
❤️ Happy Reading Bestie ❤️
Setelah menyelesaikan mandinya, Brina memilih untuk menetap di dalam kamarnya. Dia merasa malas untuk keluar apa lagi menghadapi Mommy dan Daddnya.
Sedangkan Aldo, sudah lebih dulu di bawah dan menikmati makan malam bersama yang lainnya.
“Brina tidak turun Do?” Tanya Mario pada menantunya.
“Brina tadi sedang mandi Dad, mungkin setelah mandi dia akan turun.” Jawab Aldo dengan sedikit senyumnya.
“Ada apa?” Tanya Mario, menyadari bahwa Aldo saat ini juga lebih terlihat banyak diam di bandingkan bersuara.
“Tidak ada apa - apa Dad.” Jawab Aldo, yang merasa sedikit risih, ketika mertuanya menatapnya dengan lekat.
Dia bahkan mengalihkan pandanganya ke arah Hanna yang sedang duduk menikmati makan malamnya. “Aldo, apakah menurutmu keputusan Daddy yang mengajarkan Brina untuk hidup mandiri itu salah?” Tanya Mario lagi, dia sejujurnya merasa tidak enak dengan Aldo.
Karena seharusnya Aldolah yang mengambil keputusan untuk Brina, mengingat jika dirinya adalah sosok suami dari putrinya itu.
Tidak ada hak lagi baginya untuk mengambil keputusan untuk Brina.
“Aldo -“ ucap pria itu terhenti, ketika Billy masuk ke dalam ruang makan dan mengejutkan mereka semua.
“Tuan besar.” Ucapnya pada Mario, lalu membisikkan Mario sebuah kabar yang sepertinya kurang mengenakan.
Mario menghela nafasnya, lalu menganggukan kepalanya paham. “Aldo, kamu susulin Brina di atas, bilang Daddy mau bicara, dan Mommy bawa Hanna masuk ke dalam kamarnya!” Perintah Mario pada seluruh anggota keluarganya.
Eden yang sudah terbiasa dengan situasi buruk apapun, langsung menganggukan kepalanya, dan membawa Hanna untuk naik. “Hanna sayang, Grandma punya es krim baru loh, yuk ikut Oma ke atas.” Ajak Eden, menghentikan pergerakan makan cucunya.
“Oke Grandma.” Sahut Hanna, dan langsung turun dari kursinya.
“Bawa makanan sisa Hanna naik Sus, dan jangan lupa air minumnya!” Perintah Eden pada suster Hanna, yang juga ikut menyusul naik ke dalam lift.
Berbeda dengan Aldo, yang sepertinya terdiam sejenak tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. “Aldo! Sekarang!” Perintah Mario lagi, ketika melihat Aldo masih duduk di tempatnya.
Aldo menganggukan kepalanya pelan, lalu segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift dan menunjuk angka 3 di mana kamarnya terletak.
“Sayang,” panggil Aldo ketika sudah sampai di dalam kamar.
Brina menoleh dan melihat Aldo yang sepertinya datang dengan terburu - buru. “Ada apa?” Tanya Brina.
“Daddy memanggil kamu untuk segera turun, aku rasa ada sebuah keadaan yang begitu genting.” Jawab Aldo, memberitahukan pada istrinya situasi di bawah tadi, mulai dari kedatangan Billy dan perintah Mario padanya dan juga pada Mommy Eden.
“Kamu saja lah, aku malas turun ke bawah, malas liat Daddy dan Mommy.” Tolaknya, masih merasa kesal dengan keputusan ke dua orang tuanya.
Aldo mendekat ke arah Brina, lalu mengelus puncak kepala istrinya itu. “Sayang, tidak boleh seperti itu, kamu lupa apa yang aku katakan padamu tadi? Hem?” Kembali Aldo mengingatkan istrinya, agar tidak bersikap seenaknya pada orang tua.
Brina menatap ke dua bola mata Aldo dengan begitu lekat. Lalu tiba - tiba saja Brina memeluk tubuh Aldo dengan begitu erat. “Kamu kenapa?” Tanya Aldo pada istrinya, yang tiba - tiba saja, tidak ada angin, tidak ada hujan langsung memeluknya tanpa harus disuruh seperti biasanya.
