
❤️ Happy Reading Bestie ❤️
Setelah tentang Marina selesai, barulah Brina kembali menatap Aldo dan Code secara bergantian.
“Aku datang ke sini hanya untuk melihat keadaanmu, aku tidak ada niatan untuk menyakitimu.” Ucapnya pada Aldo, lalu kembali lagi menoleh ke arah Code.
“Aku hanya perlu tahu, siapa yang sudah berbuat seperti ini kepada kamu?” Tanya Brina lagi.
Aldo melihat ke arah Brina sejenak, lalu memgalihkannya lagi menatap ke arah Code. “Bisakah kamu meninggalkan kami ber dua?” Tanyanya pada pelayannya yang paling setia itu.
“Tapi Tuan, saya tidak bisa meninggalkan Anda di saat seperti ini.” Tolak Code tidak mau meninggalkan Tuannya bersama dengan Brina.
“Code, Brina adalah istriku! Tidak mungkin dia ada keinginan untuk menyakitiku, jadi buang jauh - jauh pikiran negarifmu itu kepada Brina.” Seru Aldo lagi, memberikan peringatan kepada pelayannya yang sudah terlalu banyak mengikut campuri urusannya.
Code tersenyum dengan kalimat Tuannya itu. “Mungkin bukan dia yang menyakiti Anda Tuan, tetapi orang - orang di dekatnya lah yang membuat Anda sampai seperti ini.” Sahut Code lagi, merasa bahwa Tuannya ini terlalu naif untuk mengerti tindak kejahataan dari sekeliling istrinya.
“Maksud kamu apa?” Kini Brina kembali lagi tidak terima dengan kalimat yang dituduhkan Aldo kepadanya.
“Keluargaku ataupun anak buahku tidak akan melakukkan apa pun di luar perintah saya!” Tegas Brina, menolak tuduhan Code kepadanya.
Code terlihat mengeluarkan ponselnya lalu menunjukkan sebuah Vidio yang merupakan sebuah rekaman CCTV dari restoran yang tadi di tempati oleh Erlan ketika mengajak Aldo untuk bertemu. Termasuk tempat kejadian di mana Erlan melakukkan semua hal keji itu pada Aldo. Tadi, memang Code langsung meminta CCTV itu kepada pihak restoran, dan berjanji akan membawa Erlan ke pihak hukum.
Brina tersenyum melihatnya, dia sama sekali tidak merasa bersalah atau apapun. “Dia bagiku adalah orang asing, dia bukan termasuk keluargaku, jadi tetap saja tuduhanmu sama sekali tidak beralasan kepada keluargaku!” Ucap Brina, pada Code, membuat pelayan suaminya itu menghilangkan senyum kepuasaanya.
“Code, cukup Code, aku perintahkan kamu untuk keluar dan meninggalkan aku dan istriku di sini!” Perintah Aldo lagi.
“Tapi pria ini adalah mantan tunanganmu kan,” seru Code lagi, sama sekali tidak mendengarkan kalimat Aldo.
“Code!” Sentak Aldo, agar pelayannya itu bisa mengerti dan tidak terus memancing emosi istrinya.
Code menatap Aldo sejenak, lalu dia menundukkan kepalanya dengan hormat. “Baiklah Tuan, saya akan pergi sekarang.” Ucapnya, lalu pergi meninggalkan Aldo dan Brina yang sedang di dalam sana.
Code keluar dengan perasaan marahnya, dia marah karena Aldo berani mengusirnya demi Brina. “Aku hanya menghormati Tuanku, tapi tidak dengan istrinya.” Batin Code, mengingat wajah Brina yang ada di dalam kepalanya.
“Aku juga tidak mau, Tuanku menjadi lemah hanya karena seorang wanita yang seperti itu, aku pasti akan melakukkan apapun demi memisahkan Tuanku dan juga istrinya itu.” Batin Code, sedang memikirkan rencana untuk memisahkan Aldo dan Brina.
Dari lahir, dia hanya di ciptakan untuk mengikuti Aldo, bukan untuk menurut dengan siapapun, apa lagi pada Brina.
Awalnya dia mengira jika Brina akan menurut pada semua perintah Aldo, namun ini justru kebalikkannya. dia benci ketika Tuannya di rendahkan oleh seorang wanita.
“Aku akan melakukkan apa pun untuk Tuanku.” Batinnya lagi, lalu kembali melangkahkan kakinya pergi, karena dia tadi sempat berhenti di dekat ruangan Aldo.
