
Ke esokan harinya, semua keluarga terlihat berkumpul lagi.
Mereka terlihat bermain air dan begitupula dengan Hanna.
Sepertinya Hanna tidak mempunyai trauma, namun Brina dan Aldo masih sangat khawatir, dan meminta dokter Psychology untuk sealu mendampingi Hanna.
Terbukti sekarang Hanna sedang meminta menjadi putri duyung yang terdampar di pesisir pantai.
Sedangkan L’Arc terlihat berenang sendiri menikmati suasana laut. Eden yang sedang fokus membakar Barbeque tiba - tiba terpanah dengan tubuh L’Arc yang terlihat sangat sexy.
Mario yang mendapatkan tatapan istrinya itu, juga tidak mau kalah, dan merasa tubuhnyalah yang paling sexy.
“Mata di jaga - di jaga!” Tegur Mario, yang membuat Eden tersenyum mendengarnya.
Sedangkan Aldo kini berenang di pertengahan pantai dan meminta yang lain untuk memfotonya.
Berbeda halnya dengan Brina yang menepi merasa udaranya sangat Panas.
Lain halnya dengan Freya yang kini sedang menampilkan bodynya yang cukup sexy dan tidak kalah menarik dari yang lainnya, membuat Aiden menatapnya dengan memantau kegiatan istrinya.
Berbeda halnya dengan Griffin dan Historia yang lebih memilih bersantai di Pesiar di bandingkan harus berenang.
Begitupula dengan Albert yang lompat ke air dari pesiar, sedangkan Briell memilih untuk bersantai saja di pasir pantai.
Masing - masing dari mereka, kini terlihat menikmati kegiatan mereka, begitpula dengan yang lainnya.
Aldo yang merasa letih, kini mulai mendekati Kapal pesiar, dan melihat Albert yang sepertinya baru selesai berenang dan menikmati segelas Wine di tangannya.
“Kak Albert,” sapanya, karena sebenarnya dia belum sempat berkenalan baik dengan kakak iparnya itu.
“Hey, kamu Aldo kan.” Sapa Albert balik.
“Brina suka bercerita tentang kakak loh,” ucapnya memulai pembicaraan santai di antara ke duanya.
“Benarkah? Bercerita tentang apa?” Tanya Albert, merasa penasaraan dengan cerita adik iparnya ini.
“Tentang kakak yang berjuang untuk mendapatkan hati Kak Briell, sekarang aku juga merasakannya kak.” Jawab Aldo, dengan senyumnya.
Albert menyeritkan keningnya, karena dia tidak merasa hal demikian yang terjadi di antara Aldo dan Brina.
“Menurut aku sih, sifat Brina lebih lembut dari pada kakaknya Briell, kalau Brina melihat kamu terluka dia masih mau perduli, tetapi Briell, jangan kamu harapkan itu darinya.” Ujar Albert memberitahukan pada Aldo, bahwa sifat keduanya itu sangat berbeda meskipun mereka adalah saudara.
“Benarkah kak?” Tanya Aldo lagi.
Albert menganggukan kepalanya pelan. “Berikan Brina hal - hal yang berbau romantis, maka dia akan senang.” Albert kembali memberikan saran kepada iparnya itu.
Aldo mengerti yang Albert katakan, lalu dia kembali ke pantai untuk mencari istrinya yang sedang berlindung di balik bebatuan.
Namun, sebelum itu Aldo meminta pada seseorang untuk membuat surprise di atas pasir pantai.
“Sayang.” Panggil Aldo, mengejutkan Brina yang sedang membasahi tubuhnya.
“Kamu bikin kaget saja.” Sahut Brina, sedikit marah pada Aldo.
“Sayang, aku punya surprise untuk kamu.” Ujarnya, membuat Brina tersenyum mendengarnya.
“Surprise apa?” Tanya Brin penasaraan.
“Kalau kamu mau tau, kamu harus tutup mata.” Jawab Aldo, lalu mengeluarkan sapu tangan untuk dijadikan penutup mata untuk istrinya.
“Apaan sih, pakai tutup - tutup segala.” Protes Brina, namun dia menurut saja ketika Aldo menutup matanya dan menuntun jalannya.
“Apa yang kamu rasakan semenjak dua bulan pernikahaan kita?” Tanya Aldo, sembari berjalan berdampingan dengan Brina.
“Apa? Mungkin nyaman, sayang, dan merasa seperti kamu itu rumah bagi aku.” Jawab Brina dengan jujur.
Karena menurutnya begitulah pada kenyataanya. Dia yang berusaha mencoba untuk menjauh dari Aldo. Namun nyatanya kini kembali lagi dan malah mau memiliki anak ke dua.
“Apakah kamu mencintaiku? Seperti aku mencintaimu?” Tanya Aldo lagi, karena pembicaraan ini bisa membuat perasaan mereka terungkapkan satu sama lain.
Sejenak Brina terdiam, memikirkan bagaimana perasaan sebenanrnya. “Aku belum bisa memastikan, tapi bagaimana menurut kamu? Apakah selama ini kita bersama, tidak ada perasaan cinta walaupun sedikit?” Tanya Brina balik pada suaminya.
