
❤️ Happy Reading Bestie ❤️
Ketika Aldo baru saja mengantar Hanna ke sekolah, tiba - tiba saja dia mendapatkan sebuah pesan dari Erlan.
“Mau apa lagi pria ini?” Tanya Aldo pada dirinya sendiri. Ketika membaca pesan Erlan yang mengajaknya untuk bertemu.
Awalnya Aldo sama sekali tidak menggubris ajakan itu, bahkan dia tetap saja melajutkan mobilnya menuju kantornya.
“Siall!” Umpatnya kesal, karena terus kepikiran tentang apa yang sebenarnya Erlan inginkan.
Hingga akhirnya Aldo memilih untuk memutar arah, mendatangi tempat yang sudah Erlan sepakati.
**
Sesampainya di restoran, Aldo mencari keberadaan Erlan yang terlihat sudah duduk dengan sebuah cangkit coffe di depannya.
“Akhirnya kamu datang juga, aku pikir kamu tidak akan datang.” Ujar Erlan, ketika mendapatkan Aldo sudah duduk di hadapannya.
Aldo menatap Erlan dengan lekat, “tidak usah berbasa basi, saya tidak mempunyai waktu untuk hal itu! Sekarang katakan padaku! Apa niatmu mengajakku untuk bertemu di sini?” Tanyanya dengan tegas, tidak mau bertele - tele berbicara dengan Erlan.
Aldo benci situasi ini, meskipun Brina sudah menjadi istrinya, dia tetap takut jika Erlan tetap mempertahankan hubungannya dengan Brina, dan merebut istrinya dari dia.
Biar bagaimanapun, hubungan Erlan dan Brina jauh lebih lama di bandingkan hubungannya dengan istrinya. Apa lagi memang Aldo sama sekali tidak tahu, bagaimana perasaan istrinya kepada Erlan.
Erlan tersenyum, tanpa melihat ke arah Aldo, dia menatap secangkit coffe di hadapannya, lalu sedikit gerakan memutar jarinya mengikuti lingkaran cangkir itu.
“Tidak perlu terburu - buru, bisakah kita bersantai dulu?” Erlan terlihat begitu santai di saat Aldo terlihat begitu tegang.
“Saya tidak mempunyai banyak waktu untuk itu!” Sahut Aldo, lalu memilih untuk beranjak dari duduknya.
“Hoho santai Bung, tidak perlu pakai emosi dong, hanya mengobrol sebentar.” Erlan menahan Aldo agar tidak pergi dulu.
“Aku akan merebut Brina darimu.” Ucapnya tidak main - main.
Tentu saja, kalimat itu mengejutkan Aldo, dan membuat pria itu kembali duduk di hadapan Erlan.
“Apa kamu bilang?” Tanya Aldo, agar Erlan mengulang kata - katanya yang terdengar begitu gila.
Erlan tersenyum melihat reaksi Aldo, persis dengan duagaannya. “Aku rasa suaraku sudah jelas mengatakannya, kalau aku akan merebut Brina dari kamu.” Ucapnya sekali lagi, dan kali ini terlihat lebih tidak main - main.
“Hahahahahahahahah.” Aldo tertawa mendengar Erlan yang mengatakan akan merebut Brina darinya. Sungguh sebenarnya dia sangat khawatir, namun dia berusaha untuk menutupinya.
“Kamu sakit jiwa! Brina sudah punya suami, dan kamu masih tidak menyerah? Hahaha, kasihan sekali kamu.” Aldo berucap malah memancing emosi dari Erlan.
Sehingga Erlan yang terpancing langsung melayangkan sebuah pukulan ke wajah Aldo. Bugghhhhh. “Arrggghh.” Jerit Aldo kesakitan.
Melihat Aldo yang terjatuh di lantai, Erlan langsung mencengkram kerah kemeja Aldo, tanpa memperdulikan pandangan orang - orang lain kepadanya. “Jika bukan karena kamu yang hadir lagi! Brina pasti sudah menikah denganku! Kedatanganmu itu hanya bisa membawa kesialan pada Brina, Lihat -“
Buggghhh,, Erlan menendang tubuh Aldo hingga pria itu terlempar beberapa jarak. Erlan tersenyum lalu kembali berjongkok, melihat Aldo yang terlihat sudah tidak berdaya.
“Brina tidak membutuhkan laki - laki lemah seperti kamu! Hidup Brina di kelilingi oleh musuh, dan pria yang pantas menjadi suaminya itu aku! Pria yang bisa memberikan perlindungan untuknya.”
“Bukan laki - laki yang cuman modal kuku bird kaya kamu! Cuman bisa menghamili agar bisa mendapatkannya. Cuihhhh.” Erlan meludahi Aldo yang masih menahan sakit di lantai. Lalu dia beranjak pergi meninggalkan Aldo di dalam restoran, dan menjadi bahan tontontan pengunjung lain.