****
“Kenapa kamu mau bertemu dengan Erlan?” Tanya Brina pada Aldo.
Mendengar pertanyaan istrinya itu, Aldo hanya bisa mengalihkan pandanganya ke atas, dan mengusapnya dengan gunsar. “Aku hanya ingin tahu, ada niatan apa dia mengajakku bertemu,” jawab Aldo dengan jujur.
“Aldo, lain kali kalau kamu merasa tidak ada urusan dengan siapapun. Mau di panggil seperti apa pun, bisa tidak kamu abaikan saja? Aku tidak menyalahkan siapapun atau tidak membela siapapun, tapi kalau kamu di panggil oleh Erlan terus datang seperti itu, sama saja itu kamu melayani orang gila.” Tegas Brina, pada Aldo.
“Maafkan aku ya, karena aku menjadi laki - laki yang lemah dan tidak bisa menjadi pelindung untuk kamu.” Ucap Aldo dengan penuh penyesalan.
Brina menganggukan kepalanya pelan, lalu mengusap kepala Aldo dengan lembut. “Aku cukup punya anak Hanna dan calon bayi ini saja, jangan jadi anak aku juga dong.” Balas Brina, membuat Aldo menatapnya dengan lekat.
“Kamu kecewa ya sama aku?” Tanya Aldo pada Brina.
“Kecewa kenapa?” Tanya Brina balik, seakan dirinya tidak mengerti tentang apa yang sedang dibicarakan oleh Aldo.
“Marah, karena aku lemah di depan mantan kekasihmu.” Jawab Aldo lagi, memperbaiki pertanyaan yang tadi.
Brina tersenyum mendengarnya, “Erlan bukan mantan kekasihku, dan aku juga tidak perduli siapa yang lemah dan siapa yang kuat.” Tutur Brina, merasa hal yang sedang di permasalahkan oleh Aldo itu sangat - sangatlah tidak penting.
Aldo menganggukan kepalanya pelan, lalu dia menarik tubuh Brina agar bisa dipeluknya. Aldo melingkarkan tangannya di pinggang Brina, lalu meletakan kepalanya di perut Brina. “Salah tidak sih, kalau aku jatuh cinta sama kamu Rin?” Tanya Aldo, tanpa berani menatap wajah Brina, yang tentu saja saat ini menampilkan wajah bingungnya mendengar pertanyaan suaminya ini.
“Tidak salah, karena aku istrimu, kecuali kalau kamu mencintai gadis lain, itu sudah sangat salah besar.” Jawab Brina dengan serius.
Aldo menganggukan lagi kepalanya pelan. “Kamu mau aku menjadi laki - laki yang kuat?” Tanya Aldo lagi, dan kali ini Brina menanggapinya dengan malas.
“Sekarang tidak perlu ada yang kuat atau lemah, bagiku semuanya sama saja!” Tegas Brina lagi, dan itu membuat Aldo baru berani menantap wajahnya dengan lekat.
“Do you love me?” Tanya Aldo lagi, entah ada apa dengan pria itu, seakan - akan dia ingin manja saat ini.
Brina tidak ada niat untuk menjawab pertanyaan Aldo itu, “sini,” ajak Aldo, meminta untuk Brina ikut naik ke atas tempat tidurnya.
“Kamu akan bermalam di sini?” Tanya Brina, yang belum bertemu dokter yang merawat Aldo tadi.
Namun, Aldo malah menjawab dengan gelengan kepalanya pelan. “Aku akan pulang sore ini, boleh atau tidak boleh, aku akan tetap pulang, karena Hanna pasti akan mencariku.” Jawab Aldo, yang membuat Brina mengerti apa yang di inginkan suaminya.
“Brina,” panggil Aldo, ketika Brina kini berada di dalam dekapannya.
“Hemmm,” sahut Brina, karena dia sambil memejamkan matanya.
“Kalau aku jatuh cinta sama kamu, apakah kamu juga akan jatuh cinta sama aku?” Tanya Aldo, membuat Brina kembali menyeritkan keningnya bingung.
“Dari sekian banyaknya pertanyaan, kenapa kamu hanya menanyakan hal ini?” Tanya Brina, merasa sangat kesal sekali, kenapa Aldo makin lama terasa seperti anak remaja yang baru mengenal cinta saja.
To Be Continue.
Hey teman - teman, jangan lupa ya, untuk Like, Komen, Vote dan jika berkenan memberikan Hadiahnya untuk Mimin. Agar mimin lebih semangat lagi updatenya, biar gakmalas - malasan lagi.
Terima kasih 🙏🏻