Brina menggelengkan kepalanya pelan, lalu dia melepaskan pelukkannya dari tubuh Aldo. “Ayo kita turun.” Ajak Brina, tanpa mengatakan apa pun lagi, namun Aldo kembali terdiam dan menatap istrinya itu dengan lekat, bertanya - tanya ada apa dengan istrinya.
“What? Aku tidak apa - apa, memangnya aku salah kalau aku memeluk kamu?” Brina tahu arti tatapan suaminya itu. Dan segera mungkin dia memberikan sebuah jawaban.
Aldo tersenyum, lalu mengecup kening Brina dengan begitu lembut, “kamu boleh memeluk tubuhku kapanpun kamu mau, selagi aku masih bisa kamu peluk.” Sahur Aldo dengan senyum manisnya. Tidak ada reaksi dari Brina, namun terlihat dari wajahnya jika wanita itu sedang salah tingkah saat ini. Terbukti dari jalannya yang jalan lebih dulu dari pada suaminya.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk ke duanya sampai di bawah, di mana di lantai bawah terlihat Mario yang sedang berdiri dengan membelakangi mereka.
“Dad, ada apa ini?” Tanya Brina, merasa suasana yang begitu tegang.
******
Sedangkan di dalam kamar, Eden yang sedang menyuapi kembali cucunya itu, menatap wajah Hanna dengan begitu lekat. Wajah yang mungil dengan senyum yang kerap kali muncul di wajahnya membuat Eden merasa sejuk melihat keadaan cucunya baik - baik saja, tidak ada trauma atau apapun setelah kejadian Mommy dan Daddynya yang berpisah terlalu lama.
“Grandma,” panggil Hanna, ketika Eden berhenti menyuapinya lantaran melamun.
“Iya sayang, Grandma, maaf ya.” Sahut Eden, kembali menyuapi cucunya yang sempat terhenti tadi.
“Grandma,” panggil Hanna lagi, ketika mulutnya terlihat masih mengunyah.
Eden kembali tersenyum, lalu melihat sebuah buku yang ada di bawah bantal tidur cucunya. “Ini apa sayang?” Tanya Eden pada Hanna.
“Itu buku Grandma.” Jawab Hanna dengan begitu santai.
Hanna berdiri dari tempatnya, lalu mengambil sebuah buku. “Daddy bilang, kalau Hanna mimpi apa pun, harus mencatatnya di buku Grandma, karena kata Daddy mungkin bisa jadi salah satu mimpi Hanna bisa jadi nyata.” Jelasnya lagi, lalu memberikan buku itu pada Eden.
Eden tersenyum, lalu meletakan piring yang dia pegang ke atas meja. “Oh ya, mimpi apa tuh sayang?” Tanya Eden begitu penasaraan.
“Mimpi apa saja Grandma, kalau Hanna ingat, pasti Hanna akan meminta pada suster untuk mencatatnya ke buku itu.” Jawab Hanna lagi, membuat Eden yang penasaraan memilih untuk membukanya.
“Waaahhh, ada tanggalnya juga ya.” Seru Eden, ketika melihat catatan - catatan mimpi Hanna.
Namun pandanganya terfokus dengan Mimpi Hanna yang terakhir, “mendatangi sebuah pemakaman?” Gumam Eden, namun di dengar oleh Susternya Hanna yang berdiri di belakangan Eden.
“Maaf Nyonya besar, tadi pagi saya yang menulis itu, karena nona kecil menceritakan jika dia bermimpi mendatangi sebuah pemakaman.” Jelas susternya Hanna, pada Eden, yang pastinya begitu penasaraan dengan mimpi itu.
“Apakah dia tidak menceritakannya dengan detail?” Tanya Eden lagi. Namun susternya Hanna menjawab dengan gelengan kepalanya menandakan bahwa dia juga tidak tahu secara menyeluruh tentang mimpi itu.
Eden menghela nafasnya, dan menganggap bahwa semua itu adalah bunga dalam mimpi. Karena ada begitu banyak mimpi yang di catatakan di buku itu, jadi tidak mungkin kalau ada yang terwujud yang jelek - jelek, bisa saja malah yang bagus yang terwujud.
Eden terus berdoa untuk setiap keluarganya, agar tidak akan pernah lagi mendapatkan sebuah kesedihan seperti masa lalu. Cukup sekali dia merasakan sakit dan tidak akan pernah lagi dia mau merasakan sakit yang lainnya.
To Be Continue. *
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎
*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