkah.


Merasa malas mendengar kalimat - kalimat nasihat yang keluar dair mulut suaminya. Brina memilih untuk beranjak dari sana, dan melangkah pergi ke kamar mandi, karena dirinya memang belum membersihkan tubuhnya di saat tadi dirinya pulang.


Apa lagi, mereka sudah mau turun untuk makan malam, tentu saja dia belum boleh bertemu dengan Hanna, kalau tubuhnya belum bersih.


“Mau kemana?” Tanya Aldo, melihat istrinya baru melangkah dari posisinya saat ini.


“Mau mandi, kamu duluan saja ke bawah, nanti aku susul.” Jawabnya dengan tegas. Dan kembali melanjutkan langkahnya untuk pergi membersihkan tubuhnya.


Melihat langkah istrinya yang kian hilang di telan kamar mandi, kini Aldo hanya bisa kembali menghela nafasanya, dan berharap istrinya tidak lagi mempermasalahkan keputusan orang tuanya.


To Be Continue. *


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.


Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎


*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭


Terima kasih🙏🏻🙏🏻