Aldo tertunduk menahan sakit di wajah dan dadanya, dia mengepalkan tanganya kuat.
“Tuan, biar saya -,” seorang scurity mendekatinya untuk membantu Aldo berdiri.
“Aku bukan laki - laki lemah, aku bisa berdiri sendiri.” Yakinnya, dan berusaha berdiri dari posisinya.
Namun di saat baru mencoba berdiri, tubuh Aldo terjatuh lagi karena tidak kuat. Erlan benar - benar menghajarnya dengan begitu kuat, bahkan sampai darah segar keluar dari mulutnya.
“Tuan?” Suara scurity itu terdengar kembali, merasa prihatin dengan Aldo yang sudah terjatuh berkali - kali.
Dengan menundukkan kepalanya, terdengar suara tangisan Aldo. “Aku -,” tangisnya, dengan kata - kata yang terpenggal.
“Aku memang sangat lemah.” Lirihnya lagi pelan.
Jujur saja, jika masalah bertarung, Aldo memang tidak memiliki semua itu. Karena selama dia hidup hanya Code yang bertarung untuknya.
Ketika dia mempunyai masalah, Codelah yang selalu maju untuk menyelesaikannya. “Aku lemah.” Ucapnya sekali lagi, lalu dia terjatuh pingsan.
“Tuan.” Seru scurity yang sedari tadi berjaga untuk Aldo.
“Cepat panggil ambulance sekarang!” Teriaknya penuh perintah pada siapa saja yang mendengarnya.
Ada begitu banyak pelanggan di restoran tapi tidak ada yang berani menolong tadi. Cukup miris.
***
Sedangkan di perusahaan, Brina yang sedang meeting bersama beberapa klien penting. Kini mendapatkan sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak dia kenal.
Berulang kali menelpon, tetapi Brina tidak menggubrisnya.
“Permisi, Nona Brina.” Tiba - tiba sekertarisnya masuk, dengan menerobos meeting yang ada.
“Ada apa?!” Tanya Brina, karena dia tahu, kalau sampai sekertarisnya menerobos masuk. Ini berarti adalah hal yang sangat penting.
Sesilia, Langsung mendekat ke arah Brina, untuk membisikkan sesuatu. Membuat Brina membulatkan matanya seketika. “Siapa yang memberitahumu?” Tanya Brina dengan tegas.
“Pihak rumah sakit Nona, tadi mereka melihat nama Anda di panggilan paling teratas, pihak rumah sakit sudah berusaha menguhubungi Anda, namun Anda tidak menjawabnya, makanya mereka menelpon ke saya.” Jelasnya pada Brina.
“Saya mohon maaf, meeting ini saya bubarkan di sini dulu!” Pamit Brina, lalu pergi melangkahkan kakinya begitu saja, tanpa memberikan penjelasaan kepada semua kliennya.
“Apa - apaan ini? Mana bisa dia meninggalkan meeting ini begitu saja.” Seru salah satu Klien yang ada di sana.
“Iya, benar - benar tidak sopan.” Sahut yang lainnya lagi.
“Mohon maaf Tuan - Tuan semua, saya selaku sekertaris dari Nona Brina, memohon maaf sebesar - besarnya, dan memohon pengertian dari kalian semua.” Seru Sesil dengan mendukkan kepalanya sebagai penghormataan maafnya.
“Kenapa kamu yang minta maaf, ini salahnya bosmu itu! Jangan mentang - mentang dia anak dari Mario, dia bisa berlaku seenaknya pada kami!” Sahut yang lainnya, yang tidak mau menerima maaf dari Sesil.
“Mohon maaf Tuan, tetapi suami Nona Brina, sedang mengalami kecelakaan dan sekarang di larikan ke rumah sakit. Kalau kalian ada di posisi Nona Brina, kalian pasti akan melakukkan halnya yang sama ketika pasangan kalian mengalami kecelakaan bukan.” Seru Sesil lagi, dan kali ini kalimat itu mampu membuat mereka semua terbungkam.
“Baiklah, kalau begitu kita undur meeting ini sampai besok! Kalau tidak kami akan menolak kerja sama sini.” Sahut salah satunya lagi, dan langsung merapikan barang - barangnya, di ikuti dengan yang lainnya.
“Baik Tuan, akan saya sampaikan.” Sahut Sesil lagi, dan untuk kali ini dia bisa bernafas legah karena bisa melunakan para klien.
To Be Continue.
Hey teman - teman, jangan lupa ya, untuk Like, Komen, Vote dan jika berkenan memberikan Hadiahnya untuk Mimin. Agar mimin lebih semangat lagi updatenya, biar gakmalas - malasan lagi.
Terima kasih 🙏🏻