
🌹 Happy Reading 🌹
Saat ini Aldo sedang duduk di atas rerumputan di dekat sebuah sungai yang bersih. Dia menatap kosong ke arah langit, sambil mengingat kejadian beberapa tahun belakangan ini.
“Ahhhh, ini sungguh sangat merepotkan,” gumamnya, lalu mulai membaringkan tubuhnya di atas rerumputan itu.
“Sudah beberapa tahun ini aku berusaha untuk melupakannya,” ucap Aldo lagi. Dan saat ini dia rasa sudah cukup waktunya untuk terus terengkuh di masa lalu.
“Dia juga sepertinya sama sekali sudah tidak mengingat kenangan kita,” lanjutnya lagi, lalu kembali duduk sambil terus menggaruk kepalanya pusing.
Lalu di detik selanjutnya, Aldo memilih untuk segera beranjak dari duduknya, Dia ingin segera kembali ke rumahnya, karena langit yang sudah terlihat hampir gelap.
***
Sedangkan di sisi lain, terlihat Brina yang baru saja pulang ke Mansionnya, setelah seharian full ini dia bekerja dan sekarang sudah merasa rindu dengan putri kesayanganya.
“Mommy,” teriak suara merdu yang kerap kali dia dengar sedang menyambutnya.
Brina yang baru saja turun dari mobilnya, langsung berlari memeluk putrinya itu, “Ahhh, Mommy kangen sekali sama kamu sayang,” seru Brina, sembari menciummi wajah cantik putrinya itu.
“Brina,” panggil suara yang tak asing baginya.
“Mommy, Daddy,” Brina melihat ke dua orang tuanya itu datang dan kini ikut menyambutnya.
“Mommy, sudah Cukup Mommy,” Hanna merasa kesal jika Mommynya itu selalu saja menciuuminya tanpa henti.
Cupppp,,cuppp,cccupp, entah kenapa Brina sama sekali tidak bisa berhenti untuk menghirup aroma tubuh putrinya itu.
“Brina udah, itu anaknya udah merah gitu wajahnya,” tegur Eden, yang sudah sangat hafal dengan sikap putrinya itu.
“Bentar Mom, hemm, harum banget, apa lagi nafasnya ini loh,” sahut Brina yang, lalu berdiri untuk menyapa ke dua orang tuanya.
“Mommy,” lirihnya pelan, sambil memeluk tubuh mungil Mommynya itu.
Eden tersenyum, lalu membalas pelukan erat dari Brina, “Mommy kangen banget sama kamu sayang,” ungkap Eden, pada Brina.
“Ehemmm, sepertinya kehadiran Daddy sudah dilupakan,” protes Mario yang merasa diabaikan oleh putri dan istrinya ini.
“Opa biar sama Hanna saja ya,” ucap gadis kecil itu, yang langsung naik di dalam gendongan Mario.
“Oh iya, Opa sampai lupa dengan cucu opa yang sangat cantik ini,” pujinya pada Hanna.
“Sudah – sudah, yuk kita makan malam, Mommy kamu pasti sudah lapar,” seru Eden, yang langsung menggandeng putrinya untuk masuk ke dalam.
“Let’s go Opa, kita harus masuk lebih dulu,” teriak Hanna histeris, dia begitu antusias berada di dalam gendongan opanya seperti ini.
“Ahhh, baiklah – baiklah, untuk cucu opa ini, opa akan berlari ke dunia untuk sang tuan putri,” Mario begitu bahagia melihat cucunya yang sama sekali tidak terpengaruh dengan kehidupan sekitar.
“Daddy, jangan lari loh ya, nanti jatuh,” Eden memberi peringatan kepada suaminya.
“Siap Bos,” sahut Mario, namun lebih mempercepat langkahnya, agar Hanna bisa tertawa lebih nyaring lagi.
Sesampainya di meja makan, Hanna kini di dudukan sendiri di kursi khusus untuknya dengan Mommy dan Omanya yang ada di dekatnya.
“Biarkan Mommy yang menyuapi Hanna kali ini sayang, kamu makan saja, pasti kamu sudah sangat lelahkan hari ini,” ucap Eden, yang lebih dulu mengambil alih untuk memberi makan cucunya.
“Benar tidak apa – apa Mom? Brina merasa sangat tidak enak loh,” kata Brina, yang sedikit ragu ketika dirinya harus membiarkan Mommynya harus kembali mengambil alih mengurus putrinya.
“Tentu saja, lagian sudah beberapa bulan ini Mommy tidak menyuapi Hanna, Mommy juga sangat rindu,” ungkap Eden, yang akhirnya dibalas dengan senyum oleh Brina.
“Bagaimana dengan keadaan kantor sayang?” tanya Mario pada putrinya.
Brina yang fokusnya kali ini sudah dengan makanan yang ada di hadapannya kali ini, bisa mendengar jelas pertanyaan Daddynya itu.
“Jauh lebih baik dari bulan kemarin Dad,” jawabnya singkat.
Mario menganggukan kepalanya pelan, karena dia sendiri sebenarnya sudah tahu bagaimana berkembangnya perusahaan setelah Brina yang mengambil alih, setelah sempat mengalami penurunan di saat tidak ada yang menghendelnya.
“Brio sekarang sudah Daddy tugasnya mengambil alih perusahaan di Perancis serta Spanyol, dan Daddy juga sudah memutuskan untuk mengambil alih perusahaan di London ini,” jelas Mario, yang berhasil membuat gerakan makan Brina terhenti.
“Dad?” Brina merasa sangat ambigu dengan keputusan Daddynya yang sepihak seperti ini.
Mario menarik nafasnya dalam, lalu menghembuskannya dengan berat, “Daddy tidak masalah jika kamu mau mengurus perusahaan Brina, hanya saja Daddy tidak ingin melihat kamu yang terlalu sibuk hingga bahkan sering lembur seperti itu, kasihan Hanna,” Mario sama sekali tidak ingin jika cucunya tumbuh hanya dengan bantuan dari baby sister ataupun Eden saja.
Dia takut, jika kasusnya akan seperti Eden dan Briell yang dulu selalu saja berkonflik karena kurangnya waktu yang diberikan Eden untuk Briell.
To Be Continue.
Hallo semuanya, Mimin hanya mau mengingatkan, Jangan lupa untuk Like, Komen, Vote dan hadiahnya untuk Mimin ya, agar Mimin lebih semangat lagi untuk updatenya.
Terima Kasih