“Menurut aku sih ada, kita berhubungan sudah cukup lama, dan walaupun dalam 5 tahun kita berpisah, tetapi pemikiran kita masih tetap bersatu, dan saling bertautan satu sama lain.” Ungkapnya, membuat Brina kembali tersenyum mendengar kalimat suaminya.
“Kita sudah sama - sama dewasa, kalau aku menganggapmu adalah rumahku, berarti di hatiku kamu lebih dari sekedar cinta.” Ucapnya lagi jujur. Dan bertepatan mereka berdua sudah sampai di tempat yang dihias tadi.
Perlahan namun pasti, Aldo melepaskan penutup mata istrinya. “This for you Baby.” Lirihnya pelan, lalu berdiri di belakang Brina, mempersilahkan Brina melihat surprise apa yang telah di buat.
Brina menutup mulutnya merasa sangat terkejut melihat hal ini. Dia tidak tahu kapan Aldo mempersiapkannya, dan kenapa Aldo tiba - tiba menjadi romantis dengannya.
Di sana, di pantai itu tertulis besar dengan banyaknya kelopak bunga nama Brina dan dengan Kata I Love you.
You’re the One and forever
Brina terharu dengan hal itu, lalu tanpa sadar dia meneteskan air matanya. Dan beralih menatap Aldo di belakangnya. “Thank you.” Ucapnya dengan tulus. Lalu memeluk tubuh Aldo dengan begitu erat.
Yang lainnya, sejak tadi memantau mereka, lalu membunyikan kembang api serta apa pun yang bisa membuat suasana semakin romantis.
“I love you Brina.” Kalimatnya yang dia ucapkan begitu tulus.
“I love you to Aldo.” Balas Brina, dan kalimat itulah yang sudah begitu lama ingin di dengar oleh Aldo.
Kalimat perasaan yang menyatakan cinta dari Brina untuknya. “Huwaaaaa Mommy, Daddy, You all forget about me.” Seru Hanna yang menangis jingkar ketika melihat Mommy dan Daddnya berpelukan tanpa dirinya.
Brina dan Hanna tersenyum mendengarnya, lalu membuka tanganya untuk menerima Hanna di dalam pelukan mereka.
Sorak - sorakan bergembira kini terdengar membuat semua yang ada di situ bisa merasakan kebahagiaan yang sangat berlimpah.
****
10 bulan kemudian, Brina berhasil melahirkan seorang anak laki - laki yang di beri nama Bive Feuward Phantominve. Yang artinga Penerus pemberani keluarga Phantominve.
Kini acara kerajaan telah di adakan, acara penyambutan pangeran Bive yang akan menjadi Calon Raja di suatu saat nanti menggantikan Daddynya Aldo.
Ya, semenjak pulang dari Hawai pada waktu itu, L’Arc sudah mengangkat dan menobatkan Aldo sebagai raja selanjutnya dan Brina sebagai Ratu.
Kehidupan mereka begitu sangat bahagia, walaupun Aldo fokus dengan pekerjaanya dan politik / politiknya. Dia tidak pernah melupakan kewajibannya sebagai seorang Ayah dari Hanna dan juga Bive.
“Apakah acaranya sudah bisa di mulai?” Tanya L’arc yang menanyakan kesiapan putra dan menantunya memperkenalkan Bive pada rakyatnya.
“Sudah Pah,” jawab Aldo dengan penuh keyakinan.
Mendengar hal itu, L’arc keluar dan memulai pidatonya. “Hadirit Rakyatku yang sedang berbahagia, saya adalah mantan Raja L’arc, yang saat ini tahtaku sudah diserahkan pada Aberline Phantominve yang merupakan putra Tunggal yang aku miliki. Dan suatu saat jika Ia sudah pensiun maka penerusnya adalah Pangeran yang baru saja di lahirkan oleh Ratu Brina.”
“Inilah, pangeran Kerajaan Phantominve, Bive Feuward Phantominve,” teriak L’arc yang di sambut dengan teriak riuh dari banyaknya rakyat yang ingin melihat pangeran pewaris.
Brina dan Aldo merasa sangat bangga karena putranya menjadi pewaris yang di banggakan rakyat. Walaupun dia masih bayi, dia sudah di sambut dengan penuh haru dan bahagia.
“Terima kasih sudah melahirkan putra untukku.” Ucap Aldo dengan tulus.
“Dia putraku juga.” Sahut Brina, tidak terima jika Aldo harus meminta maaf padanya.
Mereka berdua tersenyum dengan bahagia, apa lagi ketika Bive sudah di masukan kembali ke kamar dan di ranjangnya. Hanna dengan setia menjaga adik laki - lakinya itu.
Lagi - lagi Aldo dan Brina bersyukur, karena tidak ada sedikitpun rasa iri dan cemburu dalam hati Hanna ketika Bive adiknya yang menjadi pewaris keluarga Daddnya.
Dia malah bahagia dan berkata bahwa suatu saat adiknya akan menjadi pelindung untuknya.
\~\~\~\~\~The End \~\~\~\~\~\~ c