The Mejesty It’S Husband

The Mejesty It’S Husband
Meluapnya Sebuah Amarah



🌹 Happy Reading Bestie 😘


Di pagi harinya, terlihat keluarga Jonathan beserta Aldo sedang memakan sarapan mereka bersama.


Pagi ini juga kondisi Hanna sudah sangat membaik, sehingga dirinya sudah bisa dibawa pulang ke kediaman Jonathan.


Meja makan terasa sangat hening, hanya ada dentuman, garpu, pisau yang sedang berlawanan membelah roti di piring mereka masing – masing.


“Grandma, apakah tidak ada yang mau menemaniku bicara? Kenapa sekarang sangat sepi? Apakah kalian sudah tidak bisa berbicara?” Protes Hanna, yang merasa mulai bosan dengan keheningan yang ada.


Pasalnya, di kediaman Jonathan, Grandma dan Grandpanya selalu saja bersuara, dan mengajaknya untuk bercanda riang. Tetapi hari ini tiba – tiba semuanya diam.


Eden yang sedari tadi ingin berbicata kini mulai memperlihatkan senyumnya kepada cucunya itu. “Hanna, Grandma sedang ingin bermain denganmu,” tawar Eden dengan suara yang begitu lembut berbicara dengan cucunya.


“Tetapi aku sedang tidak ingin bermain saat ini Grandma.” Protes Hanna.


“Bagaimana kalau, Hanna bersembunyi terlebih dahulu, lalu nanti Grandpa akan berusaha mencari dan menemukan Hanna?” Tanya Mario, yang tahu, bahwa istrinya sedang ingin berbicara serius saat ini. Sehingga dia meminta cucunya untuk pergi terlebih dahulu.


Aldo yang tidak mengerti situasi, saat ini hanya diam dan memperhatikan saja, interaksi di sekelilingnya.


“Tapi Grandpa,,” penolakan Hanna terdengar kembali, hingga membuat Aldo ingin membuka suaranya.


Dupp, “argghh,” rintih Aldo dengan pelan. Karena sebuah tendangan keras diberikan oleh Brina, di bawah meja sana.


Tetapi, baru saja Aldo ingin protes, Brina sudah lebih dulu melototkan matanya, pertanda dia tidak ingin berdebat.


Setelah Eden dan Mario berhasil membujuk Hanna, untuk pergi ke kamarnya terlebih dahulu. Kini tinggallah mereka ber – empat, dengan situasi canggung.


“So, sekarang apa mau kalian? Apa rencana kalian ke depannya?” Tanya Eden, kepada dua orang yang sedari tadi sibuk dengan makanannya masing – masing.


Brina menoleh sinis ke arah Mommynya, sambil menggelengkan kepalanya pelan. “Rencana apa sih Mom? Aneh banget,” protesnyq, tidak suka ketika Mommynya menannyakan hal yang tidak berguna.


“Kalian berdua sudah memiliki anak, apa kalian tidak ada rasa tanggung jawab sama sekali?” Seru Mario, yang mulai menyuarakan suaranya.


“Aku sih tanggung jawab Dad, buktinya Hanna besar sendiri juga karena aku kan, jadi aku tidak membutuhkan siapa pun,” jawabnya dengan begitu percaya diri.


Mario dan Eden hanya bisa menghela nafas mereka, dengan gelengan kepalanya pusing, melihat sikap Brina yang begitu kelewatan.


“Aldo, apakah kamu masih suka sama anak saya?” Tanya Mario, khusus pada Aldo.


“Tentu saja Dad, pria ini tidak akan bisa melupakkan aku, dan mungkin keinginan terbesarnya adalah menikahiku,” Brina benar – benar percaya akan dirinya. Apa lagi, mengingat ketika Aldo kemarin menidurinya, itu sangatlah membuat dirinya begitu yakin, bahwa pria di hadapannya ini sangatlah mencintainya.


“Tapi, mohon maaf, aku tidak tertarik sama sekali denganmu, sebelum kamu melamar, aku akan menolaknya duluan.” Sambungnya lagi dengan wajah yang begitu angkuh.


“Brina!!” Bentak Eden, yang sudah begitu muak melihat sikap putri bungsunya itu.


Mendapatkan bentakan dari Mommynya, Brina merasakan sangat tidak suka, dan kini dia menutup mulutnya rapat – rapat, namun tatapan tajamnya melihat ke arah Aldo.


“Aldo, bisakah kamu menjawabnya? Apa ada keinginanmu untuk memperbaiki keadaan ini, bertanggung jawab dengan Hanna, atau bahkan berniat menikahi putri saya?” Tanya Mario sekali lagi.


Aldo diam sejenak, memikirkan jawaban apa yang akan dia keluarkan untuk saat ini. “Untuk menikahi Gabrina, saya sama sekali tidak ada niat Tuan Mario.” Ungkapnya secara jujur.


“Uhuk,,uhukk,,uhukk,” Brina, tersedak makananya sendiri. Dia begitu kaget mendengar jawaban apa yang keluar dari mulut pria yang ada di hadapannya ini.


“What? Apa dia bilang? Tidak ingin menikahiku? Lalu kemarin apa? Dia anggap aku pelampiasan gitu? Atau apa?” Batin Brina, mendadak marah mendengar ungkapan dari Aldo.


“Apa maksud kamu?” Mario menaikan oktaf suaranya, karena merasa ikut geram dengan jawaban dari pria ini.


Bagaimana tidak, sudah jelas – jelas ke duanya mempunyai anak. Tetapi masih tidak ingin bertanggung jawab, itu bagaimana konsepnya. Belum lagi, kemarin mereka juga telah melakukanya lagi. Lalu sekarang, pria itu mengatakan tidak ingin menikahi putrinya? Lalu untuk apa menculik Hanna?


“Kamu jangan bermain – main sama saya Aldo atau Aberline, siapa pun kamu!” Tegas Mario, yang mulai memperlihatkan emosinya.


“Kamu masih tidak ada bandingan apa – apa dari saya, kamu dan keluargamu hanyalah seorang anjing pelayan Ratu Inggris, jadi kamu jangan merasa lebih berkuasa dari saya!!” Ucap Mario penuh tekanan.


Meskipun Brina yang bersalah, tapi dia sebagai Orang tua dari Brina, tidak akan pernah membiarkan seorang laki – laki, menginjak – injak harga diri putri bungsunya itu.


To Be Continue.


Hey Teman - Teman, jangan lupa ya, untuk, Like, Komen, Vote dan Hadiahnya untuk Karya Mimin ini. Agar mimin lebih semangat lagi untuk updatenya.


Dan Jangan lupa juga untuk mampir ke karya mimin yang lainnya ya.


Terima Kasih.